Rabu, 03 Juni 2020

Estetika ‘Mendol Kecing’ yang Tak Tergantikan

Estetika ‘Mendol Kecing’ yang Tak Tergantikan

Foto: Mendol Kecing. (Nadeem)

Iya, kuliner yang terbuat dari bahan tempe bosok, yang dicampur dengan bumbu-bumbu dari rempah-rempah yang disediakan oleh alam tersebut terlahir dari kreativitas masyarakat penggenggam budaya yang mengerti agama. Masyarakat lampau yang tidak memiliki sifat konsumtif layaknya masyarakat zaman now.

Kuliner yang berbentuk lonjong bulat (kadang dibikin pipih) ini mengandung prinsip kebudayaan, menampakkan identitas adat istiadat, penuh estetika yang terbungkus dalam keteguhan etika dengan cita rasa, karsa, dan seni yang tinggi dalam penciptaanya. Termasuk saat ‘ngepeli’ (membentuknya dengan tangan). Hingga bentuk, rasa, dan aromanya tidak pernah berubah sejak lampau hingga saat ini.

Mendol alias Menjeng ini memiliki rasa khas dan aroma memikat ketika digoreng. Terutama saat turun hujan. Rasa dan aroma yang biasa di sebut ‘kecing’ tersebut mampu menghipnotis siapapun yang mencium baunya. Memunculkan appetizer dalam tubuhnya. Hingga membuatnya lapar.

Kecing, estetikanya tersimpan kuat secara kognitif maupun afektik di otak para penikmat Mendol, takkan tergantikan oleh apapun dan sampai kapanpun.

Wahai para ibu-ibu dan orang tua zaman now. Kenalkan anak-anak sampeyan dengan makanan tradisional. Kenalkan mereka dengan budaya kuliner nusantara warisan orang tua. Jadikan mereka manusia yang bisa menghargai kreativitas sebagai adat-istiadat keluarga agar mampu memahami budaya.

Budaya masyarakat lampau yang minim literasi, tak mengenal digitalisasi, tapi mampu memahami dan mengaplikasikan ilmu yang dimiliki, serta meyakini apa yang dipelajari.

Salam Mendol Kecing. (*)

*Penulis: Achmad Fuad Nadim (Penikmat Kuliner)

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.