Sabtu, 28 November 2020

Sebelum Lebaran Diprediksi Ada ‘Kejutan’ buat Ekonomi RI

Sebelum Lebaran Diprediksi Ada ‘Kejutan’ buat Ekonomi RI

Foto: Ekonom senior, Rizal Ramli. (ist)

Surabaya, Swamedium.com — Ekonom Rizal Ramli memprediksi akan terjadi suatu hal besar di Indonesia sebagai dampak dari krisis ekonomi. Berdasarkan sejarah, ada dua presiden di Indonesia yang lengser akibat krisis ekonomi.

“Kita lihat sejarah Indonesia, Bung Karno jatuh karena krisis ekonomi, Soeharto juga. Jadi sesuatu besar terjadi di Indonesia karena krisis ekonomi,” kata Rizal di Surabaya Town Square, Minggu (8/3/2020).

Bukan tanpa alasan Rizal berkata demikian. Menurutnya ada lima hal penting di sektor ekonomi yang saat ini tengah memiliki masalah besar. Lima hal tersebut yakni, pertama indikator makro ekonomi yang merosot. Kedua, daya beli yang menurun. Lalu ketiga, pemerintah gagal membayar Jiwasraya. Keempat, ekonomi digital mengalami koreksi valuasi dan yang terakhir gagal panen para petani.

“Nah kelima gelembung ini akan terjadi bersama. Kalau masih satu-satu terjadi bisa diatasi. Kalau semua terjadi bersamaan, bisa terjadi sesuatu besar di Indonesia sebelum Lebaran. Bisa terjadi perubahan politik di Indonesia, bukan karena ada oposisi yang hebat, tapi karena krisis itu sendiri menciptakan suatu perubahan,” tegas Rizal.

“Ini kan sudah terjadi pelan-pelan, the beginning. Sebetulnya sudah 2 tahun lalu kami ingatin, bahwa Rizal Ramli ngomong begini, solusinya begini. Tapi pemerintah terlalu jumawa, padahal nggak ngerti-ngerti amat. Akhirnya masalah itu semakin besar, gelembungnya semakin besar,” lanjutnya.

Rizal kemudian bercerita saat era Soeharto, dirinya merupakan oposisi. Setiap publikasi dirinya, selalu dikumpulkan oleh intel-intel di pemerintahan tersebut untuk disampaikan ke sekretaris negara. Selanjutnya, publikasinya dijadikan second opinion presiden.

Rizal mengklaim dirinya sering memprediksi bagaimana nasib ekonomi Indonesia. Ia yakin, banyak ramalannya di bidang makro, korporasi dan bisnis, hampir menjadi kenyataan semua.

“Bukan karena Rizal Ramli punya indra ke-6. Karena kita sudah terbiasa memonitor semua masalah dengan angka. Kita bikin prediksi, simulasi, sehingga ramalan itu kebanyakan terjadi semua. seperti contoh Soeharto dulu,” terangnya.

Rizal kemudian menjelaskan kelima hal penting di sektor ekonomi yang menyebabkan krisis. Di indikator makro ekonomi, menurutnya angka saat ini turun dan merosot bahkan lebih buruk keadaannya ketimbang di era 10-15 tahun yang lalu.

“Dari defisit perdagangan, transaksi berjalan, balance anggaran, tax ratio dan lainnya. Kalau semua indikator makro merosot, harusnya rupiah melemah. Tapi tidak terjadi karena doping. Doping ini pemerintah pinjam uang besar dari luar negeri dengan bunga lebih mahal, agar rupiah menguat sedikit,” jelasnya.

Doping, jelas Rizal, di awal memang berjalan baik. Tapi ketika suatu ekonomi terus didoping dengan pinjaman, maka yang terjadi ekonomi akan kacau dan kelagapan.

Kemudian, faktor yang mempengaruhi krisis ekonomi yakni turunnya daya beli masyarakat. Rizal sering mendapat keluhan dari pedagang di Jakarta bahwa penjualan merosot pada tahun 2019.

“Banyak tanya, apakah turun karena online? Saya katakan tidak. Karena ekonomi perdagangan online volume bisnisnya hanya 8 persen dari total perdagangan. Sisanya 92 persen perdagangan biasa, jadi tidak benar,” jelasnya.

Menurut Rizal, penjualan merosot karena pertumbuhan kredit di Indonesia hanya menyentuh angka 6,02%. Padahal, bila pertumbuham ekonomi mencapai angka normal di 6,5%, kredit akan tumbuh sekitar 15-18%.

“Tidak salah, daya beli turun, penjualan merosot. Pertumbuhan kredit hanya 1/3 dari angka normal, makanya penjualan susah banget, peredaran uang juga terbatas, karena tersedot untuk membayar hutang,” tegasnya.

“Mengapa setiap Menkeu menerbitkan surat utang negara (SUN), 1/3 dana di bank itu tersedot dipakai untuk beli SUN karena dijamin 100 persen. Kemudian bunganya lebih mahal 2% dari deposito. Itulah mengapa di bawah uang seret sekali. Tahun ini prediksi saya pertumbuhan kredit 4 persen, akan lebih merosot lagi,” lanjutnya.

Indikator ketiga krisis ekonomi di Indonesia, menurut Rizal yakni kasus gagal bayar Jiwasraya oleh pemerintah.

“Ini hanya sebagian total Rp 33 triliun, tapi perkiraan saya ada reksadana yang nggak mampu bayar, dana pensiun dan lainnya, total Rp 150 triliun. Jadi ekonomi kita ibarat petinju itu udah goyang kebanyakan utang, dengan gagal bayar ini ya jadinya krisis,” paparnya.

Selanjutnya yang ke-4, Rizal melihat ekonomi digital akan mengalami koreksi valuasi. Dan yang terakhir, banyak petani di Indonesia gagal panen yang akan memperparah kondisi ekonomi.

“Karena harusnya mereka menanam padi pada September tahun lalu, tapi kekeringan luar biasa, akhirnya baru bisa tanam bulan Januari ini. Akhirnya panennya molor Mei-Juni,” tandasnya.

Saat petani panen, lanjut Rizal, ternyata Bulog punya uang untuk membeli beras impor, meski memiliki utang Rp 30 triliun.

“Di gudang, Bulog punya cadangan beras impor 1,7 juta ton. Jadi kasihan petani kita pas panen, yang beli nggak ada. Di desa itu sederhana, ada panen, ada uang, nah kalau nggak ada panen ya nggak ada uang, susah benar,” katanya.

Sumber: Detik

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.