Sabtu, 19 September 2020

Pemikiran Salah, Biarkan Wabah COVID-19 Sampai Terbentuk “Herd Immunity”

Pemikiran Salah, Biarkan Wabah COVID-19 Sampai Terbentuk “Herd Immunity”

Jakarta, Swamedium.com — Pemikiran ini didasarkan atas asumsi rendahnya angka kematian (case fatality rate, CFR) akibat SARS-CoV-2 yg “hanya” sekitar 4-5%. lebih rendah dibandingkan wabah MERS-CoV (35%) atau Ebola (50-60%).

Lalu, akhirnya punya pemikiran yg lebih berbahaya lagi:

“Biarkan saja wabah SARS-CoV-2 menyebar, menginfeksi masyarakat luas, sampai terbentuk herd immunity secara alamiah.”

Pemikiran ini berbahaya dan SANGAT KEJAM karena:

1. Konsep herd immunity ini adalah konsep yang ada dalam vaksinologi. Saya yakin netizen yg budiman tau apa beda “vaksin” dengan “infeksi alamiah”.

Dalam vaksinasi, kita usahakan cakupan vaksinasi (vaccination coverage) mendekati 100%, meskipun sulit (bahkan mustahil) karena sebagian populasi mgkin memiliki kontraindikasi tindakan vaksinasi.

Kita bisa menilai, siapa yang bisa divaksin siapa yang tidak, misalnya para penderita dengan immunocopromised.

Tapi, jika itu infeksi beneran, apakah kita bisa nyuruh si virus SARS-CoV-2, “Hey, virus, kamu infeksi orang-orang sehat saja ya. Yang orang-orang tua umur >60 tahun, dgn gangguan penyakit sebelumnya seperti hipertensi, jantung, dll, jangan kamu infeksi.”

Emang si virus akan manut, gitu?

2. Jika kita biarkan menyebar, lalu berapa banyak penduduk yg harus kita “korbankan”?

Asumsi: jika utk mencapai herd immunity melawan SARS-CoV-2 itu diperlukan 80% populasi harus imun, dengan angka kematian (CFR) 5%.

Penduduk Indonesia taruhlah 250 juta jiwa.

80% x 250 juta = 200 juta harus terinfeksi SARS-CoV-2.

5% x 200 juta = 10 juta harus meninggal dulu “demi mencapai herd immunity.”

Bayangkan jika 10 juta itu sahabat2 kita, teman2 kita, anak2 kita, keluarga kita, anak/istri kita, masih berani ngomong biarkan sj wabah menyebar?

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.