Rabu, 03 Juni 2020

Banjir di Jakarta, Peristiwa Alam atau Peristiwa Politik?

Banjir di Jakarta, Peristiwa Alam atau Peristiwa Politik?

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

Jakarta, Swamedium.com — Banjir itu musibah, atau malah berkah? Bergantung! Bagi masyarakat yang berdampak, banjir itu musibah. Tapi, bagi pemilik gerobak di daerah Hek Kramatjati Jakarta Timur, banjir itu berkah. Banjir dianggap sebagai peristiwa bisnis, karena telah membuka lapangan kerja dan menghadirkan pendapatan. Sejak tahun 2001-2007 kawasan Hek itu jalur saya berlalu lintas. Setiap musim banjir, warga selalu menyaksikan pemilik gerobak mengangkut motor plus pengendaranya. Saya adalah satu diantara ribuan pelanggan jasanya. Cukup bayar 5-10 ribu, kami sudah bisa menikmati transportasi gerobak itu.

Saat itu, masyarakat gak pernah menyoal siapa gubernur DKI dan presiden RI. Kami menghadapinya bersama, karena ini bagian dari musibah tahunan. Sudah biasa!

Saat ini, kami sudah pindah dan tinggal di daerah Tangerang Selatan. Komplek dekat rumah kami setiap tahun kebanjiran. Tidak hanya saat hujan, lagi cuaca terang pun air sungai seringkali naik dan masuk ke rumah-rumah warga. Dipastikan, itu air kiriman dari Bogor. Tak pernah terdengar warga disini menyalahkan walikota, gubernur atau presidennya. Bukan karena walikotanya cantik. Gak ngaruh

Kenapa kalau banjirnya di DKI, jadi heboh ya? Nah, kalau pendekatannya menggunakan analisis musibah, gak akan bisa menjelaskan kegaduhan yang selama ini terjadi. Sebab, banjir di DKI sudah dianggap sebagai peristiwa politik. Bukan lagi peristiwa alam, atau musibah. Disini, ada proses dan proyek politisasi. Maka, analisisnya harus menggunakan analisis politik, bukan analisis musibah.

Beda musibah, beda politik. Kalau memahami banjir sebagai musibah, maka akan terlihat data-data banjir dari BMKG, BPBD dan Bappenas. Berapa pengungsi, sebesar apa wilayah yang terdampak dan berapa lama banjir baru surut. Dan dari data Bank Indonesia (BI) kita akan tahu berapa besar kerugian ekonominya. Data-data ini tentu lebih proporsional dibanrding hasil survei Indobarometer di 34 provinsi beberapa waktu lalu.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.