Kamis, 09 Juli 2020

Martabat Indonesia Hancur, ‘Antek-antek’ Papua Merdeka Permalukan Jokowi di Australia

Martabat Indonesia Hancur, ‘Antek-antek’ Papua Merdeka Permalukan Jokowi di Australia

Ya, Australia memang salah satu negara yang kerap mengkritik Indonesia terkait situasi, kondisi dan kebijakan di Papua. Sejumlah politikus Australia bahkan kerap mendesak pemeritah Negeri Kanguru untuk turun tangan mengawasi dugaan pelanggaran HAM di Papua.

Nahasnya, secara subtansi tidak ada yang keliru dengan desakan itu. Jauh-jauh hari, Jokowi sudah berjanji di hadapan mantan Komisioner OHCHR Zeid Raad Al Hussein untuk mengizinkan wartawan asing dan pemantau HAM masuk Papua. Soal penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM terkait demonstrasi di Papua jelas suatu kewajiban. Sayangnya, ketiga tuntutan ini belum dilaksanakan sampai hari ini.

Kabar sejumlah aktivis menyerahkan data tahanan politik dan korban tewas Papua kepada Jokowi yang tengah berkunjung ke Canberra, Australia, makin memperkeruh hal ini. Veronica Koman sukses membangun wacana yang lantas disambar oleh media massa. Pendek kata, Jokowi datang ke Austalia memang seolah-olah untuk membiarkan dirinya dihina!

Mestinya penghinaan ini tidak terjadi. Kejadian ini membuktikan Kementerian Luar Negeri sudah kecolongan. Bahkan sekalipun tuntutan itu benar secara subtansi, ada metode penyampaian yang lebih elegan biar Indonesia tidak dipermalukan. Misalnya lewat pertemuan tertutup.

Pemerintah bisa saja mensyaratkan klausul ini sebelum kedatangan Jokowi ke Australia. Kalau Pemerintah Australia tidak bisa menjamin, ya batalkan saja rencana lawatan itu.

Pemutusan pembatalan lawatan ini jauh lebih baik ketimbang Indonesia jadi olok-olok di dunia internasional. Bagaimanapun nama baik Indonesia di dunia internasional amat mahal harganya. Jangan diobral begitu. Indoensia negara berdaulat, kita tidak boleh “geper” oleh intervensi negara manapun. (*)

*Penulis: Rahmat Thayib (Pegiat Gerakan Demokrasi Berkeadaban)

Pages: 1 2

Related posts

3 Comments

  1. Anonim

    Bisa ya berita yg lain di publikasikan sedang berita dunia tidak di publikasikan dasar media audio visual tidak beres, pantas aja media asing di larang meliput di indonesia, makanya masyarakat dunia ragu demokrasi indonesia yg di buat buat oleh AS.

    Reply
  2. Anonim

    His Excellency, Mr. Brandt. Please, do not involve my Country’s problem. Please , do not disturb my West Papua province. Please, let’ s West Papua part of Indonesia. Thank you . from Umiasih Ryman.

    Reply

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.