Jumat, 27 November 2020

Reynhard Sinaga, ‘Predator’ 159 Pria Dikenal Sering Beribadah ke Gereja Manchester

Reynhard Sinaga, ‘Predator’ 159 Pria Dikenal Sering Beribadah ke Gereja Manchester

Peringatan: Artikel ini berisi keterangan detil mengenai tindak kekerasan perkosaan

Manchester, Swamedium.com — Pengadilan Manchester menjatuhkan hukuman seumur hidup atas Reynhard Sinaga dalam empat sidang terpisah sejak Juni 2018 sampai Desember 2019.

Reynhard Sinaga, seorang pria asal Indonesia, beragama Kristen, dihukum seumur hidup oleh Pengadilan Manchester, Inggris dalam 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria, selama rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017.

Reynhard digambarkan oleh keluarganya sebagai sosok yang rajin pergi beribadah ke Gereja. Namun fakta akhirnya terkuak ternyata ia adalah seorang homo (LGBT) yang sangat sadis.

Di antara 159 kasus tersebut terdapat 136 perkosaan, di mana sejumlah korban diperkosa berkali-kali. Berdasarkan sistem hukum Inggris, identitas korban perkosaan, termasuk nama tidak boleh diungkap seumur hidup kecuali korban memilih untuk membuka jati dirinya.

Hakim Suzanne Goddard dalam putusannya pada Senin (06/01) menggambarkan Reynhard sebagai “predator seksual setan” yang tidak menunjukkan penyesalan.

Hakim memutuskan Reynhard harus menjalani minimal 30 tahun masa hukumannya sebelum boleh mengajukan pengampunan.

Beraksi di Kota Manchester

Satu kawasan di pusat Kota Manchester selalu ramai di kunjungi anak-anak muda pada malam hari, terutama akhir pekan.

Di apartemen di jalan inilah, Reynhard Sinaga, tinggal sejak 2011, area tempat dia mencari sasarannya secara rutin, malam demi malam, mulai Januari 2015 sampai tertangkap pada 2 Juni 2017.

Dalam satu kasus, Reynhard hanya memerlukan 60 detik untuk mendapatkan sasaran pria muda. Sejak awal persidangan, Reynhard menyanggah ia memperkosa mereka dan mengatakan hubungan itu dilakukan atas dasar suka sama suka, walaupun bukti di pengadilan menunjukkan para korban yang diperkosa tidak sadar.

Reynhard, tampak sering tersenyum, ramah dan berperawakan kurus, penampilan yang tidak membuat targetnya curiga.

Keramahan inilah yang membuat sekitar 190 pria muda menerima ajakannya untuk melanjutkan perbincangan di apartemennya – lokasi tempat dia membius dan memperkosa korbannya – sebagian berkali-kali.

Kesan terhadap Reynhard ini disebutkan oleh 48 korban pria muda yang kasusnya telah disidangkan, dalam empat tahap, mulai Juni 2018 sampai Desember 2019.

Sekitar 70 korban lain masih belum diidentifikasi.

Kepolisian Manchester Raya, Inggris dapat mengetahui jumlah korban sebesar ini karena Reynhard Sinaga memfilmkan semua aksinya.

Reynhard Sinaga dihukum seumur hidup dengan masa hukuman minimal 30 tahun berada di penjara oleh Pengadilan Manchester, Inggris pada Senin (6/1).

Ia terbukti melakukan 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 orang pria, selama rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017.

Di antara 159 kasus tersebut terdapat 136 kasus perkosaan, di mana sejumlah korban diperkosa berkali-kali.

Pemerkosaan direkam seperti layaknya di 1.500 DVD

Kepala unit kejahatan khusus, Kepolisian Manchester Raya, Mabs Hussain mengatakan bukti video yang direkam melalui dua telepon genggam Reynhard seperti halnya menyaksikan “1.500 film DVD”.

Hussain mengatakan penyidikan dua tahun kasus pemerkosaan yang disebut “Operation Island”, Operasi Pulau, ini seperti layaknya menyusun “teka-teki tanpa gambar”.

Kepolisian dan kejaksaan menyebut kasus ini adalah penyelidikan perkosaan terbesar dalam sejarah Inggris, dan aparat menyerukan kepada korban-korban lain untuk melapor.

Ian Rushton, dari Kantor Kejaksaan yang memimpin penyelidikan kasus, mengatakan Reynhard Sinaga kemungkinan adalah “pemerkosa terbesar di dunia.”

Reynhard berasal dari keluarga mapan yang tinggal di Depok, Jawa Barat. Ia merupakan anak tertua dari empat bersaudara.

Ayahnya adalah pengusaha yang bergerak di sejumlah bidang.

Reynhard lulus dari fakultas teknik jurusan arsitektur di Indonesia pada 2006 dan melanjutkan studi ke Inggris setahun setelah itu.

Ia meraih tiga gelar magister di Manchester. Ia tengah melanjutkan studi doktoral di Universitas Leeds saat tertangkap, tapi tetap tinggal di Manchester.

Dari penuturannya, Reynhard diketahui pernah bekerja sebentar di dua klub sepak bola Manchester, toko baju dan juga di bar di Gay Village, kawasan yang sering dikunjunginya.

Ia juga sering beribadah di salah satu gereja di kota itu.

Sasaran Reynhard adalah pria muda – sebagian besar berusia 20 tahunan – yang pada umumnya tengah berkumpul dan minum-minum bersama rekan-rekan mereka di klub-klub malam.

Banyak di antara mereka yang begitu mabuk dan tidak ingat pertemuan dengan Reynhard dan hanya beberapa yang ingat momen saat diajak ke apartemennya, namun setelah itu tak ingat apa-apa lagi.

Di sebagian rekaman, Reynhard tampak meniduri para pria muda yang tidak sadar, di sebagian lainnya terlihat ada yang muntah sementara Reynhard terus menjalankan aksinya.

`Racun rahasia untuk membuatmu jatuh cinta`

Untuk mengidentifikasi para korban ini, para detektif menggunakan rekaman film dan “trofi” berupa barang milik korban yang diambil Reynhard termasuk dompet, jam tangan, kartu identitas serta unduhan akun media sosial.

Para penyidik juga menggunakan teknologi pengenalan wajah, bekerja sama dengan universitas dan lembaga-lembaga terkait di seluruh Inggris untuk mencari tahu korban.

Para petugas polisi juga menelusuri apakah Reynhard sampai membunuh korban, dengan meneliti kasus kematian atau orang yang hilang. Namun tidak menemukan bukti tersebut.

Setelah mengetahui identitas korban, para petugas mengontak korban dan memberi tahu bahwa mereka adalah korban serangan seksual.

Lisa Waters dari St Mary`s Sexual Assault Referral Centre , Pusat Bantuan Serangan Seksual St Mary`s, Manchester mengatakan para petugas dengan didampingi detektif melakukan kontak pertama dengan korban dan “langsung menawarkan bantuan konseling”.

Waters mengatakan bahwa memberi tahu korban apa yang terjadi merupakan sesuatu yang sangat sulit.

Sebagian korban, menurut Waters, memilih untuk tidak memberi tahu siapa pun, karena berbagai alasan, termasuk untuk melindungi kejiwaan mereka sendiri, malu, atau bahkan takut untuk menghadapi tanggapan orang.

Reynhard, juga terungkap memberi tahu sejumlah temannya – yang tak curiga apa pun – tentang aksinya karena dia mengatakan berbagai hubungan seks itu atas dasar suka sama suka.

Dalam satu pesan teks tentang korban pertama yang memberikan kesaksian di pengadilan, Reynhard sempat memamerkan apa yang terjadi pada malam tahun baru 2014.

“Saya tidak dapat ciuman tahun baru, tapi saya sudah melakukan hubungan seks pertama tahun 2015,” tulisnya dan menambahkan pria yang dimaksud “adalah pria heteroseksual pada 2014, dan 2015 adalah terobosan dalam dunia gay, hahaha.”

Dalam percakapan teks lain ia sempat membual tentang kemahirannya menggaet pria “heteroseksual” dan menulis,” Teguk racun rahasiaku, saya akan membuatmu jatuh cinta.”

Pejabat polisi Manchester Mabs Hussain mengatakan mereka memperkirakan Reynhard melakukan tindak kejahatan sekitar 10 tahun, jauh lebih lama dari periode dua setengah tahun berdasarkan bukti yang ada, mulai dari Januari 2015 sampai ia ditahan pada Juni 2017.

Tim penyidik telah berbicara dengan sejumlah pria, yang diidentifikasi berdasarkan bukti foto-foto yang diambil sebelum 2015.

Mereka ingat pernah berada di apartemen Reynhard namun tak ingat apa yang terjadi dan tak ada bukti lebih lanjut bahwa mereka diperkosa.

Reynhard memberikan pembelaannya pada sidang pertama, Juni 2018 dan pada sidang keempat, Desember 2019, dengan menyatakan apa yang disebut hakim sebagai “pembelaan yang tidak masuk akal”.

Reynhard menyebut setiap korban setuju untuk dipenetrasi sambil berpura-pura tidur untuk menjalankan “fantasi seks”nya.

Selama empat persidangan yang berlangsung, hakim melarang media memberitakan proses hukum kasus ini untuk memastikan persidangan berjalan adil.

Larangan baru dicabut setelah hakim mengeluarkan putusan pada Senin (06/01).

Peradilan Inggris dengan sistem juri dalam kasus perkosaan ini menggunakan empat tim juri yang berbeda.

Dalam sidang terungkap, saat pertemuan awal dengan para pria muda itu , tidak ada pembicaraan terkait seks, dan Reynhard menggunakan berbagai cara untuk mengajak sasarannya.

Sebagian diajak minum, sebagian mencas telepon genggam mereka sambil menunggu taksi untuk pulang.

Dari 48 orang pria muda – semua adalah pria kulit putih Inggris – yang kasusnya telah disidangkan, 45 orang adalah heteroseksual dan tiga gay. Sebagian besar tinggal di Manchester.

Kesaksian mereka di persidangan menunjukkan bagaimana Reynhard beraksi.

Semua bukti rekaman video yang direkam Reynhard sendiri menunjukkan pria yang diperkosanya tak sadar.

Namun pria kelahiran Jambi ini tetap menekankan bahwa “para pria itu berpura-pura tidur” sebagai bagian dari permainan “fantasi seks”.

Bangun keesokan hari dengan celana terbuka

Dua korban memberikan kesaksiannya dalam dua sidang yang dihadiri BBC News Indonesia Desember lalu.

Pada Selasa pagi 3 Desember 2019, sekitar pukul 10:30 pagi, setengah jam sebelum Hakim Suzanne Goddard masuk ruang sidang Pengadilan Manchester, Reynhard masuk didampingi dua petugas.

Dia mengenakan sweater (baju hangat) krem dan celana hitam, berkaca mata dan membawa seberkas dokumen.

Reynhard tampak beberapa kali berbicara dengan para petugas sebelum hakim masuk.

Hari itu, sidang menghadirkan saksi pertama, seorang pria yang diperkosa Reynhard pada 2015.

Korban pertama yang dihadirkan duduk di balik tirai.

Reynhard dan pengunjung sidang termasuk media yang hadir diminta untuk keluar terlebih dahulu sebelum korban dihadirkan dan duduk dibalik tirai.

Hanya hakim, 12 anggota juri, jaksa dan kuasa hukum yang dapat melihat korban yang memberikan kesaksiannya.

Dari empat pengadilan terpisah sejak Juni 2018 sampai Desember 2019, hanya beberapa korban memberikan kesaksian tanpa sekat.

Sepanjang sidang pada 3 Desember sekitar lima jam itu, Reynhard sering menyisir rambut panjangnya yang belah pinggir, dengan jari-jarinya.

Reynhard juga tampak mendengarkan keterangan korban sambil sekali-sekali menunduk untuk mencatat.

Jaksa penuntut, Iain Simkin yang pertama kali mengajukan pertanyaan kepada korban, termasuk di mana korban bertemu dengan Reynhard dan mengapa sampai akhirnya ia bisa sampai terbangun di apartemen pria Indonesia itu.

Korban yang saat kejadian berusia 19 tahun tersebut mengatakan ia pergi minum-minum dengan rekan-rekan dan pacarnya pada Sabtu malam, 24 Januari 2015.

Saat ditanya apakah dia dalam keadaan mabuk, pria itu mengatakan dalam kondisi cukup mabuk.

Ia bersama pacar dan teman-temannya berada di satu klab malam dan keluar dari klab karena bertengkar dengan sang pacar.

“Saya ingat dia mengajak saya ke tempatnya,” kata pria itu dan menambahkan Reynhard “tampak baik” sehingga ia bersedia diajak.

Ia ditawari satu gelas minuman keras dan mengatakan merasa mual dan tak ingat apa-apa lagi setelah itu.

Saat ditanya jaksa penuntut apa yang ia rasakan saat terbangun pada pukul 10.00 pagi keesokan harinya, pria itu mengatakan “sangat hangover (sakit kepala berat setelah mabuk)”.

Bagaimana dengan kondisi pakaian, tanya jaksa, dan dijawab “celana dalam keadaan terbuka”.

Korban juga mengatakan pacarnya mencarinya sepanjang malam dan menelepon polisi.

“Saya dapat cowok 19 tahun”

Sebelum menghadirkan korban, jaksa penuntut memutar vi­deo perkosaan yang direkam oleh Reynhard sendiri dan dipertontonkan ke 12 juri melalui beberapa monitor TV di meja.

Dalam vi­deo berdurasi tiga menit itu – yang tidak diperlihatkan ke arah pengunjung dan media – terdengar suara orang mendengkur.

Jaksa penuntut mengatakan apa yang dialami korban pria itu serupa dengan apa yang dialami oleh para korban lain.

Korban tengah keluar di klab malam, “terpisah dengan pacar dan rekan-rekannya dan menjadi target terdakwa,” kata jaksa.

“Rekaman itu sangat menggambarkan tindakan kriminal Reynhard Sinaga, yang dilakukan berulang kali dan lagi terhadap semua korban yang ada dalam dakwaan,” kata jaksa.

“Pria umur 19 tahun ini terlentang tak sadarkan diri di lantai apartemen terdakwa dan terdakwa menurunkan celana dan celana dalam sampai ke paha dan bajunya ditarik ke atas.”

Saat ditanya jaksa penuntut apakah ia sempat berbicara dengan Reynhard pada keesokan paginya, korban mengatakan ia bertanya apa yang terjadi dan dijawab bahwa “Saya tidak sadar.”

Sejumlah pertanyaan yang diajukan pengacara Reynhard, Richard Litter, antara lain, apakah korban memang mau diajak ke apartemen untuk bereksperimen berhubungan seksual sesama jenis.

Pertanyaan yang langsung dijawab “tidak” oleh korban.

Pacar korban pertama yang memberikan kesaksian ini juga dihadirkan sebagai saksi.

Perempuan yang pada saat kejadian disebutkan berumur 20 tahun bercerita bagaimana ia mencari pacarnya dengan menelepon teman-temannya dan juga polisi.

Setelah mendengarkan kesaksian korban pertama dalam sidang keempat ini, jaksa membacakan pesan teks yang dikirimkan Reynhard kepada teman-temannya.

Sejumlah teks antara lain berbunyi, “Saya dapat cowok 19 tahun tadi malam yang lagi bertengkar dengan pacarnya yang menyebalkan. Tapi pagi ini, baru tahu kalau pacarnya menelepon seluruh dunia bahwa ia hilang telepon teman, ibu dan polisi,” tulis Reynhard.

Pesan lain Reynhard kepada temannya berbunyi, “Dia menggairahkan, dan tinggi, cowok baik, kalem dan menyenangkan. Dia pantas mendapat cewek yang lebih baik atau cowo hahaha. Ya, yang pertama buat dia (berhubungan sesama jenis)”

Diperkosa lima kali

Saksi terakhir pada persidangan keempat yang dihadirkan pada Kamis 12 Desember 2019 adalah korban yang pada saat kejadian berumur 20 tahun.

Jaksa mengatakan sama seperti korban-korban perkosaan berantai lainnya, “korban terbangun di apartemen terdakwa, tak ingat apa pun, tidak memberikan persetujuan untuk difilmkan atau difoto dan tidak memberikan persetujuan untuk berhubungan seks dengan Reynhard Sinaga.”

“Ia juga mengira terdakwa hanya membantunya, namun faktanya Reynhard Sinaga memperkosanya lima kali.”

Pada malam kejadian, Kamis 27 April 2017, korban pria ini bersama sejumlah teman-temannya pergi ke klab malam, yang tak jauh dari tempat tinggal Reynhard.

Selama persidangan yang dihadiri BBC News, Reynhard tampak riang saat memasuki ataupun keluar dari ruang sidang.

Hakim menyebutkan ia tampak “menikmati jalannya sidang”.

Mungkin jumlah korban yang sesungguhnya tak pernah diketahui.

Dalam persidangan yang melibatkan 48 korban pria muda dalam tindak perkosaan selama rentang waktu dua setengah tahun ini terungkap, para pria muda dalam keadaan rentan – mabuk dan tersesat- yang menjadi korban Reynhard.

Jaksa dan polisi menyatakan Reynhard menggunakan obat bius GHB untuk membuat korbannya tidak sadar.

Namun aparat tidak menemukan jejak obat bius di apartemen Reynhard.

Di sisi lain, para pakar mengungkapkan dalam persidangan, gejala yang ditunjukkan para korban pria konsisten dengan orang yang keracunan GHB – obat bius berupa cairan bening atau bubuk yang tak berbau.

Obat yang pada awalnya diproduksi untuk tujuan medis – saat ini dikategorikan sebagai obat terlarang – mudah larut dalam cairan.

Dalam periode 10 tahun sampai 2017, obat bius ini menyebabkan 200 kematian di Inggris. Empat korban di antaranya digunakan pembunuh berantai di Inggris Stephen Port.

Seperti halnya Reynhard, Port menggunakan obat bius ini untuk melakukan perkosaan.

Para pegiat mengatakan pemerintah Inggris tidak berbuat cukup untuk menangani penyalahgunaan obat GHB untuk mencegah korban lebih lanjut.

Dampak terhadap para korban perkosaan oleh Reynhard, parah.

Lisa Waters dari Pusat Bantuan Serangan Seksual, St Mary`s Sexual Assault Referral Centre, mengatakan “sebagian pria sangat sulit untuk melakukan kegiatan sehari-hari.”

Dampaknya bagi para korban antara lain ada yang menggunakan obat bius, tak bisa bekerja lagi, tak bisa melanjutkan studi di universitas dan ada yang merasa tak berguna lagi dalam keluarganya sehingga meninggalkan keluarganya.

Waters menambahkan, “Sebagian korban bahkan mencoba bunuh diri dan kami mencoba membantu mereka dan berusaha memastikan mereka merasa aman.”

Kepolisian Manchester Raya menyatakan “jumlah korban yang sesungguhnya” dari Reynhard Sinaga di luar rentang waktu Januari 2015 sampai Juni 2017 mungkin tidak pernah diketahui.

Namun kepolisian menyerukan untuk siapapun yang ingat pernah berada di apartemen Reynhard Sinaga di Manchester untuk melapor.

Selama empat persidangan terpisah, Reynhard sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atau simpati terhadap korban.

Ia selalu mengatakan bahwa semuanya “dilakukan atas dasar suka sama suka”. Ia juga mengklaim bahwa apa yang ia lakukan bersama korban adalah bagian dari “fantasi seksual”.

Pemerkosa berantai terbesar dalam sejarah Inggris ini kini mendekam di penjara Manchester seumur hidup.

Sumber: Vivanews

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.