Kamis, 24 September 2020

Suriah Barat Laut, Sebuah Awal Tragedi Covid-19

Suriah Barat Laut, Sebuah Awal Tragedi Covid-19

Foto: Ilustrasi virus corona atau covid-19  (Freepik)

Idlib, Swamedium.com — Rumah sakit yang dikelola bersama Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas di Idlib (Suriah Barat Laut), pada Rabu (8/4) menerima seorang pria berusia 65 tahun, menderita kondisi jantung, dan menunjukkan gejala COVID-19, seperti gangguan pernapasan akut dan demam. Setibanya di sana, ia langsung dirawat di tenda observasi di luar rumah sakit. Tenda ini didirikan oleh MSF sebagai bagian dari respons COVID-19. Tim memberinya oksigen dan perawatan medis terbaik, sambil menunggu ambulans untuk merujuknya ke struktur khusus untuk tes dan tindak lanjut, sesuai dengan rencana rujukan yang disepakati antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan aktor kesehatan di wilayah tersebut.
 
Staf medis kemudian mencoba mengatur rujukannya dengan menghubungi dua fasilitas. Satu yang didedikasikan oleh WHO dan yang lainnya oleh otoritas kesehatan setempat, untuk menangani kasus COVID-19 yang dicurigai atau dikonfirmasi. Namun, tidak satu pun dari dua rumah sakit tersebut bisa menampungnya. Salah satunya tidak memiliki persediaan yang diperlukan dan satu lagi belum siap untuk menerima pasien COVID-19 yang diduga atau dikonfirmasi. Begitu juga layanan ambulans rujukan juga belum siap untuk melakukan transfer pasien.
 
“Terlepas dari berbagai penolakan ini, tim medis terus mencari solusi untuk pasien ini”, jelas Cristian Reynders, Koordinator Lapangan MSF untuk Suriah Barat Laut. Satu jam setelah kedatangan pasien di fasilitas yang dikelola bersama MSF, tim pengawasan penyakit WHO datang untuk mengambil sampel uji yang dikonfirmasi. Dua puluh empat jam kemudian, hasil tesnya menyatakan pasien tidak menderita COVID-19.
 
Kemudian pada hari yang sama, ambulans lain dimobilisasi untuk mengangkut pasien ke rumah sakit pertama yang dihubungi, yang telah melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan. Sementara itu, untuk mendapatkan persediaan yang diperlukan agar dapat merawat pasien ini, dengan segala kekurangannya, bahkan tidak adanya alat perlindungan diri (APD) untuk digunakan ketika mengobati pasien tersebut.
 
“Kejadian ini menunjukkan dua pelajaran penting. Satu yang kami tahu dan satu lagi yang kami khawatirkan. Sudah rahasia umum bahwa sistem kesehatan di Idlib benar-benar kewalahan dan persediaannya sedikit. Dan situasi yang sudah terlanjur sulit ini akan lebih susah lagi jika COVID-19 menyebar di sini. Hanya dengan satu kasus diduga saja telah menunjukkan bahwa wilayah ini akan berjuang untuk mengatasi pandemi ini,” jelas Cristian Reynders.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.