Minggu, 18 Oktober 2020

Menguji Kesejatian Pemimpin Menghadapi Pandemi Covid-19

Menguji Kesejatian Pemimpin Menghadapi Pandemi Covid-19

Foto: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Tulisan ini menyoroti kepemimpinan Anies Baswedan dan Ridwan Kamil dalam situasi krisis ditengah wabah pandemi Covid-19

Jakarta, Swamedium.com — Di setiap krisis merupakan momentum yang tepat sebagai pembelajaran untuk menilai seorang pemimpin. Menilai kepercayaannya, kapasitasnya, komitmen kerakyatan dan integritasnya.

Tentu kehadiran virus Corona (covid 19) yang dampaknya sungguh dasyat, bukan hanya ancaman bahaya kelangsungan hidup dan penderitaan lahiriyah maupun batiniah, tapi juga ada hikmah besar yang dapat dipetik. Covid 19 menjadi ujian bagi setiap pemimpin yang membuka mata hati rakyat untuk melihat kesejatian seorang pemimpin bangsa dalam menghadapi krisis atau musibah besar.

Kesejatian seorang pemimpin bangsa apabila dia peka melihat suatu masalah dan ancaman yang membebani dan menyulitkan rakyat. Beban itu langsung diangkat dan ditaruh dipundaknya. Dia langsung mengambil insiatif, menetapkan kebijakan yang penting untuk dijalankan. Bukan menunggu situasi dan terus menunggu. Wait and see sebagai gaya kepemimpinan yang lalai melihat suatu ancaman. Tidak peka melihat suatu krisis didepan mata.

Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta dan Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat adalah dua sosok Pemimpin yang mampu menunjukkan kesejatian diri seorang Pemimpin. Tentu sebagai manusia biasa tak lepas dari kekurangan.

Dalam wawancara di acara ILC TV One malam (14-04-20) Anies dan Kamil menunjukkan kesejatian seorang Pemimpin. Seorang pemimpin yang berbobot dan berjiwa besar. Tutur katanya lembut dan sistematis. Jauh dari kontraversi dan kegaduhan. Cara mereka mengkomunikasikan masalah sangat komprehensif menujukkan bahwa mereka memang sangat profesional menguasai masalah. Juga menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sebagai modal kesejatian seorang pemimpin. Modal seperti ini kadang dipandang remeh oleh pemikiran yang picik, sempit dan tidak tumbuh. Hanya melihat modal itu dalam sosok kapital (modal). Era kelimpahan sekarang ini, muncul tawaran untuk jabatan organisasi dan jabatan publik kepada mereka yang punya kapital (modal) yang besar mengesampingkan pengetahuan dan wawasan yang luas. Bahkan bisa mengesampingkan integritas. Modal itu berdampak dalam menjalankan kepemimpinan. Akibatnya muncul penyalah gunaan jabatan secara berjma’ah.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.