Jumat, 03 April 2020

Sesat Logika dan Sesat Metodologi Indobarometer pada Survei Penanganan Banjir Jakarta

Sesat Logika dan Sesat Metodologi Indobarometer pada Survei Penanganan Banjir Jakarta

Foto: Bundaran HI tenggelam saat banjir Januari 2013, ketika Joko Widodo menjabat Gubernur DKI Jakarta. (Detik)

Jakarta, Swamedium.com — Beberapa waktu yang lalu media nasional baik online maupun offline memuat hasil survei Indobarometer tentang penanganan banjir oleh tiga Gubernur DKI Jakarta, yaitu Joko Widodo (JKW), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan (ABW) yang menghasilkan kesimpulan bahwa gubernur terbaik dalam mengatasi banjir adalah Ahok (42 persen), Jokowi (25 persen) dan ABW (4,1 persen), yang kemudian memunculkan headline ‘Anies Baswedan Gubernur Terburuk Tangani DKI’ di Media Indonesia Online Edisi 17 Februari 2020 https://m.mediaindonesia.com/read/detail/290485-survei-sebut-anies-baswedan-gubernur-terburuk-tangani-dki dan Kompas Online dengan Tajuk ‘Mayoritas Publik Nilai Ahok Paling Berhasil Tangani Banjir Jakarta’ https://amp.kompas.com/nasional/read/2020/02/16/16594321/survei-indo-barometer-mayoritas-publik-nilai-ahok-paling-berhasil-tangani dan atas dasar hasil survei tersebut Kompas memuat ‘Ketua DPRD memberikan saran pada Anies’ https://megapolitan.kompas.com/read/2020/02/17/20495841/ahok-dinilai-paling-berhasil-tangani-banjir-ini-saran-ketua-dprd-dki?page=all

Survei Indobarometer tersebut dilakukan 34 Provinsi di Indonesia dengan 1.200 responden, margin of error (MoE) 2,83 persen dan selang kepercayaan 95 persen. Maka atas ini ijinkan saya mencoba memaparkan sesat logika dan sesat metodologi pada survei yang dilakukan oleh lembaga survei milik Muhammad Qodari ini, dengan mengabaikan politisasi atas hasil survei tersebut, yang sangat menyudutkan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI saat ini.

Dalam sebuah aktivitas riset, hal pertama yang dilakukan sebuah lembaga riset adalah menyusun metodologi dan framework, dan dalam metodologi terdapat frame-sampling, coverage area, perhitungan margin of error (MoE) dan selang kepercayaan. Frame-sampling disusun sedemikian ketat dengan quality controll berlapis agar tidak terjadi kesalahan sampling pada randomisasi dan memastikan bahwa proses screening (filterisasi) responden dilakukan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Ketatnya proses screening, eksekusi frame-sampling dan quality controll menjadi jaminan bahwa pada selang kepercayaan tersebut, maka potensi kesalahan pada kesimpulan sebesar Margin of Error (MoE), dan hal inilah yang diabaikan oleh Indobarometer dalam melakukan survei ini, terlepas dari survei-survei lain yang pernah dilakukan oleh lembaga ini.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.