Sabtu, 16 Januari 2021

Soeharto: Saya Tidak Berambisi Jadi Presiden Seumur Hidup

Soeharto: Saya Tidak Berambisi Jadi Presiden Seumur Hidup

Presiden RI kedua , Soeharto beserta istri, Ibu Tien.

Jakarta, Swamedium.com — Soeharto ternyata sudah menyiapkan penggantinya sebelum mundur dari jabatannya sebagai presiden.

Banner Iklan Swamedium

Diketahui, Soeharto menyatakan mundur sebagai presiden Indonesia pada Mei 1998.

Soeharto memang menjadi presiden selama 32 tahun.

Kekuasaannya tumbang setelah adanya krisis multidimensi yang saat itu melanda Indonesia.

Termasuk juga melambungnya harga sejumlah kebutuhan pokok.

Akibatnya, gelombang reformasi pun muncul, dan mendesak Soeharto agar segera mundur dari jabatannya.

Karena desakan dari berbagai pihak, Soeharto kemudian memutuskan mundur dari posisinya sebagai presiden.

Meski demikian, sebelum didesak mundur dari jabatannya, Soeharto sebenarnya sudah pernah ditanya mengenai sosok yang akan menggantikannya.

Itu seperti yang terdapat dalam buku “Sisi Lain Istana, Dari Zaman Bung Karno Sampai SBY”, karya J Osdar.

Dalam buku terbitan tahun 2014 itu disebutkan, beberapa bulan menjelang Pemilu 1997, tepatnya pada bulan Maret 1997, Soeharto pernah berdialog dengan anggota Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Dialog tersebut terjadi di Bina Graha, komplek Istana Kepresidenan, Jakarta.

Saat itu, anggota KNPI tersebut menanyakan sesuatu kepada Soeharto.

Tepatnya, mengenai pengganti Soeharto.

“Apakah Bapak tidak mempersiapkan pengganti sehingga dapat melanjutkan pembangunan? ” tulis Osdar menirukan pertanyaan anggota KNPI tersebut.

Mendapati pertanyaan itu, Soeharto pun bereaksi.

Saat itu, Soeharto senyum, dan batuk-batuk kecil.

Selanjutnya, Soeharto memberikan jawabannya.

“Mekanisme dan sistemnya sudah ada, orangnya juga sudah ada, yakni satu dari 180 juta orang. Masak tidak satu dari 180 juta orang yang mampu jadi presiden. Cari dari sekian banyak orang tersebut, pasti ada. Saya tidak berambisi jadi presiden seumur hidup, kenapa ribut-ribut,” tulis Osdar menirukan jawaban Soeharto saat itu.

Tak hanya menjawab pertanyaan saja, Soeharto justru berbalik menyampaikan pertanyaan.

“Kapan saya berhenti jad presiden?” tanya Soeharto.

Mendengar pertanyaan Soeharto, sekitar 150 orang anggota KNPI yang saat itu ada di tempat itu mendengungkan suaranya.

Soeharto kemudian melanjutkan.

Dia mengatakan, tidak akan meletakkan jabatannya di tengah jalan, karena merupakan sikap yang setengah-setengah, dan melanggar UUD 1945.

“Itu sama saja dengan melanggar hukum,” ujar Soeharto saat itu lalu batuk.

Mendengar jawaban Soeharto semacam itu, anggota KNPI lantas tersadar Soeharto agak marah.

Seorang anggota KNPI lainnya kemudian mengatakan sesuatu.

“Kami berharap Bapak bersedia dipilih lagi karena orang seperti Bapak ini jarang ada, apalagi keteladanan Bapak sudah Bapak tunjukkan selama ini, yakni menerapkan UUD 1945 dan Pancasila secara murni, dan konsekuen,” kata anggota KNPI tersebut.

Pesan Khusus Soeharto ke Dubes di Malaysia Saat Golkar Kalah, Kata Benny Moerdani, Sebut Soal Sarung

Soeharto pernah menyampikan pesan khusus ke seorang Dubes di Malaysia melalui Benny Moerdani.

Pesan itu disampikan saat Golkar kalah suara di Malaysia.

Pesan apakah yang disampaikan Benny Moerdani dari Soeharto itu?

Simak kisahnya berikut ini:

Seperti diketahui, pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto, terjadi di Indonesia selama 32 tahun.

Selama Orde Baru berdiri, antara Soeharto dan Golkar memang seolah tidak dapat dipisahkan.

Sebab, Golkar juga merupakan satu unsur penting dalam pemerintahan Orde Baru.

Sehingga, bagi Soeharto kemenangan Golkar dalam setiap pemilu termasuk sangat penting.

Oleh karena itu, Soeharto akan berusaha semaksimal mungkin agar Golkar mampu menang di seluruh daerah yang ada di Indonesia.

Termasuk di luar negeri, Soeharto juga berusaha memenangkannya.

Soeharto akan mengerahkan seluruh kemampuan, dan jaringan yang dimilikinya untuk memenangkan Golkar di luar negeri.

Itu seperti yang disampaikan oleh Rais Abin dalam buku “Catatan Rais Abin Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah 1976-1979”, yang ditulis oleh Dasman Djamaluddin, dan diterbitkan oleh Kompas pada 2012 lalu.

Rais Abin merupakan Letnan Jenderal (Purnawirawan) TNI.

Rais Abin juga pernah menjadi Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah.

Selain itu, dia juga pernah menjadi Duta Besar Indonesia di Malaysia pada pemerintahan Soeharto.

Terkait upaya Soeharto untuk memenangkan Golkar di luar negeri, Rais Abin memang memiliki sebuah pengalaman.

Kisah itu terjadi saat dia masih menjadi Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Malaysia di pemerintahan Orde Baru.

Kala itu, Rais Abin tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari Benny Moerdani di Jakarta.

Benny Moerdani menanyakan kepada Rais Abin perihal kekalahan Golkar di Malaysia.

“Eh, bagaimana itu (soal kekalahan Golkar)?” tanya Benny Moerdani kepada Rais Abin meminta penjelasan.

Mendapatkan pertanyaan dari Benny Moerdani seperti itu, Rais Abin pun segera menjawabnya.

“Habis bagaimana lagi, di sini (Malaysia) kan banyak suku Minang dan Aceh. Mereka lebih simpati kepada Islam. Mau bilang apa?” jawab Rais Abin dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Mendengar jawaban semacam itu dari Rais Abin, Benny Moerdani pun segera bereaksi.

Bahkan, Benny Moerdani juga menyampaikan pesan khusus dari Soeharto.

“Ini ada pesan Pak Harto. Rais suruh saja pakai sarung tidak usah pakai celana panjang lagi,” ungkap Benny Moerdani sambil bergurau.

Setelah mendengar pesan Soeharto itu, Rais Abin pun tertawa.

Benny Moerdani juga ikut tertawa.

“Benny, bilang sama Pak Harto, saya dari dulu lebih suka pakai kain sarung dari pada celana panjang. Lebih praktis, bisa dijadikan selimut, juga bisa untuk pakaian. Lebih bebas bergerak,” ucap Rais Abin. 

Sumber: Sosok.id

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita