Jumat, 22 Januari 2021

Dokter Tifauzia Kirim Surat Terbuka ke Anies, RK, Ganjar, dan Khofifah

Dokter Tifauzia Kirim Surat Terbuka ke Anies, RK, Ganjar, dan Khofifah

Foto: Dokter Tifauzia Tyassuma.

Jakarta, Swamedium.com — Tifauzia Tyassuma seorang dokter yang juga penulis mengirimkan surat terbuka yang ditujukan kepada empat Gubernur di Pulau Jawa. Surat tersebut menyoroti adanya indikasi pembiaran terhadap wabah virus corona atau Covid-19 hingga terbentuk ‘herd immunity’ yang dilakukan Pemerintah.

Banner Iklan Swamedium

Peniliti AHLINA Institute itu menulis surat terbuka melalui laman Facebooknya, Jumat (10/4).

Yth Mas Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta
Yth Kang Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat
Yth Mas Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah
Yth Mbak Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur

Surat terbuka ini saya sampaikan kepada Mas dan Mbak Gubernur masing-masing daerah Mangkok Merah. Terutama tertuju kepada sahabat saya, Mas Anies Baswedan, sebagai Pemimpin Daerah Epicentrum COVID19 di Indonesia, demi keselamatan seluruh Rakyat Indonesia.

Saat ini, sesuai dengan prediksi yang telah saya sampaikan di berbagai media sejak minggu kedua bulan Maret 2020. Ditambah dengan hasil kajian Gabungan Peneliti Matematika dan Epidemiologi, maka pada akhir minggu kedua bulan April 2020, Jakarta sudah memiliki angka positif sebesar 32.000+ kasus COVID19. Dengan demikian maka bisa diperkirakan besaran kasus positif di Indonesia sebanyak 45.000+ di seluruh Indonesia. Dengan kasus ODP diperkirakan sebesar 1.215.000.

Dengan besaran angka tersebut, maka Indonesia masuk dalam tahapan ketiga dari persebaran COVID19, setelah tahapan kedua yaitu Local Transmitted, terlampaui. Tahapan ketiga adalah HERD IMMUNITY.

Karena surat terbuka ini saya sampaikan melalui sosial media dengan kemungkinan dibaca oleh seluruh rakyat Indonesia dari berbagai tingkatan pendidikan, maka izinkan saya memberikan gambaran secara sederhana, apa yang dimaksud dengan Herd Immunity.

Dahulu kala, ketika negara masih berada dilindungi oleh Benteng, ketika terjadi pecah perang antar negara, dan musuh diperkirakan akan merangsek masuk ke dalam negara, maka PINTU GERBANG negara itu harus cepat-cepat ditutup, agar musuh tak bisa masuk ke dalam negara tersebut.

Perumpamaan inilah yang saya sebut sebagai LOCKDOWN TERITORIAL, yang di minggu pertama bulan Maret 2020 telah saya sampaikan dengan kencang melalui berbagai media.

Sayang karena, imbauan saya untuk segera menutup pintu gerbang negara dalam bentuk Lockdown teritorial tidak juga dilaksanakan oleh negara secara tegas, maka hasilnya adalah musuh berhasil masuk ke dalam negara.

Pada tahapan ini, COVID19 masuk dalam tahapan Local Transmitted. Pada kondisi ini, tindakan lockdown menjadi tidak relevan lagi.

Akibat dari tidak adanya persiapan Screening test yang baik, tata kelola pandemik, keterlambatan keputusan dan ketidakjelasan instruksi, maka dalam waktu amat dekat, social distancing yang jauh dari disiplin, physical distancing yang sangat sulit ditegakkan, penguatan fasilitas kesehatan dan perlindungan terhadap Nakes, maka dalam waktu cepat, situasi berubah begitu drastis.

Virus COVID19 sudah masuk menjebol pintu rumah-rumah penduduk, mengincar penduduk dengan imunitas rendah, yaitu 1)Lansia dan 2)orang dengan komorbid (penyakit penyerta) 3) Ibu hamil. Mengincari siapa saja, tak memenuhi kriteria pun terserang juga dengan ganas.

Ketika virus COVID19 sudah masuk ke dalam rumah-rumah penduduk, saat itu menjadi sangat sulit untuk mengidentifikasi, siapakah yang sudah terpajan dan siapa yang belum. Dan pada titik dimana grafik menanjak dengan cepat, saat itulah terjadi keadaan yang bernama HERD IMMUNITY.

Pasien positif akan menyebarkan virus dari dalam tubuhnya, karena dia sama sekali tidak merasakan satu gejala pun. Akibat Herd Immunity, terciptalah golongan spesifik, penyebar Virus tanpa gejala tanpa terdeteksi, yang adalah SIAPAPUN JUGA, terutama Pemukim dari yang berasal dari MANGKOK MERAH, provinsi-provinsi dimana Mas dan Mbak menjadi Kepala Daerahnya.

Karena itu di tahap paling awal dari fase dimulainya HERD IMMUNITY ini, menjelang Ramadhan dan Lebaran, saya mengusulkan agar:

1. Larangan serentak, dilakukan secara bersama dan koordinatif, dijalankan secara tegas, dengan perintah yang jelas, agar tidak terjadi arus pemudik DARI Mangkok Merah MENUJU ke daerah asal pemudik.

2. Penapisan kepada Pemudik yang telanjur masuk ke daerah asal secara lebih intensif, agar penduduk terutama di pedesaan, yang sama sekali belum terpajan COVID19, terutama Para Lansia, bisa terlindungi dari kontak dengan Para Pemudik dari Mangkok Merah, yang kemungkinan besar adalah PDP atau OTG.

3. Mengawasi secara ketat dan bila perlu melakukan isolasi 14 hari kepada Para pemudik yang telanjur masuk ke daerah asal, agar mereka tidak menyebarluaskan COVID19 tanpa mereka sadari.

4. Menyiapkan Rumah-rumah dan Pemukiman Isolasi sebanyak mungkin untuk menampung Penduduk ODP/Suspect PDP dan OTG, yang kemungkinan besar dalam waktu kurang dari satu bulan, jumlahnya akan meledak.

5. Menyiapkan Paket Sembako Gratis dan Sembako Murah, yang berisikan Makanan sehat terutama dari unsur tetumbuhan seperti Beras Pecah Kulit/Beras merah, Ubi, Talas, Jagung, Kentang, Wortel, Sayur dan buah tahan lama, Kacang hijau dan kacang-kacangan, juga telur. Mohon agar tidak memberikan Paket Sembako yang berisikan tepung terigu, gula pasir, mie instan, makanan kaleng yang justru akan semakin menurunkan Status Imunitas Penduduk.

Demikian surat terbuka ini saya sampaikan kepada Mas dan mbak Gubernur daerah Mangkok Merah, terutama Gubernur DKI Jakarta, yang menjadi epicentrum penularan COVID19 di Indonesia.

Semoga ikhtiar Para Gubernur dengan gerak cepat, tangkas, sigap, tanpa menunda satu haripun, bermanfaat untuk menahan jatuhnya korban lebih banyak, dalam bencana COVID19, yang sungguh membahayakan Rakyat Indonesia.

Salam hormat,

Tifauzia Tyassuma
Dokter, Peneliti, Penulis
AHLINA Institute

(Bersambung)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita