Kamis, 24 September 2020

Liberalisme Menghantam Tanah Haram

Liberalisme Menghantam Tanah Haram

Jakarta, Swamedium.com — Larangan kementrian agama untuk beberapa ritual yang telah menjadi tradisi masyarakat Saudi, semisal: larangan i’tikaf, mensuplai makanan-minuman buka puasa berjamaah, hingga pembatasan khutbah-Shalat Jumat hanya 15 menit, adalah pukulan telak bagi Kalangan Ulama dan Komisi Tinggi Amar Makruf Nahyi Munkar Saudi Arabia.

Perjuangan kalangan liberal Arab, nampaknya berbuah hasil usai naiknya MBS menjadi putra Mahkota Saudi, berkat lobi menantu Donald Trump, Kusenger, seorang Yahudi fanatik yang di AS sendiri tersidik kasus penipuan dan penggelapan. Era Baru Saudi, bukan dalam alih teknologi dan sains, tapi dalam hal kemaksiatan dan kejahatan sosial.

Edaran Kemenag Saudi, berdalih pada upaya mengurangi dampak Corona. Alasan ini pula digunakan untuk penutupan area Thawaf dan area Masjid Nabawi. Penutupan diiringi dengan larangan umroh bagi penduduk Makkkah-Madinah. Juga penutupan perbatasan setiap Provinsi Saudi, plus penutupan total sekolah-sekolah dan kampus.

Secara syariah, penutupan berlebihan jelas dilarang dan melanggar akidah tauhid. Kematian melalui Corona hanya 1℅ kemungkinan. Tapi menutup dan melarang atau membatasi ritual keIslaman, patut dicurigai sebagai bagian dari langkah liberalisasi kehidupan sosial dan keagamaan Saudi Arabia. Bukankah dalam Islam, adanya wabah penyakit harus disikapi taqarrub kepada Allah?

Target Liberalisme yang diusung Kosenger adalah: mengubah kurikukum pendidikan dan tata cara ber-Islam Saudi Arabia, agar sesuai dengan tata aturan AS. Ini menjadi prasyarat mutlak AS, untuk tutup mata atas keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashogi dan pelanggaran HAM Saudi di Yaman. Juga menjauhkan Saudi dari tuntutan AS soal aksi 9/11 yang pelakunya kebanyakan WN Saudi.

Target Liberalisme dunia Arab diawali dengan penghancuran institusi Jamaah Ikhwanul Muslimin, penangkapan tokoh-tokoh Islam berpengaruh non IM, pembunuhan semua tokoh kritis dan saintis. Lalu berlanjut pada pemasaran narkoba, kehidupan permisif, dan tentunya pembatasan aktivitas masjid terutama shalat Jumat.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.