Senin, 30 November 2020

Hijab Tidak Wajib?

Hijab Tidak Wajib?

Ilustrasi jilbab (artofintegration)

Jakarta, Swamedium.com — Nggak ada hentinya mereka yang alergi dengan trend Islamisasi berulah, nggak cukup sesat sendiri, lalu mengajak-ajak orang lain agar seperti mereka.

Saya sudah bahas dalam banyak tulisan lalu, bahwa kaum anti-Islamisasi ini akan terus-terusan melakukan de-Islamisasi, yang mereka bungkus dengan kata de-radikalisasi.

Cara yang paling umum, dengan membenturkan Islam dengan budaya, Islam dengan negara, bagaimana caranya agar trend Islamisasi di Indonesia itu berhenti.

Mereka selalu mengangkat narasi, bahwa ketaatan adalah bagian dari arabisasi, radikalisasi, intoleransi, narrow minded, kadal gurun, dan kata-kata menghakimi lainnya.

Masih ingat kasus sari konde yang dibandingkan dengan hijab? Pelarangan cadar dan promosi kebaya sebagai pakaian “asli” Indonesia? Itu beberapa contohnya.

Mereka yang anti-Islamisasi, bisa jadi justru orang Muslim itu sendiri, lalu mengembangkan pernyataan sesat seperti: tafsir kontekstual, tafsir modern, atau perbedaan pendapat ulama.

Padahal ulama, tak pernah berbeda tentang wajibnya hijab, walau mungkin berbeda pandangan tentang seperti apa bentuk hijab, seperti apa batasan detailnya.

Mengangkat istilah hijab yang salah dimengerti, yang makna aslinya sebagai “pembatas”, juga akal-akalan saja. Istilah bisa bergeser maknanya, yang mereka tolak sebenarnya syariatnya.

Lucunya, mengaku Islam tapi menolak aturannya, yang tak sesuai dengan hawa nafsunya dikata “tafsir kuno”, “terlalu tekstual”. Padahal yang bicara tak punya kualifikasi.

Saya sepakat, saya tak berhak menafsir Al-Qur’an, apalagi mereka yang anti-Islamisasi. Siapa paling berhak menafsir Al-Qur’an? Tentu saja yang paling dekat dengan Allah.

Dialah Rasulullah, yang mensupervisi para sahabat, yang pada gilirannya mensupervisi tabi’in, yang mensupervisi tabi’ut tabi’in. Mereka paling paham Al-Qur’an.

Dan kesemuanya berpendapat hijab itu, kerudung dan jilbab itu adalah wajib. Lalu siapa mereka, mengatakan sebaliknya? Merasa lebih pintar dari generasi terbaik dalam Islam? (*)
.


.

*Penulis: Felix Siauw

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.