Jumat, 03 April 2020

Perusahaan Ojol, Jangan Tinggalkan Drivermu Menanggung Beban Sendirian

Perusahaan Ojol, Jangan Tinggalkan Drivermu Menanggung Beban Sendirian

Salah satu unjuk rasa yang dilakukan para pengemudi ojek online. (foto: ist)

Jakarta, Swamedium.com — Ini mengenai acara ILC semalem, yang juga mendatangkan Bapak Ginanjar, seorang ojek online (ojol), yang mengeluhkan pendapatannya hariannya sebagai pekerja dengan pendapatan harian akhir-akhir ini akibat kebijakan sosial distancing atau physical distancing yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Saya yakin, keluhan yang disampaikan oleh Bapak Ginanjar juga merupakan keluhan bagi hampir semua driver ojol di Indonesia, terutama yang di Jakarta.

Kenapa para penelis yang ada disitu, termasuk Pak Fajroel Rahman sebagai Juru Bicara Istana, dan Bang Haris Azhar sebagai aktivis pemerhati permasalahan kaum urban, bahkan sang moderator sendiri, Bang Karni Ilyas juga sama sekali tidak menyinggung perushaan ojol atau tidak mengarahkan tanggung jawab para driver ojol tersebut kepada perusahaan ojek online tempat para driver ojol tersebut ‘bernaung’, atau bekerja sama menjalankan bisnis jika tidak ingin disebut ‘bernaung’, seperti Gojek dan Grab?

Harusnya, permasalahan tidak adanya pendapatan harian, atau tidak terpenuhinya pendapatan harian para driver ojol tersebut juga menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan ojol yang menjadikan para driver ojol tersebut sebagai partner bisnisnya. Jangan hanya pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang ditekan. Sementara perusahaan ojol bisa ‘lepas tangan’.

Harusnya ada social responsibility dari perusahaan-perusahaan ojol tempat para driver ojol tersebut bekerja sama menjalankan bisnis (jika tidak ingin disebut ‘bernaung’).

Jika perusahaan ojol beralasan bahwa para driver ini hanyalah partner saja, bukan karyawan atau bagian dari perusahaan ojek online tempat mereka, hey.. dengan ‘mengangkat’ atau menjadikan para driver tersebut sebagai ‘partner’ perusahaan, apalagi ketika para driver ini bekerja, diwajibkan mengenakan atribut baik jaket, helm, dll (bukan cuma sekedar aplikasinya saja) dari perusahaan ojol yang menjadikan para driver tersebut ‘partnership’, maka secara tidak langsung ada legacy yang diemban oleh keduanya, baik perusahaan ojol maupun driver ojol. Dan, ada legalitas kerjasama ‘partnership’ dalam menjalankan bisnis ojek online tersebut.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.