Thursday, 27 February 2020

Din Syamsuddin: Manusia diciptakan sebagai Khilafah Peradaban

Din Syamsuddin: Manusia diciptakan sebagai Khilafah Peradaban

Foto: Din Syamsuddin, moderator, bersama para panelis ( dari kiri ke kanan): Ms. Laura Vargas (Peru), Amb. Elizabeth Thompson )Barbados), Charles McNeil (UNEP), dan Mother Marie-Jossie Tardif (Kanada).

New York, Swamedium.com — Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin pada 11-12 Desember 2019 berada di New York untuk hadir dalam Multi-Religious Partnership for Peace and Development, yang diselenggarakan oleh Religions for Peace (RfP). Pertemuan dihadiri sekitar 250 tokoh berbagai agama dan pegiat perdamaian dunia dari berbagai negara. Din Syamsuddin hadir sebagai Anggota International Council RfP dan President-Moderator Asian Conference on Religions for Peace (ACRP).

Pertemuan dua hari tersebut, yang merupakan kelanjutan World Assembly dari RfP di Lindau, Jerman, Agustus 2019 lalu, membahas isu-isu pencegahan dan transformasi konflik, solusi kerusakan lingkungan hidup, pengembangan kolaborasi lintas agama.

Din Syamsuddin tampil pada hari pertama sebagai moderator sesi tentang kerusakan lingkungan hidup dan solusi perubahan iklim.

“Masalah kerusakan lingkungan hidup telah sampai pada tahap krisis yang serius. Hal ini ditandai dengan terjadi perubahan iklim dan pemanasan global yang melanda dunia terakhir ini, serta berbagai bencana alam yg terjadi beruntun di berbagai belahan dunia,” kata Din Syamsuddin.

Menurut Din, memang krisis lingkungan hidup tersebut berdimensi banyak, namun sejatinya bersifat krisis moral. Memang banyak faktor picu terhadap terjadinya krisis lingkungan hidup, dari wawasan dan gaya hidup manusia modern hingga kebijakan negara dan kekerasan pemodal (capital violence), namun yang tidak bisa diingkari adalah pandangan moral manusia terhadap alam yang keliru.

Banyak manusia modern, lanjut Din Syamsuddin, yang menjabat sebagai Ketua Pengarah Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi), memandang alam lebih sebagai obyek dari pada subyek. Akibatnya, terhadap alam manusia lebih tampil sebagai perusak tinimbang pengembang. Padahal agama, menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini, mengajarkan bahwa alam, yang disebut al-Qur’an sebagai ‘thabi’ah’, mengandung arti subyek bukan obyek (‘mathbu’).

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.