Kamis, 21 Oktober 2021

Anies Baswedan Tak Usah Mencari Panggung, Karena…

Anies Baswedan Tak Usah Mencari Panggung, Karena…

Jakarta, Swamedium.com — Anies Baswedan tak usah mencari panggung karena dengan kemampuan leadershipnya, panggunglah yang menghampirinya. Ia tak perlu mencari-cari.

Banner Iklan Swamedium

Pemimpin yang memiliki sense of crisis, akan teruji pada keadaan-keadaan genting. Tetap tenang tak membuat dan mengajak masyarakat panik, tetap waspada tak menggampangkan dan cengengesan di muka publik.

Pemimpin yang paham prioritas akan bertindak terukur dan tepat dalam menjaga rasa aman masyarakat. Bukan membuat kebijakan blunder yang menyebabkan kegentingan semakin menjadi.

Pemimpin yang punya komunikasi baik akan memenuhi rasa butuh masyarakat akan informasi yang transparan. Sehingga membantu mereka waspada dan bersikap yang wajar. Sedang pemimpin yang komunikasinya buruk, menutup-nutupi keadaan, malah membuat rakyat makin berspekulasi macam-macam dan membuat keadaan makin tak menentu.

Anies Baswedan – dengan segala kekurangannya sebagai manusia – memenuhi ciri-ciri pemimpin yang baik seperti yang dikemukakan di atas. Maka tiap gerak-geriknya dalam keadaan krisis kini, tersoroti oleh ratusan juta pasang mata masyarakat dunia.

Ia bak menari di atas panggung, padahal tak sedang mencari panggung. Kemana kakinya melangkah, panggung lah yang menyodorkan diri untuk dipijak olehnya.

Julukan “pintar bermain kata” yang sebelumnya jadi sindiran bagi Anies, rupanya adalah kelebihan yang dibutuhkan saat-saat ini. Karena posisi beliau sebagai pemimpin yang harus berkomunikasi dengan baik.

Julukan itu sebenarnya adalah antitesa dari tokoh politik yang populer beberapa tahun belakangan. Yang memiliki skill komunikasi buruk, tapi disanjung-sanjung pemujanya sedemikian rupa.

Kiranya jargon “kerja” tak cukup bagi pemimpin. Harus ada kemampuan leadership, bersikap elegan, punya tutur bahasa yang baik. Bukan gampang kaget dan heran, gampang menyalahkan dan lempar tanggung jawab, bersikap serampangan tak mengerti prioritas, gaya bicara berantakan, mementingkan citra, dan berlindung dibalik buzzer-buzzer militan.

Pada akhirnya lantai panggung yang dipijak tokoh politik tadi semakin tipis. Semakin dekat waktunya untuk terperosok. Orang lain yang dulu memuji kini balik habis-habisan mengkritisi.

Lalu hadirlah sang antitesa, Anies Baswedan, dengan panggung yang setia menadahi langkah-langkahnya. (*)

*Penulis: Zico Alviandri (Pegiat Media Sosial)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita