Kamis, 09 Juli 2020

Banjir di Jakarta, Peristiwa Alam atau Peristiwa Politik?

Banjir di Jakarta, Peristiwa Alam atau Peristiwa Politik?

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

Dari data yang ada, musibah banjir di DKI saat ini jauh berkurang dilihat dari luas wilayah terdampak, jumlah pengungsi, durasi waktu, bahkan kerugian ekonomi, dibanding tahun 2013 (era Jokowi) dan tahun 2015.(era Ahok). Untuk wilayah terdampak, jumlah pengungsi dan durasi waktu sudah sering saya tulis datanya. Itu data dari BMKG, Bappenas dan BPBD. Data-data ini resmi, karena dikeluarkan oleh lembaga resmi. Berarti bisa dipertanggungjawabkan. Silahkan dicek lagi.

Soal kerugian ekonomi, Bank Indonesia (BI) perwakilan DKI menjelaskan bahwa kerugian ekonomi akibat banjir di DKI tahun ini makin kecil jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kerugian ekonomi akibat banjir di DKI 960 miliar. Dibanding dengan tahun 2002 kerugiannya 9,8 triliun. Tahun 2007, kerugiannya 8,8 triliun. Tahun 2013 kerugiannya 1,5 triliun. Tahun 2014 kerugiannya 5 triliun. Dan tahun 2015 kerugian akibat banjir di DKI 1,5 triliun. Jadi, dari sisi kerugian ekonomi akibat banjir di DKI terus menurun. Ini disebabkan karena wilayah terdampak, jumlah pengungsi dan durasi waktu banjir makin menyusut. Maka otomatis menyusut pula kerugian ekonominya.

Lagi-lagi, ini data musibah. Ada trend membaik dalam penanganan banjir di DKI dari waktu ke waktu. Dalam konteks ini tentu setiap gubernur punya kontribusinya.

Data-data riil seperti ini menjadi kabur ketika banjir dianggap sebagai peristiwa politik dan bisnis, lalu dijadikan kesempatan untuk menyerang Gubernur DKI. Disinilah awal kegaduhan itu terjadi.

Sebagai peristiwa bisnis,, banjir menjadi berkah bagi para buzzer karena banyak order. Sebagai peristiwa politik, banjir memberi ruang bagi sejumlah pekerja politik untuk mendown grade Gubernur DKI.

Dugaan ini mudah untuk dujelaskan. Pertama, banjir merata di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI dan Banten. Mengapa hanya Anies yang dipersoalkan, bahkan diserang? Kedua, data-data tentang banjir dari tahun ke tahun terang benderang. Bahwa di era Anies, jauh lebih kecil dampak banjirnya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kenapa bukan gubernur-gubernur sebelumnya yang disoal? Ketiga, serangan ke Anies tidak saja massif, tapi polanya konsisten. Wajar kalau banyak analis menilai ini by design. Akhirnya banyak yang menyimpulkan bahwa kegaduhan akibat banjir di DKI hanya soal berapa yang sudah cair.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.