Wednesday, 19 February 2020

Kasus Yudian, Pertarungan Oligarki Vs Umat

Kasus Yudian, Pertarungan Oligarki Vs Umat

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

Jakarta, Swamedium.com — Kaget! Begitulah reaksi publik terhadap pernyataan Yudian Wahyudi, ketua BPIP sekaligus rektor UIN Jogja itu. Kalau saya sama sekali gak kaget. Anda mestinya juga gak perlu kaget kalau pertama, anda memahami peta pemikiran dan dinamika aktivis gerakan Islam di Indonesia. Kedua, situasi politik akhir-akhir ini. Semoga suatu saat saya punya waktu untuk menuliskan masalah ini secara utuh dalam bentuk buku berbasis hasil penelitian.

Yudian bilang: “agama musuh terbesar pancasila”. Saya yakin, itu pernyataan terlalu bersemangat. Maklum, pejabat baru Kalimat ini sering juga kita dengar dari seloroh dan guyonan sebagian anggota club-club studi kampus. Tapi, yang dimaksudkan sang profesor, juga para anggota club-club studi itu, pasti tidak persis sama dengan makna kalimat verbalnya.

Pernyataan itu mendadak jadi ramai karena pertama, disampaikan ke publik (wawancara detik.com). Kedua, yang menyampaikannya adalah pejabat publik.

Berbeda misalnya jika pernyataan itu disampaikan di kampus-kampus Islam seperti UIN, IAIN atau STAIN. Dosen dan mahasiswa secara umum akan menganggapnya sebagai seloroh belaka. Mereka tahu bahwa itu tak serius. Kok anda belain Yudian? Ngaco! Salah kok dibelain.

Secara substansial, pernyataan Yudian itu keliru. Titik! Gak ada yang sepakat dengan pernyataan itu. Umat beragama apapun, pasti tak sependapat. Panjang kalau dijelaskan. Sampai disini, tak perlu ada perdebatan. Salah ya salah. Dan Yudian pasti akan mengakui bahwa pernyataannya itu juga salah. Kalau diminta klarifikasi, pasti dia akan jawab “maksudnya adalah bahwa agama seringkali didistorsi maknanya untuk dihadap-hadapkan dengan Pancasila”. Ujung-ujungnya, nyasar HTI. Ini cara aman, karena HTI sudah dibubarkan dan semakin sedikit pembelanya.

Kalau para aktivis Islam di kampus, paham banget dinamika pemikiran ala Yudian. Dan bukan hanya Yudian yang punya pandangan seperti itu. Hanya karena Yudian sebagai pejabat, ada semacam kewajiban untuk menunjukkan posisi tawar dan loyalitasnya. Pernyataan kontra oposisi semacam ini biasa dilakukan para pejabat sebagai bentuk penegasan terhadap posisi dirinya. Gak beda dengan apa yang dilakukan oleh menteri agama di awal menjabat. Hanya saja, basis keilmuan Menag kurang kuat dibanding Yudian. Rektor bro!

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.