Kamis, 24 September 2020

2020, Saatnya Membenahi Dakwah!

2020, Saatnya Membenahi Dakwah!

Jakarta, Swamedium.com — Seruan Perang Salib dikumandangkan pada tahun 1095 M. Segerombolan orang dengan segera menyusun kekuatan dan berangkat secara terburu-buru untuk melakukan penyerangan ke al-Quds, namun perjalanannya terhenti di sekitar Anatolia, Turki.

Rombongan berikutnya, yang lebih terlatih dan teratur barisannya, jauh lebih sukses. Empat tahun kemudian, al-Quds berhasil mereka kuasai dalam sebuah peristiwa berdarah yang sulit dicari pembandingnya. Hampir sembilan dekade lamanya al-Quds terlepas dari tangan umat Islam sebelum akhirnya direbut oleh pasukan yang dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi.

Pada saat itu, Imam al-Ghazali telah memiliki reputasi yang sangat tinggi. Sebagai murid dari Imam al-Juwaini dan mantan Kepala Madrasah an-Nizhamiyyah di Baghdad, ibukota kekhalifahan Islam pada era Daulah ‘Abbasiyyah, banyak orang berharap kepada dirinya.

Akan tetapi, beberapa tahun sebelum pendudukan al-Quds, yaitu setelah sahabatnya, Nizham al-Mulk, terbunuh, al-Ghazali telah mengundurkan diri dari seluruh jabatannya yang mentereng. Al-Ghazali menyibukkan diri dengan merenungkan kondisi masyarakat Islam pada masa itu yang sudah kacau balau, dan kejatuhan al-Quds hanya menambahkan pedih bagaikan cuka yang dituangkan ke atas luka.

Tidak sedikit orang yang kecewa pada al-Ghazali. Beliau adalah tokoh besar, namun seolah “abai” terhadap jihad, justru ketika umat harus disemangati. Karya tulisnya sangat banyak, namun hampir tak ada yang berbicara tentang jihad.

Akan tetapi, Dr Majid ‘Irsan al-Kilani punya pendapat lain. Menurutnya, al-Ghazali tidak membahas jihad bukan karena mengabaikannya, melainkan karena sejak awal permasalahannya memang bukan soal pemahaman umat terhadap kewajiban jihad atau kekuatan militer Daulah ‘Abbasiyyah. Yang masalah bukanlah jihadnya, melainkan siapa yang berangkat. Sementara umat terpecah-belah dan berada dalam kondisi moral yang begitu parah, maka operasi militer bukanlah hal yang paling urgen untuk diselesaikan. Al-Ghazali langsung mengarahkan perhatiannya pada pangkal permasalahan: jiwa!

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.