Senin, 18 Januari 2021

Ular Kobra Bukan Teroris

Ular Kobra Bukan Teroris

Jakarta, Swamedium.com — Ramai pemberitaan tentang ditemukannya ular kobra di perumahan dan hunian perkotaan padat penduduk, di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi. Bahkan penemuan puluhan ular kobra ini juga terjadi di beberapa kota besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Banner Iklan Swamedium

Meski yang ditemukan adalah ular kobra anakan, tetap saja itu kobra. Ular dengan bisa paling mematikan.

Ular dengan nama latin Naja Sputatrix alias Kobra Jawa yang banyak ditemukan di perumahan kota padat penduduk ini memiliki bisa neurotoksin yang melumpuhkan saraf-saraf dan otot-otot si korban dalam hitungan menit.

Masyarakat jawa menyebutnya ulo sendok. Sedangkan orang pasuruan menyebutnya ulo enthong

Selain mematikan, ular ini mampu menyemprotkan bisanya dari jarak beberapa meter. Bisa yang apabila terkena selaput bola mata tentu akan merusakkan mata sang korban. Bisa jadi menyebabkan kebutaan bagi korban, bahkan kematian. Ngeri!

Oleh karena bahaya bisanya tersebut, banyak orang takut dengan ular ini. Termasuk saya.

Apalagi kemunculan ular ini ditempat yang tidak biasa: di perumahan dan pemukiman padat penduduk. Sementara habitat ular ini adalah di persawahan, area hutan dan kebun, atau wilayah-wilayah desa yang masih ‘rumbut’, banyak pohon dan semak belukar. Oleh karena itu, kemunculan ular kobra di perumahan dan pemukiman diasumsikan masyarakat perkotaan dan diberitakan oleh media sebagai “Serangan” bahkan “Teror”.

Padahal sejatinya, itu ular-ular kobra yang muncul di perumahan dan di perkotaan tidak ada satupun yang nyerang maupun melakukan teror dengan menakut-nakuti manusia. Mereka hanya muncul dan lewat saja di hadapan manusia. Cuma, manusia kota sendiri yang terlanjur takut (bahkan paranoid) dengan ular ini. Di dalam kasus ini juga ada peran media yang hobby menakut-nakuti. Sehingga kemudian, cerita kemunculan ular ini dilebih-lebihkan dengan menyebutnya sebagai serangan maupun teror. Lebay memang! Tapi juga patut waspada.

Para ahli dan pengamat binatang reptil menyebut bahwa saat ini memang musim menetasnya telur ular kobra. Penelitian Biologi LIPI, Amir Hamidy menjelaskan bahwa awal musim penghujan adalah waktu awal telur-telur ular menetas. Hal senada juga disampaikan Ketua Taman Belajar Ular Indonesia, Erwandi Supriadi yang menyebut bulan November, Desember, dan Januari musim menetas bibit kobra. Hal ini dikuatkan oleh hasil pengamatan dia selama 5-6 tahun belakangan mengenai ular kobra ini.

Nah, sekarang yang jadi masalah adalah pemangsa telur ular kobra ini seperti luwak (musang), biawak, garangan sudah jarang ditemukan. Habis diburu manusia untuk dimakan dan (katanya) dibuat obat. Senasib dengan indukan kobra yang juga diburu oleh manusia untuk disajikan di restoran kobra. Juga pemburu ular utama seperti burung hantu ikut habis diburu untuk dipelihara dalam kurungan. Musang bahkan dipaksa ber-evolusi oleh manusia menjadi mesin industri penghasil uang dengan dicekoki kopi agar bisa memproduksi kopi mahal.

Maka wajar saja kemudian banyak anak kobra sukses terlahir dan banyak bertebaran di mana-mana. Karena bisa dibilang penetasan telur kobra kali ini sukses. Sebabnya, tidak ada lagi hewan predator pemakan (pemburu) telor ular.

Sesuai hukum alam bahwa populasi akan meningkat jika pemangsanya tidak ada lagi. Kita sudah pelajari materi ekosistem ini sejak SMP.

Nah, fenomena munculnya ular kobra di perumahan dan hunian pada penduduk di kota-kota besar ini telah menunjukkan kepada kita bahwa ekosistem telah rusak. Keseimbangan ekosistem telah hancur. Bisa jadi saat ini kita sudah sampai pada fase bencana ekologi. Apa penyebabnya? Ya tentu saja ulah pemuncak rantai makanan: Manusia!

Semoga fenomena kemunculan ular kobra di perumahan dan hunian di berbagai kota di Indonesia ini tidak lantas menjadi alasan pembenaran ‘pembantaian’ ular kobra dan ular-ular lainnya dengan ‘menghabisi’ populasinya.

Karena, ular kobra dan ular-ular lainnya adalah bagian dari rantai makanan. Ular kobra adalah pemangsa hewan-hewan pengerat yang menjadi hama dan pembawa penyakit seperti tikus.

Jika hari ini kita teriak-teriak “Teror Ular Kobra” sambil menghabisi populasinya, maka bukan tidak mungkin besok, tahun depan, kita akan teriak-teriak “Teror Tikus”. Tentu karena populasi tikus akan meningkat tajam.

Sementara kucing-kucing di rumah kita sudah terbiasa makan biskuit kucing macam whiskas, tak lagi doyan tikus, para tikus pun akan dengan santai menggerogoti lemari kita, mengacak-acak makanan kita, mencabik-cabik baju kita, karena tidak ada lagi hewan pemangsannya. Sambil menularkan penyakit Pes dan Lestopirosis kepada keluarga kita.

Jadi siapa sebenarnya pelaku teror (teroris)nya: ular kobra, tikus, atau kita sendiri manusia? (*)

*Penulis: Achmad ‘Nadeem’ Fuad

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita