Saturday, 22 February 2020

Ancaman Liberalisme dan Imperialisme di Balik Sektor Pariwisata

Ancaman Liberalisme dan Imperialisme di Balik Sektor Pariwisata

Fani Ratu Rahmani (Aktivis Muslimah dan Pendidik)

Balikpapan, Swamedium.com — Berbicara tentang penghasil devisa, sektor pariwisata selalu dianggap primadona. Hanya saja, tumbuh suburnya sektor pariwisata tak bisa dilepaskan dari muatan kesyirikan di tengah masyarakat. Tak sedikit, berbalut kearifan lokal praktik syirik ini difasilitasi dalam sektor ini. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sumedang. Puluhan penari pada even tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede kabupaten Sumedang, Satu persatu para penari pingsan dan beberapa mengalami kesurupan hingga berteriak histeris pada saat pertunjukan, dilansir dari Kabar-Priangan.com.

Tak hanya itu praktik kesyirikan juga terjadi di Kalimantan, Tradisi adat Buang Nahas di Kampung Talisayan dianggap masyarakat dapat membersihkan dosa dan menjamin keselamatan masyarakat, Namun Camat Talisayan Mansyur disebut tidak merestui tradisi adat ini karna dianggap tak sesuai dengan akidah dalam Islam. Makanya camat tidak memberikan restu, dan tidak bersedia menghadiri acara adat masyarakat pesisir Berau tersebut. (Sumber : berau-prokal.com)

Kendati berbau kesyirikan, sektor pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci dan solusi dalam menghadapi dampak ekonomi akibat perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat dan China. Tidak dipungkiri kehadiran perang dagang antar dua negara ini melemahkan ekonomi negara lain termasuk Indonesia. Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar Widya mengatakan, di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, sektor pariwisata dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ini jalan pintas yang bisa digunakan untuk menyelamatkan devisa negara melalui pariwisata. (Sumber : Kemenpar.go.id)
Memajukan sektor pariwisata untuk pertumbuhan ekonomi tentu bukan ide brilian dari para pemikir di negeri ini.

Ini tidak lain adalah proyek global yang setiap negara terikat untuk menggali potensi dalam negerinya agar dapat membentuk destinasi. Liberalisasi yang menjadi ruh kapitalisme, tentu amat mudah menggiring gaya hidup masyarakat dunia memasuki era ekonomi wisata. Paham sekularisme memang meniscayakan dunia menjadi tempat untuk bersenang-senang. Wajar akhirnya semua negara menggarap alam, budaya atau kearifan lokal dan karya manusia sebagai destinasi wisata.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.