Rabu, 01 April 2020

KPAI: Guru Pelaku Kekerasan Fisik di SMAN Bekasi Wajib di-BAP

KPAI: Guru Pelaku Kekerasan Fisik di SMAN Bekasi Wajib di-BAP

Malang, Swamedium.com — Viral video kekerasan fisik yang dilakukan oleh seorang guru di salah satu SMAN di Bekasi, Jawa Barat. Dalam video tersebut sedikitnya ada lima orang siswa yang mendapat perlakuan kekerasan seorang guru.

Diduga, mereka dipukuli gara-gara tidak memakai ikat pinggang dan terlambat masuk sekolah. Mayoritas guru di berbagai sekolah kerap menggunakan kekerasan fisik dan verbal dalam mendidik dan mendisiplinkan siswanya.

Dalam video yang beredar, kejadiannya di tengah lapangan dan tampaknya ada yang merekam secara diam-diam. Video rekaman kekerasan itu kemudian viral di media sosial.

Terkait dengan peristiwa dugaan kekerasan yang terjadi di SMAN tersebut, maka KPAI menyampaikan sikapnya.

“KPAI menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas kejadian kekerasan yang menimpa sejumlah murid SMAN di Bekasi, apalagi pelaku adalah pendidik yang seharusnya melindungi anak-anak tersebut selama berada di sekolah, bukan malah menjadi pelaku kekerasan,” kata Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, di Malang, Kamis (13/2/2020).

KPAI mengapresiasi kebijakan pencopotan terduga pelaku kekerasan sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Namun, seharusnya tidak hanya ditimpakan kepada ybs seorang diri, mengingat pasal 54 UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa :

“Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lainnya”.

“Artinya pihak sekolah lainnya, termasuk kepala sekolah juga harus bertanggungjawab. Info yang KPAI dapatkan, terduga pelaku dikenal temperamental, lalu mengapa ybs justru ditempatkan sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaaan. Sang wakasek pastilah mendapatkan SK pengangkatan yang ditandatangani kepala sekolah. Artinya kepala sekolah dan para guru lain dengan sadar telah menempatkan seorang yang temperamental berhadapan dengan anak-anak,” papar Retno.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.