Rabu, 12 Agustus 2020

Jokowi, Raja Pasca Jawa?

Jokowi, Raja Pasca Jawa?

Foto: Sepeda motor yang dikendarai Presiden Jokowi tertangkap kamera tidak menyalakan lampu utama. Saat itu tidak ada tindakan penilangan oleh Polantas. (Detikcom)

Jakarta, Swamedium.com — Lamun sira sekti aja mateni, lamun sira banter aja ndisiki, lamun sira pinter aja minteri.

Presiden Joko Widodo hampir tidak pernah mengutip filosofi kekuasaan Jawa dalam komunikasi politiknya. Tapi, beberapa saat setelah pelantikannya sebagai presiden periode kedua Juli 2019 lalu, Jokowi mengutip tiga butir filosofi kekuasaan Jawa: Kalau kamu perkasa jangan membunuh, kalau kamu kencang jangan mendahului, kalau kamu pintar jangan memintari

Di antara tujuh presiden Indonesia, semua, kecuali Habibie, adalah orang Jawa. Tapi, di antara mereka hanya Soeharto yang secara rutin mengutip falsafah Jawa sebagai falsafah politik dan pemerintahannya.

“Presiden Jawa” lainnya nyaris tak pernah mengutip falsafah Jawa. Bung Karno lebih asyik dengan referensi pemikir-pemikir dunia, baik dari Barat, Timur, dan pemikiran-pemikiran klasik Yunani dan lainnya.

Sepeninggal Pak Harto, Presiden Gus Dur lebih identik dengan budaya dan khazanah pemikiran pesantren dalam kutipan-kutipannya. Sebagaimana Bung Karno, Gus Dur mempunyai referensi filsafat politik yang sangat kaya, dan karenanya dia tidak secara spesifik merujuk pada filsafat Jawa dalam pidato-pidatonya.

Di era Megawati kita tidak terlalu sering mendengar ide-idenya mengenai filsafat politik selain kosa-kata Jawa yang diulang-ulang di berbagai kesempatan, yaitu “wong cilik”. Selebihnya kita tidak pernah mendengar apa pun.

Habibie berusaha melakukan emulasi dalam beberapa filosofi Pak Harto yang menjadi mentornya. Tapi, Habibie adalah mesin made in Germany yang sophisticated dan serba mekanik-positivistik, mangkus dan sangkil, efektif-efisien. Tak cocok dengan filosofi kekuasaan Jawa, kekuasaan Habibie hanya seumur jagung dan berakhir karena kudeta politik orang-orang sekitarnya di Partai Golkar.

Susilo Bambang Yudhoyono seharusnya paling Jawa dibanding tiga pendahulunya pasca-Soeharto. Tapi, meskipun dalam solah bawa, tingkah laku, SBY adalah seorang ksatria Jawa, tapi dia adalah jenderal didikan Amerika yang berpikiran demokratis global. Dia berperilaku Jawa tapi berpikir global.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.