Rabu, 01 April 2020

BPIP Punya Cacat Bawaan

BPIP Punya Cacat Bawaan

Jakarta, Swamedium.com — Seperti halnya Kantor Staf Presiden, dasar hukum pembentukan BPIP “hanyalah” Perpres. Berbeda dengan BP-7 zaman Orde Baru, yang dibentuk melalui Ketetapan MPR, dengan bekal Perpres maka jangkauan kerja BPIP tidak boleh terlalu luas laiknya lembaga negara yang dibentuk oleh undang-undang.

Jika merujuk pada lembaga awalnya, yang bernama Unit Kerja Presiden, tugas BPIP seharusnya lebih banyak bersifat “ke dalam” (pemerintahan) daripada “ke luar”. Kliennya adalah Presiden, sementara obyek kerjanya adalah para pembantu Presiden.

Jadi, semula saya membayangkan lembaga ini bertugas untuk menjaga Pemerintah, para pembantu Presiden, serta kebijakan-kebijakan yang dirumuskan di dapur kekuasaan, agar tak melenceng dari nilai-nilai Pancasila. Sebagai kaki tangan Presiden, lembaga ini memang mewakili kepentingan Presiden, tapi tidak mewakili negara.

Hanya, ketika lembaga ini kemudian bertingkah seperti BP-7, yang seolah bertugas “mem-Pancasila-kan masyarakat”, saya menilai BPIP telah melangkah terlalu jauh.

Ini mungkin bukan kesalahan pengurus BPIP, tapi kesalahan perumus BPIP. Namun, yang jelas, pilihan itu telah membuat BPIP gagal memahami kritik terhadap institusionalisasi “pembudayaan Pancasila” yang terjadi di masa lalu, yang selalu menilai jika yang kurang Pancasilais adalah masyarakat, dan bukannya Pemerintah dengan seluruh aparatusnya.

Sebagai akademisi, sebelum koar-koar keluar, Ketua BPIP yang baru seharusnya memeriksa terlebih dulu tugas dan posisi lembaga yang dipimpinnya, apakah sudah korek atau belum.

Sayang sekali jika beliau memulai tugasnya dengan pernyataan kontroversial yang bisa memancing debat tidak produktif.

Sebagai pengkaji Pancasila partikelir, menurut saya BPIP punya cacat bawaan. Secara verbal BPIP menyebut dirinya “Badan Pembinaan IDEOLOGI Pancasila”.

Apa dasar hukumnya menyebut Pancasila sebagai “ideologi”? Sebab, dalam sistem hukum kita (CMIIW), Pancasila adalah ” Dasar Negara”, tidak pernah disebut sebagai “Ideologi”.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.