Rabu, 12 Mei 2021

Jeritan Korban Kebrutalan Aparat di Tamansari Bandung

Jeritan Korban Kebrutalan Aparat di Tamansari Bandung

Foto: Posko 'Tamansari Melawan'

Bandung, Swamedium.com — Penggusuran rumah di RW 11, Kelurahan Tamansari kontradiktif dengan penghargaan Kota Peduli Hak Asasi Manusia (HAM) yang didapatkan Pemerintah Kota Bandung. Pemerintahan yang dipimpin Oded M. Danial dianggap sudah memperlakukan warga dengan semena-mena.

Banner Iklan Swamedium

Menurut salah seorang warga terdampak, Eva Eryani Effendi menilai, penghargaan Kota Peduli HAM harus diaplikasikan melalui kebijakan. Penggusuran yang diwarnai kericuhan tidak mencerminkan semangat HAM.

“Katanya peduli (HAM), tapi enggak punya hati. Sudah dinyatakan peduli tapi tidak peduli. Seharusnya mereka (Pemerintah Kota Bandung) mengerti dulu HAM, harusnya dilaksanakan,” kata dia saat dihubungi, Jumat (13/12).

“Soal gugatan mengenai Tamansari ini masih berlangsung di PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara), dua minggu lagi ada hasil. Kenapa kami digerus? Apakah (Oded) tidak baca adanya surat BPN, kalau ada land clearing harus ada dulu mufakat dengan warga,” ia melanjutkan.

Diberitakan sebelumnya, Oded sudah menemui sejumlah warga dan mengklaim sudah ada kesepakatan mengenai uang kompensasi sebesar Rp 26 juta untuk mengontrak rumah selama setahun. Namun, ia membantah mengenai kesepakatan yang dimaksud.

“Dia datang ke RW 12 sementara yang ketimpanya RW 11. Yang dimaksud Walikota warga yang setuju dia itu siapa? Dia (Walikota) tidak datang kepada kami. Rumah kami sudah enggak ada sekarang,” imbuhnya.

Penggusuran yang terjadi pada Kamis (12/12) itu merupakan kali kedua yang terjadi. Penggusuran ini berawal dari rencana Pemerintah Kota Bandung tahun 2017.

Ridwan Kamil yang saat itu masih menjabat walikota, berencana membangun proyek rumah deret di kawasan pemukiman padat tersebut. Ada sebagian warga yang bersedia direlokasi ke Rusunawa Rancacili, lainnya memilih bertahan dan menggugat ke PTUN Bandung.

Sebelum penggusuran yang kedua kali itu, di RW 11 yang bertahan dari penggusurah pertama sekitar 34 KK dari total 200 KK. Setelah penggusuran, banyak warga yang memilih tinggal di masjid yang berlokasi di sekitar pemukiman.

“Semalam ada yang tidur di masjid, ada anak-anak juga. Ada sebagian dari warga mendatangi saudaranya. Ini mau ngobrol sama warga yang lain untuk mencari solusi. Tapi intinya kami menolak penggusuran ini. Uang kompensasi juga enggak sebanding. Rumah kita sudah hancur,” terang dia.

“Salah satu fokus yang kami pikirkan juga adalah anak-anak. Mereka tetap harus tumbuh dengan baik,” pungkasnya.

Sumber: Merdeka

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita