Kamis, 24 September 2020

Pers Harus Lindungi Identitas Pasien Corona dan Tak Ciptakan Kepanikan

Pers Harus Lindungi Identitas Pasien Corona dan Tak Ciptakan Kepanikan

Para tokoh PWI tampil dalam Raker PWI di Jakarta hari pertama 21 Januari 2019. Dari kiri Sekjen Mirza Zulhadi (moderator), Ketua Umum PWI Atal S. Depari, Ketua Dewan Pembina Ilham Bintang, Ketua Dewan Penasihat Margiono. (Foto : PWI/Dias)

Jakarta, Swamedium.com — Pengurus PWI Pusat mengimbau masyarakat pers, khususnya para penanggung jawab, agar dalam pemberitaan mengenai Virus Corona di Tanah Air memberi pemahaman mendalam kepada publik.

Selain itu, pemberitaan hendaknya menciptakan ketenangan di tengah masyarakat, mengedukasi, dan tidak menciptakan kepanikan.

PWI Pusat juga mengingatkan pentingnya wartawan melindungi identitas atau data pribadi masyarakat yang tengah dalam penanganan medis Virus Corona.

“Silakan wartawan menyampaikan informasi yang bermanfaat terkait Virus Corona, namun secara bersamaan juga melindungi data atau identitas pribadi korban virus yang dalam perawatan medis,” kata Ketua Umum PWI Atal S Depari, Selasa (3/3) petang.

Pernyataan Pengurus PWI itu disampaikan sebagai respons atas adanya keluhan masyarakat terhadap pemberitaan sebagian media yang menyiarkan identitas pribadi pasien yang diduga mengalami infeksi Virus Corona. Pernyataabn PWI ini juga telah dibahas dalam Rapat Pleno Pengurus PWI Pusat.

“Silakan menyampaikan fakta-fakta yang telah terkonfirmasi. Tetapi, jangan lupa menghormati hak-hak pribadi korban. Jangan sampai diungkap secara vulgar. Ini jelas mengganggu hak pribadi pasien dan keluarganya. Bahkan masyarakat yang tinggal di lingkungan rumah pasien,” tambah Atal S Depari di Kantor PWI di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

PWI Pusat mengingatkan wartawan dan para pengelola news room sebagai gate keeper berita agar tetap menaati Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dalam mengembangkan berita kasus Virus Corona.

Pasal 9 KEJ secara tegas menyebutkan, “Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.”
Menghormati hak nara sumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati. Sementara kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.