Kamis, 24 September 2020

Wabah Virus Corona, Tinjauan Ilmiah hingga Ideologis

Wabah Virus Corona, Tinjauan Ilmiah hingga Ideologis

Sejak Indonesia positif Covid-19, kepanikan membuat harga-harga kebutuhan naik tajam. Kepanikan ini juga dipicu karena salah kaprah pemerintah.

Jakarta, Swamedium.com — Dunia benar-benar dibuat sengsara oleh wabah yang satu ini. Severa Acute Respiratory Syndrome related coronavirus-2 (SARS-CoV-2) yang sebelumnya dinamai virus corona baru, 2019-nCoV.

Demikian pula penyakit sindrom pernafasan akut yang ditimbulkannya, yang dinamai coronavirus diseases (Covid-19). Bagaimana tidak, hingga hari ini sedikitnya 82.000 jiwa terinfeksi dan sedikitnya 2.800 jiwa terbunuh.[1]

Penyebaran virus begitu cepat, dalam waktu sekitar 2 (dua) bulan telah meluas hampir ke 50 negara,[2] tanpa bisa dicegah. Yang juga mencemaskan, riset menunjukkan penularan dapat terjadi pada penderita tanpa gejala klinis (asimtomatik).[3],[4]

Sementara, Indeks Keamanan Kesehatan Global, yang dikeluarkan Oktober tahun lalu oleh Pusat Keamanan dan Kesehatan Johns Hopkins, menilai 195 negara berdasarkan kesiapan menghadapi epidemi atau pandemi.

Secara keseluruhan hasilnya tidak menggembirakan.1 Ini baru dari aspek kesehatan dan keselamatan jiwa publik dunia, termasuk Indonesia tentunya. Belum lagi dampak keamanan[5] dan ekonomi yang dikhawatirkan memperparah resesi dunia.[6]

Tinjauan Ilmiah hingga Ideologis

Asal muasal virus merupakan aspek terpenting dalam pencegahan dan penanganan wabah. Namun sampai sekarang para ilmuwan (virologi dan epidemiologi) seperti kehilangan landasan. Pasalnya, harapan kelelawar dari pasar hewan liar Wuhan akan memberikan petunjuk sumber wabah pupus.

Seiring penemuan sejumlah pengidap Covid-19, tetapi tidak berhubungan dengan pasar Wuhan.[7] Pun demikian karakteristik genetiknya (sequence genom). Ia benar-benar baru, berbeda dengan strain virus corona lain. Baik SARS-CoV virus corona penyebab SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), MERS-CoV penyebab MERS (Middle East Respiratory Syndrome), dan juga virus corona pada kelelawar dan trenggiling sendiri.[8],[9] Perbedaan itu juga tampak pada kemampuan menular antarmanusia[10] dan karakteristik klinisnya.[11]

Di tengah kebuntuan yang bukan pertama kali terjadi, wacana ideologis yang dianggap tabu dan hoaks menguat. Rusia, pengemban ideologi sosialisme, yang bermusuhan secara ideologi dengan kapitalisme yang dipimpin Amerika Serikat, melalui salah satu jaringan TV nasional utama, Channel One, meluncurkan slot reguler pada program berita malam utamanya, Vremya (“Time”).

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.