Jumat, 22 Januari 2021

Menguji Kesejatian Pemimpin Menghadapi Pandemi Covid-19

Menguji Kesejatian Pemimpin Menghadapi Pandemi Covid-19

Foto: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Tulisan ini menyoroti kepemimpinan Anies Baswedan dan Ridwan Kamil dalam situasi krisis ditengah wabah pandemi Covid-19

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Di setiap krisis merupakan momentum yang tepat sebagai pembelajaran untuk menilai seorang pemimpin. Menilai kepercayaannya, kapasitasnya, komitmen kerakyatan dan integritasnya.

Tentu kehadiran virus Corona (covid 19) yang dampaknya sungguh dasyat, bukan hanya ancaman bahaya kelangsungan hidup dan penderitaan lahiriyah maupun batiniah, tapi juga ada hikmah besar yang dapat dipetik. Covid 19 menjadi ujian bagi setiap pemimpin yang membuka mata hati rakyat untuk melihat kesejatian seorang pemimpin bangsa dalam menghadapi krisis atau musibah besar.

Kesejatian seorang pemimpin bangsa apabila dia peka melihat suatu masalah dan ancaman yang membebani dan menyulitkan rakyat. Beban itu langsung diangkat dan ditaruh dipundaknya. Dia langsung mengambil insiatif, menetapkan kebijakan yang penting untuk dijalankan. Bukan menunggu situasi dan terus menunggu. Wait and see sebagai gaya kepemimpinan yang lalai melihat suatu ancaman. Tidak peka melihat suatu krisis didepan mata.

Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta dan Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat adalah dua sosok Pemimpin yang mampu menunjukkan kesejatian diri seorang Pemimpin. Tentu sebagai manusia biasa tak lepas dari kekurangan.

Dalam wawancara di acara ILC TV One malam (14-04-20) Anies dan Kamil menunjukkan kesejatian seorang Pemimpin. Seorang pemimpin yang berbobot dan berjiwa besar. Tutur katanya lembut dan sistematis. Jauh dari kontraversi dan kegaduhan. Cara mereka mengkomunikasikan masalah sangat komprehensif menujukkan bahwa mereka memang sangat profesional menguasai masalah. Juga menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sebagai modal kesejatian seorang pemimpin. Modal seperti ini kadang dipandang remeh oleh pemikiran yang picik, sempit dan tidak tumbuh. Hanya melihat modal itu dalam sosok kapital (modal). Era kelimpahan sekarang ini, muncul tawaran untuk jabatan organisasi dan jabatan publik kepada mereka yang punya kapital (modal) yang besar mengesampingkan pengetahuan dan wawasan yang luas. Bahkan bisa mengesampingkan integritas. Modal itu berdampak dalam menjalankan kepemimpinan. Akibatnya muncul penyalah gunaan jabatan secara berjma’ah.

Anies besar dalam keluarga kelas menengah yang terdidik dan agamis. Ayahnya Drs. Rasyid Baswedan adalah seorang dosen. Sedangkan ibunya Prof. Dr Aliyah Rasyid adalah seorang gurubesar ilmu sosial dan politik. Kakeknya AR Baswedan seorang pejuang/Pahlawan Nasional dan tokoh Masyumi.

Dengan latar belakang keluarga itu, menginspirasi dan memotivasi hidupnya. Menjadi seorang aktivis Islam (HMI) dan aktivis pada level organisasi kepemudaan international. Seorang pembelajar dan pemikir. Alumnus UGM dan Master International Security and Economic Policy dari University Maryland. Aktif menulis di journal International. Mantan Rektor Universitas Paramadina ini oleh Majalah Foreign Policy dimasukkan dalam Daftar 100 intellectual Public Dunia.

Karena itu, jangan heran kalau kepemimpinan Anies selalu bermula dari ide (gagasan) baru action. Tetapi dalam menghadapi covid 19, Anies betul-betul langsung action. Terlihat sebagai seorang praktisi dan problem solver yang profesional dan efektif.

Kamil juga berasal dari lingkungan keluarga yang agamis dan cerdik pandai atau kelas menengah. Ayahnya Dr. Atjeh Misbach, SH, seorang ahli hukum dan keturunan Kiyai Muhyidin, pendiri pesantren di Subang dan Sumedang. Ibunya pun seorang sarjana. Emil pernah menjadi santri. Perpaduan moral agama dan pengetahuan umum, ahli Tata Kota, alumnus ITB dan Master dari California University, Berkeley.

Pengalamannya sebagai aktivis dan pengusaha sukses dibidang design bangunan. Memperoleh penghargaan International. Semuanya membangun jatidiri kepemimpinannya sebagai pemimpin yang memiliki kekuatan moral, dinamis, kreatif, pekerja keras, sarat dengan ide dan penuh insiatif.

Dengan kombinasi latar belakang agamis dan pendidikan umum, membuat Anies dan Emil memiliki karakter kepemimpinan yang kuat secara moral dan inklusif, dapat diterima secara luas.

Dengan latar belakang tersebut diatas kedua pemimpin memang memiliki modal yang memadai untuk jadi pemimpin yang penting dan strategis. Dia tidak seperti pemimpin karbitan dan orbitan oleh para mafia pemodal atau pemimpin yang bisa jadi pelayan pemodal dan asing.

Latar belakang Anies dan Kamil itulah menanamkan suatu kepercayaan yang kuat dalam hatinya untuk melihat masalah, menginspirasi kebijakan dan tindakan.
Baik Anies maupun Kamil mengekspresikan kepercayaan seorang Pemimpin yang sejati. Para ahli pencerahan mengatakan bahwa seluruh wujud mimpi mimpi kita ditentukan oleh kepercayaan yang kita anut. Anies dan Kamil telah menujukkan kepercayaan yang kuat. Mereka menunjukkan rasa kemanusiaan yang tinggi. Anies berkali kali mengatakan kalau kehilangan kerja masih bisa dicari, tapi kehilangan nyawa tidak mungkin bisa kembali. Menghargai satu nyawa rakyatnya menunjukkan kesejatian seorang Pemimpin. Kamil juga sampai menyebutkan sila kedua dari Pancasila yang mendasari semangatnya melawan covid 19. Kepercayaan seperti itu, sangat kontra dengan pernyataan Pemimpin bangsa yang mengatakan tidak perlu takut, karena yang meninggal cuma 2 – 3 persen saja dari yang terjangkiti. Tapi kenyataannya di Indonesia beda. Yang meninggal diatas rata-rata 8 persen (tertinggi di dunia).

Ada juga pemimpin yang mengatakan dari 270 juta cuma 500 yang meninggal. Betapa kurang menghargai nyawa rakyatnya. Kalau takdir tidak bisa ditolak, tetapi sebagai pemimpin mesti bisa menujukkan empati. Sudah salah ucap juga meremehkan masalah dan nyawa manusia.

Anies Baswedan memimpin Jakarta dengan penduduk 10, 57 jt (BPS 2020). Kamil memimpin Jawa Barat Barat dengan penduduk 49,94 juta. Bandingkan dengan Italia punya penduduk 60,36 jt. Jadi boleh dikata Anies dan Emil punya kapasitas memimpin suatu negara.

Ketika Anies tahu kalau virus Corona sudah menjangkiti rakyatnya di Jakarta dan mengancam seluruh rakyat nya, dia langsung menaruh beban itu dipundaknya. Anies prihatin. Karena itu dia segera menaruh beban itu dipundaknya sehingga Anies tidak menyalahkan pihak lain. Juga Kamil mengatakan tidak perlu saling menyalahkan. Mari kita bersatu.

Anies sadar bahwa Jakarta adalah pusat lalu lintas international dan nasional. Jakarta merupakan tolak ukur dan cermin untuk melihat Indonesia. Karena itu, perlu cara penanganan yang cepat dan cermat. Melihat penyebaran covid 19 begitu cepat, dia langsung memikirkan lockdown. Tapi posisi sentral Jakarta sebagai ibu kota negara, membuat Anies seperti terjepit karena setiap langkah mesti persetujuan pemerintah Pusat (Presiden). Walaupun demikian Anies tidak kehilangan insiatif. Langkahnya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan melakukan rekruitmen Tenaga Pelayan Kesehatan sebagai antisipasi perkembangan yang lebih buruk.

Ternyata langkah Anies menerapkan PSBB di Jakarta diteladani dan diikuti oleh Kamil untuk Jawa Barat dan daerah lainnya.

Kamil sebagai sosok pemimpin yang sejati, menunjukkan profesionalisme tinggi dengan menguasai masalah sampai detail. Sangat peduli pada rakyatnya disemua level (strata) sosial, dari kota ke desa, dari atas kebawah sampai beliau memperhatikan nasib office boy. Juga nasib orang pendatang. Beliau berkata “saya jamin tidak ada yang kelaparan. Suatu komitmen kemanusiaan yang tinggi pada rakyatnya.

Perlu dicatat bahwa baik Anies maupun Kamil keduanya adalah tokoh independen (non partai). Tapi memperoleh dukungan partai-partai untuk maju sebagai Pemimpin. Anies didukung oleh Gerindra dan PKS. Sedangkan Kamil didukung oleh Nasdem dan PPP. Tapi obsesi dan daya tarik tertinggi ada pada kekuatan pribadi mereka dan ketepatan partai-partai melihat peluang dan menyeleksi Pemimpin.

Demikianlah hikmah covid 19 membuat kita sebagai bangsa sadar tentang sosok pemimpin yang dibutuhkan oleh rakyat. Semoga jadi teladan dan inspirasi semuanya dimasa depan Indonesia yang makin sejahtera dan maju. (*)

*Penulis: Asp Andy Syam (Warga yang peduli pada Kepemimpinan Bangsa)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita