Selasa, 19 Januari 2021

Anarko Sindikalis

Anarko Sindikalis

Foto: Kelompok Anarko.

Jakarta, Swamedium.com — Kita harus cermat dan hati-hati dengan yang namanya kaum anarko sindikalis. Mengingat watak ideologisnya yang ngambang. Kalau ke kanan kanan abis, kalau ke kiri kiri sampai mentok. Bahkan kemudian terpelanting kembali ke kanan. Sehingga rentan untuk dijadikan sasaran operasi bendera palsu alias False Flag Operation.

Banner Iklan Swamedium

Kalau menelisik kesejarahan kaum anarko ini, kelompok ini sudah diingatkan
bung karno tahun 1947. Waktu mendesak sutan sjahrir dibebaskan dari penculikan. Artinya kelompok ini memang eksis. Tp ideologinya ngambang. Rentan jadi alat permainan yang mereka sendiri nggak sadari. Sehingga mudah jadi sasaran operasi bendera palsu.

Siapakah kelompok anarko ini?

Kelompok2 sayap kiri yang mengasosiasikan dirinya dengan kaum Trotzkis, kelompok penganut anarkisme ala Michail Bakunin, kelompok2 pseudo sosialis yang hakekatnya dalam kendali kelompok2 neoliberal, proto komunis atau embrio komunis (belum benar2 komunis secara ideologis kecuali dalam hal radikalismenya saja. Mereka semua kemudian nyampur jadi satu sebagai sebuah konsorsium. Bisa ditebak toh program pokoknya.

Mengingat wataknya kaum anarko yang rentan jadi sasaran operasi bendera palsu, maka kelompok ini pada kenyataanya seringkali jadi arena proxy antar komunitas intelijen yang mengabdikan kepentingannya pada korporasi dan kelompok2 mapan di republik kita.

Inilah yang oleh Bung Karno kelompok semacam ini boleh jadi revolusioner, tapi
tidak progresif revolusioner.

Saya kemarin singgung sekilas tentang kaum anarko sindikalis. Kaum anarko
sindikalis simbol dari kekacauan ideologi, kalau sejauh yang saya pelajari. Bahkan para teoritisi konspirasi yang biasa berpikir ngelantur dan khayali sekalipun, dibuat bingung oleh ulah kaum anarko sindikaslis ini.

Di beberapa negara maju seperti AS dan Eropa Barat, lebih membingungkan lagi.
Ada kelompok yang sangat rasis dan cenderung ultra kanan, namun rujukan
bacaan2nya dalam gerakan dan aksi mereka adalah: Vladimir Ulyanov Lenin, Rosa
Luxemburg, Pleckanov, Leon Trotzky atau Mao Zhedong. Sementara nama-nama tokoh
tersebut justru rujukan kalangan kader-kader sosialis sayap kiri dari berbagai
spektrum.

Sementara kalangan sayap kiri sebagai rujukan gerakan dan aksinya dengan
antusias dan tanpa dosa baca buku Mein Kampf karya Adolf Hitler atau buah
karya Benito Mussolini, yang dalam bacaannya terkandung sentimen anti Yahudi
dan dukungan terhadap kebijakan2 berbasis rasisme. Bahkan ada juga yang
merujuk pada karya2 beberapa pemikir keagamaan yang seringkali dipandang
sebagai berhaluan radikal atau bahkan fundamentalis.

Namun, itulah watak dasar kaum anarko sindikalis, yang mana watak ideologisnya
mengambang di udara dan tidak pernah membumi. Sehingga dalam setiap operasi
intelijen yang dilancarkan negara atau aneka kelompok kepentingan yang ingin
mempertahankan statusquo, kaum anarko ini sangat rentan untuk dijadikan arena
perang proxy antar berbagai kepentingan. Sehingga tidak pernah independen
dalam dirinya sendiri.

Anarko Sindikalis=KKO(Kanan Kiri Oke)

Untuk saat ini yang perlu diwaspadai adalah adanya ”False Flag Oprration”. Dan
ini sudah mulai jalan. Mungkin sudah masuk dalam bagian atau tahapan menuju ke
skema.

Apa dengan terbongkarnya rencana aksi yang katanya kaum anarko itu, berarti
skenario rusuh sosial ala 1998 berhasil digagalkan? Belum tentu. Bisa saja ini
sebagai jejak untuk deception alias penyesatan.

Makanya terkait pembebasan yang katanya 30 ribu napi itu, apakah harus kita
baca secara linear? Bahwa ini memang diterjunkan untuk rusuh?

Atau, wacana pembebasan napi ini hanya untuk tabir. Bahwa sebenarnya ada
kekuatan lain tidak kasat mata yang justru sedang merancang false flag
operation? Sebab wacana bergulirnya pembebasan napi beberapa waktu lalu, saya
ingat jurus MI-6 Inggris, merilis dis informasi yang diinformasikan, untuk
menciptakan aksi destabilisasi. Macam Gilchrist Document juga lah.

Kalau kemungkinan kedua yang terjadi, berarti akan bermuara pada Darurat
Sipil. Untuk tujuan apa? Untuk menyelamatkan apa yang diistilahkan oleh Bung Karno dulu sebagai “Kapitalismus imniedergang” atau kapitalisme yg sedang
sekarat. Caranya? Melalui sistem fasisme. Negara mengambil-alih kapitalisme
untuk diselamatkan dan dilindungi.

Maka, rakyatlah yang sengsara.

Kita tidak pernah secara kasat mata diperlihatkan keluarnya 30 ribu napi itu.
Jangan jangan hanya upaya menanamkan pikiran di benak.

Mungkin seperti ini skenarionya. Isu bebasnya napi bersamaan dengan isu anarko
diluncurkan. Keduanya isu, apa agenda: kerusuhan. Logika publik akan digiring
seakan -akan merupakan efek lockdown. Skemanya? Ahaay. Ngerti sendiri dong.

Dalam bahasa Sukarno , Kaum Anarko Sindikalis disebut sebagai “ kaum yang
hanya Destruksi saja tanpa konstruksi”. Dan Sebaliknya ada ” kaum yg
konstruksi saja tanpa destruksi”. Ini yang disebut Sukarno sbg kaum Reformis.
Selanjutnya kata Sukarno, hendaknya kita jangan menjadi kedua kaum tersebut.
Jangan menjadi kaum reformis dan jangan menjadi kaum Anarkis. Tapi jadilah
kaum yg REVOLUSIONER, ysitu kaum yg memadukan , mensimfonikan proses Destruksi dan proses konstruksi. “ Hancurkan tatanan lama dan bangun tatanan baru”.

Pada akhirnya, kaum anarko itu semacam penganut nihilisme. Dan model beginian
ini, bukan saja berguna untuk dimainkan untuk skenario rusuh. Bahkan untuk
terorisme.

Bahkan para ideolog komunis sekalipun, sekelas Lenin dan Mao, sangat menentang
kerjasama dengan kelompok model beginian.

Apalagi Lenin punya dendam pribadi juga tehadap kaum anarko yang menganut
nihilisme itu. Kakaknya, Alexander, yang dia idolakan, tewas gegara terbujuk
teman temannya yang nihilis, dan mengajaknya bikin aksi teror bom terhadap
Czar Nicholas II. Begitu tertangkap, tentu saja digantung mati. Sejak saat
itu, Lenin bertekad untuk meruntuhkan kekaisaran Rusia, dengan kombinasi
antara kekuatan gagasan, jaringan terorgansir yang berbasis klas pekerja, dan dengan dukungan kekuatan bersenjata. Makanya dia bilang, tak akan ada
revolusi, tanpa adanya teori tentang revolusi.

Tidak tepat juga kalau dibilang kaum anarko ini dibina intelijen. Sebab dalam
watak ideologisnya itu sendiri, sudah menciptakan mekanisme internal untuk
mengundang pihak luar masuk. (*)

*Penulis: Hendrajit (Direktur Eksekutif Global Future Institute)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita