Jumat, 03 April 2020

Kasus Yudian, Pertarungan Oligarki Vs Umat

Kasus Yudian, Pertarungan Oligarki Vs Umat

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

Cara mengatasi maraknya bisnis haram itu tidak hanya lapor kepada pihak berwenang. Karena tak sedikit oknum aparat yang juga terlibat. Sampai disini, hasil penilitian para akademisi biasanya tak banyak bisa menjadi rekomendasi yang memadai. Terlalu deduktif dan normatif. Mengambil data dari permukaan saja. Di situlah gerakan aktivis Islam terpanggil untuk mengambil peran, mengisi kekosongan teori di tengah sering absennya negara untuk hadir.

Begitu juga ketika masuk wilayah terpencil, masyarakat awam yang tak kenal agama, tentu banyak yang tak terjangkau oleh survei. Belum lagi bicara testimoni, treatmen dan solusi. Di sinilah peran jama’ah tabligh dan para misionaris misalnya, dianggap menjadi “salah satu” kebutuhan. Awas cingkrang! Nah, makin ngawur.

Intinya, dua kelompok di atas, yaitu muslim akademik dan aktivis gerakan Islam punya obyek masalah, wilayah pekerjaan, dan bahkan fokus prioritas yang berbeda. Sampai disini, sesungguhnya tidak ada masalah terkait hubungan kedua kelompok tersebut Saling kritik dan lempar tuduhan hingga saat ini bukan menjadi sesuatu yang serius kaitannya dengan diksi ukhuwah dan kesatuan dalam berbangsa ala NKRI.

Baru serius masalahnya ketika ada pihak ketiga, yaitu para politisi dan oligarki yang menjadikan mereka sebagai vote getter dan mesin untuk menyerang satu sama lain. Aktivis gerakan Islam dimanfaatkan suaranya dalam pemilu, dan para akademisi digunakan kelimuannya membangun narasi dan argumentasi ilmiah untuk menghadapi dan meyerang lawan.

Politisi menyiapkan posisi, dan oligarki menyediakan logistiknya. Dengan pemberian posisi dan logistik ini, kedua kelompok akan menjadi mesin menyerang yang efektif. Di sinilah benturan berpotensi semakin keras. Dan benturan itu terbukti telah memakan banyak korban selama ini.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.