Selasa, 07 Desember 2021

Liberalisme Menghantam Tanah Haram

Liberalisme Menghantam Tanah Haram

Jakarta, Swamedium.com — Larangan kementrian agama untuk beberapa ritual yang telah menjadi tradisi masyarakat Saudi, semisal: larangan i’tikaf, mensuplai makanan-minuman buka puasa berjamaah, hingga pembatasan khutbah-Shalat Jumat hanya 15 menit, adalah pukulan telak bagi Kalangan Ulama dan Komisi Tinggi Amar Makruf Nahyi Munkar Saudi Arabia.

Banner Iklan Swamedium

Perjuangan kalangan liberal Arab, nampaknya berbuah hasil usai naiknya MBS menjadi putra Mahkota Saudi, berkat lobi menantu Donald Trump, Kusenger, seorang Yahudi fanatik yang di AS sendiri tersidik kasus penipuan dan penggelapan. Era Baru Saudi, bukan dalam alih teknologi dan sains, tapi dalam hal kemaksiatan dan kejahatan sosial.

Edaran Kemenag Saudi, berdalih pada upaya mengurangi dampak Corona. Alasan ini pula digunakan untuk penutupan area Thawaf dan area Masjid Nabawi. Penutupan diiringi dengan larangan umroh bagi penduduk Makkkah-Madinah. Juga penutupan perbatasan setiap Provinsi Saudi, plus penutupan total sekolah-sekolah dan kampus.

Secara syariah, penutupan berlebihan jelas dilarang dan melanggar akidah tauhid. Kematian melalui Corona hanya 1℅ kemungkinan. Tapi menutup dan melarang atau membatasi ritual keIslaman, patut dicurigai sebagai bagian dari langkah liberalisasi kehidupan sosial dan keagamaan Saudi Arabia. Bukankah dalam Islam, adanya wabah penyakit harus disikapi taqarrub kepada Allah?

Target Liberalisme yang diusung Kosenger adalah: mengubah kurikukum pendidikan dan tata cara ber-Islam Saudi Arabia, agar sesuai dengan tata aturan AS. Ini menjadi prasyarat mutlak AS, untuk tutup mata atas keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashogi dan pelanggaran HAM Saudi di Yaman. Juga menjauhkan Saudi dari tuntutan AS soal aksi 9/11 yang pelakunya kebanyakan WN Saudi.

Target Liberalisme dunia Arab diawali dengan penghancuran institusi Jamaah Ikhwanul Muslimin, penangkapan tokoh-tokoh Islam berpengaruh non IM, pembunuhan semua tokoh kritis dan saintis. Lalu berlanjut pada pemasaran narkoba, kehidupan permisif, dan tentunya pembatasan aktivitas masjid terutama shalat Jumat.

Target selanjutnya adalah: Menghormati semua agama selain Islam. Ini sudah dilakukan AsSisi di Mesir, Ben Zaid di UAE. Islam diidentifikasikan dengan terorisme, radikalisme versi Barat. Kekhilafahan Islam di masa lalu adalah penjajahan. Syariah Islam adalah kemunduran.

Maka dampaknya, apapun yang memiliki hubungan dengan simbol Islam akan dikriminalisasi. Para Ulama ditangkapi. Gerakan HAMAS baru-baru ini memprotes Saudi atas penangkapan warga Palestina di Saudi dengan tuduhan: mengumpulkan dana untuk keluarga di Gaza dan Palestina. Mesir malah menghukum siapapun yang mengibarkan bendera Palestina di tempat publik.

Maka wajar para penulis dunia Arab menyebut MBS saat ini, meninggalkan Ulama dan menjadikan wanita-wanita tuna susila sebagai penasihat bisnis dan politiknya. Model tata kelola negara semacam ini, membuat merosotnya harga saham Aramco hingga 2 hari lalu rugi 427 Milyar Dollar.

Saudi pun semakin berjarak dengan kesengsaraan umat Islam. Padahal di era hingga Raja Abdullah, Saudi paling dermawan membangun masjid-masjid di Eropa, Asia Tengah, Rusia, Kanada, Amerika Latin, Amerika. Hal ini sesuai dengan prediksi Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz sebelum Raja Abdullah wafat, “Saudi akan mengalami mass kelam yang tidak jelas ujungnya.” (*)

*Penulis: Nandang Burhanudin

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita