Selasa, 31 Maret 2020

Mengolok-olok Kesalahan Orang Lain

Mengolok-olok Kesalahan Orang Lain

Jakarta, Swamedium.com — Periksa hati sendiri. Bila berkaitan diri kita, kita lebih senang dipuji atau dibully? Bila berkaitan orang lain, kita lebih senang membully atau memuji? Ini tentang kita, bukan orang lain

Jujur, kalau saya, saya masih lebih senang dipuji ketimbang dibully, saya masih lemah, masih banyak nggak ikhlas. Mungkin bukan Allah satu-satunya tujuan

Tapi, sebisa mungkin saya mencoba, berusaha keras, untuk melindungi kehormatan orang lain, nggak membully, nggak merendahkan, nggak berkata-kata kasar

Andaipun salah, kewajiban saya mengkritik kesalahannya, bukan menertawakan kesalahan, tugas saya memperbaiki kesalahannya, bukan menjadikannya olok-olokan

Teringat nasihat Ibnu Qayyim: “Engkau mengolok-olok saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan saudaramu dan maksiat yabg lebih besar, karena menghilangkan ketaatan dan merasa dirinya suci”. Ngeri

Itu kalau memang yang dilakukan saudara kita adalah maksiat, lalu bagaimana kalau yang dilakukannya bukanlah maksiat, dan kita masih mengolok-olok dan menjadikannya bahan tertawaan?

Menyedihkan memang, bagaimana kita semua kadang menjadi sangat tidak berperasaan, tidak mau memperlakukan orang lain sebagaimana kita mau diperlakukan

Maka para ulama, ketika melihat satu dosa, se-menjijikkan apapun, walau itu pelacur yang paling hina, mereka akan memberi keputusan hukum, memberi nasihat, memberikan harapan dan jalan untuk bertaubat

Tapi tak pernah menertawakan, mengolok-olok, merendahkan para pemaksiat, dan merasa sudah tinggi, selamat, dan hebat. Karena mereka tahu, itu maksiat yang lebih buruk

Ini nasihat buat diri sendiri, yang masih banyak menggunjing orang, baik terang-terangan atau dalam perasaan, yang pastinya banyak menyakiti perasaan orang

Rabbighfirlana. (*)

*Penulis: Ustaz Felix Siauw

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.