Minggu, 05 April 2020

Tak Semua Takut Ditakut-takuti Maut

Tak Semua Takut Ditakut-takuti Maut

Jogyakarta, Swamedium.com — Ini kisah nyata. Suatu ketika ada aktivis atheis mati muda secara tiba-tiba. Di akhir hidupnya, dia termasuk jajaran terdepan penentang dakwah Islam.

Setiap muslim yang melihat peristiwa itu pasti akan bergidik. Bagaimana tidak? Membayangkan mati di tengah aktivitas memusuhi agama.

Ku pikir kematiannya itu akan membuat rekan-rekannya (yang sebagian atheis sebagian sekuler) tersadar kemudian bertaubat. Tetapi ternyata tidak.

Di halaman media sosial si atheis yang tewas itu tertulis banyak ucapan dukungan, semacam; rest in peace, damai selalu, bahagia di sana, dan semacamnya.

Bagi rekan-rekannya, kematian si atheis yang tewas di tengah aktivitas memusuhi dakwah itu sama sekali tidak menimbulkan rasa takut.

Pertanyaannya, mengapa peristiwa yang sama menimbulkan dua persepsi berbeda di antara muslimin vs atheis/sekuleris?

Mengapa kematian di tengah aktivitas memusuhi agama itu tak membuat para para atheis dan sekuleris takut kemudian taubat?

Akhirnya aku teringat, bahwa persepsi manusia sangat ditentukan oleh konsep “sangkan paraning dumadi” yang dia yakini.

Sangkan paraning dumadi adalah konsep tentang dari mana dia berasal, kemana setelah mati, dan untuk apa dia hidup di dunia.

Seorang atheis yakin bahwa tak ada surga neraka setelah kematian. Maka, rasa takut pada neraka akibat memusuhi agama tidak ada di dalam persepsinya.

Seorang sekuleris yakin bahwa Islam itu salah. Maka rasa takut pada neraka akibat memusuhi Islam sama sekali tak ada dalam kamus hidupnya.

Memusuhi Islam, bagi mereka, bisa jadi adalah tindakan yang mulia. Bahkan bisa jadi berbuah surga, karena bagi mereka, Islam adalah biang kerok masalah dunia.

Demikianlah, mengapa kematian si atheis tak membuat mereka takut.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.