Jumat, 25 September 2020

Indonesia Terancam Radikalisme: Fakta atau Mitos?

Indonesia Terancam Radikalisme: Fakta atau Mitos?

Foto: Imam Shamsi Ali menjadikan Islamic Cultural Center (ICC), masjid terbesar di New York, Amerika Serikat, sebagai tempatnya berdakwah.

Dallas, Swamedium.com — “Saya ngeri sekali. Akhir-akhir ini Indonesia kok mengerikan. Saya tidak lagi mengenal Indonesia yang seperti dulu. Indonesia tidak lagi toleran. Kerukunan antar umat beragama bersobek-sobek. Indonesia berubah total dari bangsa yang moderat menjadi bangsa yang radikal. Kini Indonesia berada di ambang kahancurannya”.

Demikian sekilas pernyataan seorang peserta diskusi di sebuah universitas di Jerman. Hadir di acara itu beberapa Professor, mahasiswa/mahasiswi jurusan studi Asean. Diskusi di moderatori oleh Ketua jurusan studi Asean. Beliau orang asli Jerman yang pernah menetap di Makassar beberapa tahun.

Tema yang saya bawakan di acara diskusi umum itu adalah “posisi Islam dalam perpolitikan modern di Indonesia”. Tentu sebuah tema yang faktual dan sedang ramai diperbincangkan di mana-mana, termasuk di luar negeri.

Sejujurnya saya mengakui bahwa tema itu cukup berat dan menantang. Berat karena memang bukan spesialisasi saya. Menantang karena saya pribadi tidak terlalu tertarik untuk membahas isu-isu politik. Walau saya cukup sadar politik.

Tapi saya terima karena memang menjadi bagian dari misi perjalanan saya ke Eropa. Yaitu ingin menyampaikan salah satunya, bahwa di negara Indonesia agama (baca Islam) dan demokrasi saling bergandengan tangan.

Sebagai negara Muslim terbesar dunia, Indonesia patut berbangga bahwa ketika Islam dituduh anti demokrasi, justeru Indonesia membuktikan sabaliknya dengan realita. Karena Indonesia sekaligus adalah demokrasi terbesar ketiga dunia.

Saya memulai pemaparan saya sebagaimana biasanya dengan menyampaikan sejarah kehadiran Islam di bumi Nusantara. Bahwa tidak seperti pada beberapa negara lainnya, Islam hadir di Nusantara dengan cara damai. Bahkan melalui penetrasi prilaku sosial manusia dan kultur.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.