Senin, 23 November 2020

Begini Kronologi Peretasan Akun Whatsapp Ravio yang Berujung Penangkapan

Begini Kronologi Peretasan Akun Whatsapp Ravio yang Berujung Penangkapan

Ilustrasi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Seorang peneliti kebijakan publik dan pegiat hukum, Ravio Patra disebut telah ditangkap oleh pihak kepolisian pada Rabu, 22 April 2020 pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.

Beberapa saat sebelum Ravio ditangkap oleh pihak kepolisian pada Rabu malam, 22 April 2020 ponsel Ravio Patra diretas oleh orang tak dikenal.

“Kami mendapat informasi bahwa Ravio Patra ditangkap semalam oleh intel polisi di depan rumah aman,” kata Koordinator SAFEnet Dama Juniarto melalui keterangan tertulis yang diterima pada Kamis siang, 23 April 2020.

Damar menjelaskan, pada Selasa, 21 April 2020 pukul 14.00 WIB, Ravio mengadu kepada SAFEnet bahwa ada yang meretas WhatsAppmiliknya.

“Ketika ia mencoba menghidupkan WhatsApp, muncul tulisan, ‘You’ve registered your number on another phone’,” kata Damar.

Kemudian setelah Ravio melakukan pengecekan inbox SMS, ternyata ada permintaan pengiriman One Time Password (OTP) yang biasanya dipakai untuk mengonfirmasi perubahan pada pengaturan WhatsApp.

Sementara itu, diantara pukul 13.19 WIB hingga 14.05, Ravio mendapatkan panggilan dari nomor 082167672001, 081226661965, dan nomor telepon asing dengan kode negara Malaysia dan Amerika Serikat.

“Ketika diidentifikasi melalui aplikasi, nomor tersebut merupakan milik AKBP HS dan Kol ATD,” ucap Damar.

“Kuat dugaan kami bahwa pelaku pembobolan menemukan cara mengakali nomer mereka untuk bisa mengambil alih Whatsapp yang sebelumnya didaftarkan dengan nomor Ravio,” tuturnya.

Menurut Damar Ravio sempat mengumumkan secara terbuka melalui akun Twitter milikya @raviopatra bahwa WhatsApp miliknya telah diretas dan dikendalikan oleh orang lain.

Kemudian dua jam setelah Ravio membuat pengumuman, tepatnya pukul 19.00 WIB, WhatsApp milik Ravio akhinya berhasil dipulihkan.

Damar menyatakan, selama WhatsApp milik Ravio diretas, pelaku telah menyebarkan pesan palsu berisi sebaran provokasi sekitar pukul 14.35 WIB.

Pesan yang dikirimkan ke sejumlah nomor tidak dikenal tersebut berbunyi, ‘KRISIS SUDAH SAATNYA MEMBAKAR! AYO KUMPUL DAN RAMAIKAN 30 APRIL AKSI PENJARAHAN NASIONAL SERENTAK, SEMUA TOKO YG ADA DIDEKAT KITA BEBAS DIJARAH”.

Damar menilai, motif penyebaran itu adalah plotting untuk menempatkan Ravio sebagai salah satu pihak yang dijebak seolah-olah membuat kerusuhan.

Kemudian sekitar pukul 19.14 WIB, Ravio kembali melapor ke Damar bahwa ada orang yang mendatangi kost dia dan mencari dirnya.

“Kemudian kami minta Ravio untuk mematikan handphone dan mencabut baterai handphone sesuai prosedur keamanan standar, lalu mengevakuasi diri ke rumah aman,” ujarnya.

Ravio juga sempat menghubungi dan berkomunikasi dengan Pengurus YLBHI untuk meminta advis hukum dan juga menghubungi Komisioner Komnas HAM untuk meminta bantuan jika terjadi sesuatu dalam waktu dekat.

“Ravio sempat mengabarkan sedang bersiap mengevakuasi diri ke rumah aman, tetapi kemudian sudah lebih dari 12 jam ia tidak bisa lagi dihubungi,” ucapnya.

Selanjutnya pada saat yang bersamaan sekitar pukul 00.30 WIB, muncul artikel di seword(dot)com dengan teks memojokkan Ravio disertai dengan hasil tangkapan layar yang mencantumkan pesan provokasi.

Ravio adalah peneliti dalam bidang transparansi publik. Melalui akun Twitter miliknya, @raviopatra, ia sempat mengkritisi Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar yang diduga kuat terlibat konflik kepentingan dalam proyek-proyek pemerintahan di Papua.

Selain itu, ia juga sempat menuliskan kritikannya tentang penanganan Virus Coronaatau COVID-19 di media Tirto berkaitan dengan apa yang selama ini dikerjakan Ravio Patra.

Kritik tersebut yaitu mendorong Indoensia untuk lebih transparansi dan terbuka terbuka terutama karena tiga tahun terakhir Ravio aktif sebagai wakil Indonesia dalam Steering Committee Open Government Partnership (SC OGP).

Hingga saat ini, Damar mengatakan, belum diketahui Ravio ditangkap oleh kesatuan mana dan di bawa ke mana.

“Tim Pendamping Hukum dari Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus sedang mencari tahu ke kantor Polda Metro Jaya,” jelasnya.

Sumber: bekasi.pikiran-rakyat.com

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.