Minggu, 29 November 2020

Bukan Risma, tapi Ganjar

Bukan Risma, tapi Ganjar

Jakarta, Swamedium.com — Awalnya Risma yang dimajukan untuk mencitrakan Anies bukan Gubernur yang baik. Keberhasilan Risma membangun kota Surabaya, diberitakan dengan membandingkan cara Anies membangun DKI.

Pembenci Anies langsung mengangkat nama Risma dan mulai masif menyebarkan perbandingan ini.

Berkali-kali dikatakan bahwa Risma bukanlah lawan sepadan bagi Anies, gak membuat mereka paham.

Sebuah blunder menjadi awal rentetan pemberitaan tentang Risma. Di awali pelaporan atas Dzikria Dzatil yang memantik reaksi publik, kebanggaan Kota Surabaya yang dipamerkan pembenci Anies mendapat karmanya. Hujan yang tinggi membuat Kota Surabaya menjadi pemberitaan.

Bukan media yang melaporkan, melainkan netizen dengan laporan langsung di TKP. Unggahan foto dan video dari HP memperlihatkan bahwa kota Surabaya pun tidak siap menampung banjir. Banyaknya unggahan foto dan video, memancing media untuk ikut memberitakan.

Dan Risma pun terpaksa menjelaskan, Blaaar!!!.

Blunder Risma saat berkata air harus antri memasuki lubang pembuangan, membuat kata “Antri” langsung menjadi santapan publik. Seorang pemimpin menggunakan kosakata rendah dalam menjelaskan keadaan kotanya, menandakan ia sendiri tidak mengetahui alasan detil kenapa bisa banjir didaerahnya.

Harusnya ia berkata ada penyumbatan pada lobang pembuangan akibat banyaknya sampah. Namun ia lebih memilih kata “Antri Pada Air”, agar tidak disalahkan atas banyaknya sampah. Blunder yang menghabiskan nama Risma selain kasus pelaporan Dzikria Dzatil yang mencitrakan Risma bukan pemimpin yang baik.

Terus menaikkan nama Risma disaat dirinya jadi tertawaan, bukan pilihan lagi. Tim bergerak, memutar otak harus ada tokoh yang dinaikkan untuk melawan hegemoni Anies yang terus mendapatkan panggungnya.

Panggung Anies luar biasa banyaknya. Segala hadangan dan larangan atas kebijakan gak membuat Anies mati kutu. Justru larangan itu malah menaikkan nama Anies untuk berkibar lagi.

Revitalisasi monas dilarang negara, hanya hitungan hari rekomendasi meneruskan kembali diberikan. Awalnya menolak, saat ini mendukung penuh langkah Anies. Formula E dilarang memakai monas, namun kembali larangan ini dianulir istana dan mereka memberikan restu karena nilai sejarahnya memakai monas luar biasa dampaknya bagi DKI dan Indonesia.

Maksud hati mencitrakan Anies sebagai pemimpin yang tidak mematuhi aturan, apa daya mereka harus tertunduk saat anies justru mengajak semua pihak yang melarang tersenyum bangga bahwa ini demi nama Indonesia.

Risma ditinggalkan, muncul nama Ganjar sebagai pilihan.

Memilih Ganjar sebenarnya sangat memaksakan. Secara hasil pembangunan, nama Ganjar sangat minim prestasi. Namun melihat cara mereka memilih Ganjar, sebenarnya sebuah Blunder yang nanti akan mereka sadari.

Ganjar butuh publikasi, maka itu setiap permasalahan yang ada diupayakan bisa menaikkan nama Ganjar. Sayang, caranya menumpang di masalah recehan.

Kasus perundungan siswi sekolah Muhammadyah dijadikan panggung oleh Ganjar. Berkata tegas hingga akan menutup sekolahnya, memantil reaksi Muhammadyah sebagai pemilik. Bersinggungan dengan Muhammadyah dengan mengatakan akan menutupnya, adalah cara yang salah.

Benar Jateng adalah wilayah NU, namun ada jutaan warga Muhammadyah yang masih setia. Pernyataan Ganjar langsung membuat Muhammadyah bereaksi keras.

Memindahkan siswi perundungan ke SLB pun mendapatkan prites keras dari Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik).

Memindah siswi tersebut ke SLB sama saja Ganjar sedang melestarikan stigma negatif terhadap kalangan disabilitas. Sang kepala daerah juga tidak memberikan kesetaraaan terhadap disabilitas. Saat ini dunia pendidikan sedang menuju ke arah terbuka bagi setiap kalangan (inklusif). Dengan begitu, setiap warga negara termasuk disabilitas memiliki hak yang sama dalam mengakses pendidikan formal tanpa harus dibedakan.

Cara Ganjar mengidentifikasikan cerminan diskriminasi.

Over acting Ganjar dikasus perundungan tidak menjadikan nama Ganjar menjadi naik. Ya beginilah, jika menumpang nama pada sebuah kasus sosial. Harusnya Ganjar mencari panggung pembangunan untuk menaikkan namanya. Jika sebuah pembangunan yang ia jadikan citra, itu akan bagus. Sayangnya, pembangunan ini yang menjadi titik lemah Ganjar sendiri.

Tim yang ditunjuk melawan hegemoni Anies seperti berlomba dengan waktu untuk terus menampilkam berita bahwa Anies buruk dan Ganjar bagus. Semua kekuatan mereka tampilkan, semua fasilitas mereka gunakan. Puncaknya, Biro Humas Jateng malah ikut bermain di area ini.

Kembali blunder.

Mengikuti cara Risma yang melibatkan pemko dalam membuat aduan pada Dzikria Dzatil. Cara Risma sendiri dianggap salah karena menyangkut hinaan masalah pribadi. Walaupun membawa jabatan walikota tidak sepatutnya melibatkan kekuatan pemerintah kota yang didanai dengan anggaran negara.

Humas Jateng tercyduk membuat narasi hinaan pada Anies saat Ganjar hadir dalam acara yang digagas UMY. Dalam acara tersebut ada aksi demo mahasiswa yang ditujukan pada Ganjar dan Anies Baswedan. Karena Anies tidak hadir, maka hanya Ganjar yang bertemu dengan pihak pendemo.

Kehadiran ganjar tanpa Anies ini yang dijadikan bahan untuk mendiskreditkan Anies secara sepihak.

Kata “MELIPIR” tidak patut untuk memberikan stigma pada seorang pemimpin daerah lain untuk meninggikan pemimpinnya sendiri.

Humas Jateng seperti sebuah server yang menjadi rujukan para pembenci Anies untuk berkicau. Judul berita humas Jateng langsung disantap tim Ganjar untuk memberitakan keluar dengan objek pembahasan, “Anies melipir, ganjar hadir”.

Gak menunggu lama, pemberitaan ini langsung di hajar oleh netizen sosmed. Dalam hitungan jam, humas jateng telah mendapatkan protes atas narasi yang mereka buat. Akhirnya, postingan berita itu dihapus oleh humas jateng karena banyaknya gelombang protes pada mereka.

Panitia acara UMY berkata, bahwa ketidak hadiran Anies sudah dikemukakan pada akhir Desember 2019. Ada agenda acara lain yang membuat Anies tidak bisa datang. Namun Anies masih menyisakan waktu untuk mengadakan teleconference pada acara tersebut.

Jadi bukan karena ada demo mahasiswa Anies absen. Melainkan ada agenda acara lain yang sudah ia sampaikan pada panitia sebelumnya.

Menghadirkan Ganjar untuk dihadapkan pada Anies sebenarnya sebuah jebakan yang sudah mereka makan. Anies panstinya akan tersenyum saat nama Ganjar yang dijadikan lawan dirinya untuk rencana RI1. Gak perlu Anies berbusa menggunggulkan apa yang telah ia capai, cukup netizen yang akan menguliti bagaimana kinerja Ganjar selama menjadi pemimpin di Jateng.

Cukup masalah sederhana saja, apakah sudah seluruh warga jateng memiliki Jamban? Ganjar pasti akan menelan ludahnya sendiri.

Belum lagi kasus nonton video porno yang pernah ia banggakan beberapa waktu lalu.

Risma memang bukan lawan Anies, tapi Ganjar adalah lawan yang lucu bagi Anies.

Enjoy. (*)

*Penulis: Setiawan Budi

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.