Sabtu, 28 November 2020

Dipicu Longsor Bawah Laut, Calon Ibu Kota Baru Terancam Tsunami 15 Meter

Dipicu Longsor Bawah Laut, Calon Ibu Kota Baru Terancam Tsunami 15 Meter

Foto: Desain ibu kota baru RI. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Peneliti senior di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan bahwa sesuai hasil penelitian, calon ibu kota negara di Kalimantan Timur rentan dilanda tsunami yang dipicu longsor bawah laut.

Dengan volume longsoran mendekati 4 juta meter kubik, tsunami bisa setinggi lebih dari 15 meter seperti yang pernah terjadi di Papua Nugini pada 1998.

“Kami pernah sampaikan tahun lalu. Kaji detil perlu untuk siapkan Pengurangan Risiko Bencananya,” kata Widjo Kongko yang juga dikenal sebagai ahli tsunami dalam cuitannya di akun media sosial tentang perlunya upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bagi calon ibu kota negara, Kamis (23/04/2020).

Widjo Kongko menggunakan istilah tradisional masyarakat di Pulau Simeulue, Aceh, smong, untuk ancaman tsunami tersebut. Dia juga menyebut tsunami di Palu dan Krakatau sebagai contoh smong yang terjadi beberapa tahun lalu yang diakibatkan oleh longsor bawah laut.

Menurutnya, kejadian smong di Indonesia yang disebabkan longsor di bawah laut lebih banyak daripada yang diperkirakan. Meski demikian, Widjo mengatakan, kajiannya tidak banyak.

Di wilayah barat Indonesia, dari survei batimetri detil cacat-parut bekas longsor bawah laut hanya menjadi kajian kolega peneliti di Potsdam, Jerman. Sedang di Indonesia tengah dan timur, atau Laut Banda, suspek longsor bawah laut lebih banyak lagi. “Smong yang dipicu longsor bawah laut bisa sangat tinggi, lebih dari 50 atau 100 meter,” ujar Widjo Kongko.

Cuitan awal Widjo terkait potensi smong di calon ibu kota negara di Kalimantan Timur tersebut mengomentari artikel yang dilansir BBC News berjudul Tsunami risk identified near future Indonesian capital pada Rabu 22 April 2020. Artikel itu mengungkap pemetaan longsoran bawah laut purba di Selat Makassar yang dilakukan tim peneliti Inggris dan Indonesia menggunakan data seismik.

Tim peneliti itu mendapati bahwa berdasarkan kajian awal, jika longsor bawah laut besar terulang lagi maka itu akan memicu tsunami yang mampu menggenangi Teluk Balikpapan, sebuah area dekat dengan Ibu Kota Negara yang diusulkan. Namun demikian tim peneliti internasional itu juga menyatakan masih harus banyak melakukan penilaian terhadap kondisinya dengan tepat.

Sebagai catatan, ada sejumlah tsunami yang menghancurkan di Indonesia dalam 15 tahun terakhir, dipicu oleh berbagai mekanisme. Gempa Megathrust dan tsunami di lepas pantai Sumatera di 2004 menelan korban 220.000 jiwa di sepanjang wilayah Samudera Hindia, 165.000 korban tersebut ada di Sumatera menjadikan bencana alam terburuk dalam 100 tahun terakhir.

Lalu tsunami Palu pada 28 September 2018 yang mekanismenya masih belum pasti antara kombinasi gempa kuat atau longsor bawah laut. Saat itu dua gelombang, tercatat dengan ketinggian maksimal lebih dari 10 meter, ditambah dengan likuefaksi menyapu 4.000 korban jiwa.

Pada Desember 2018, tsunami Gunung Anak Krakatau, di mana sayap gunung runtuh yang kemungkinan dipicu oleh erupsi gunung berapi tersebut. Korban tewas 400 orang di pesisir Jawa dan Sumatera.

Potensi Bahaya dari Selat Makassar

Widjo Kongko kembali mengulang peringatannya atas potensi tsunami akibat longsor di dasar laut untuk kawasan ibu kota negara yang baru di Kalimantan Timur. Widjo Kongko, menanggapi studi terbaru yang dilakukan di dasar laut di Selat Makassar, perairan yang memisahkan Kalimantan dan Sulawesi.

Hasil studi itu telah dipublikasi dalam jurnal Geological Society pada 1 April 2020 dengan judul Indonesian Throughflow as a preconditioning mechanism for submarine landslides in the Makassar Strait.

Tim penelitinya terdiri dari Rachel E Brackenridge, Uisdean Nicholson, Dorrik Stow (seluruhnya dari Heriot-Watt University Edinburgh), Benyamin Sapiie (Institut Teknologi Bandung), dan Dave R Tappin (University College London).

Dalam makalah itu mereka menjelaskan perihal peran penting Selat Makassar sebagai pintu gerbang utama Arus Laut Indonesia (Indonesian Throughflow) yang mengangkut air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. Penelitian tersebut mengidentifikasi pemindahan massal sejumlah deposit dari bagian Cekungan Pleistosen Utara Makassar dari yang moderat lebih dari 10 km3 sampai dengan yang raksasa lebih dari 650 km3.

“Mayoritas longsor bawah laut yang membentuk deposit berasal dari pro-delta Mahakam, dengan arah condong ke selatan,” tertulis dalam makalah.

Brackenridge dan rekan-rekannya mengatakan melihat dengan jelas bukti dari erosi arus laut, terjadi transpor lateral dan deposisi kontur di sepanjang lereng bagian atas.

Itu menunjukkan Arus Laut Indonesia bertindak sebagai sabuk konveyor lembah yang panjang, mengangkut sendimen ke selatan delta, di mana laju sedimentasi menjadi cepat dan hasilnya lereng kemiringan semakin curam dari longsor bawah laut yang berulang.

“Karenanya, daerah itu berpotensi rawan tsunami yang ditimbulkan oleh tanah longsor bawah laut,” bunyi hasil penelitian itu.

Brackenridge dkk juga mengidentifikasi perbedaan antara fault rupture yang bersejarah memicu tsunami (berlokasi sepanjang zona patahan Palu-Koro) dan distribusi dari deposit yang terpindahkan secara besar di bawah permukaan. Jika identifikasi runtuhan besar baru tersebut tsunamigenik, Brackenridge menulis, mereka bisa saja merepresentasikan bahaya yang sebelumnya terabaikan di wilayah tersebut.

Selat Makassar membentuk jalur laut dalam yang memisahkan Kalimantan dari Sulawesi dengan lebar dari 100-200 km dan panjang hingga 600 km. Sementara Cekungan Makassar Utara memiliki panjang 340 km dan lebar 100 km dengan kedalaman 200 hingga 2000 m, dan Cekungan Makassar Selatan menunjukkan kedalaman sama dengan panjang 300 km dan lebar 100 km.

Dasar cekungan teramati tidak ada bukti gangguan tektonik. Sedang pemetaan seismik di lereng depan Delta Mahakam menunjukkan sejumlah besar fitur pengendapan air dalam, termasuk saluran turbidit, tanggul dan bentang serta deposit besar yang terpindahkan.

Berdasarkan studi analog deposit besar yang terpindahkan, kemungkinan longsor bawah laut yang menghasilkan endapan yang dipetakan itu adalah tsunamigenik. Gelombang yang dihasilkan dari longsor bawah laut yang dipetakan dalam penelitian itu dapat berdampak pada garis pantai Sulawesi dan Kalimantan, di wilayah yang sebelumnya tidak terpengaruh oleh peristiwa sejarah.

Para peneliti menyatakan penting untuk memahami mekanisme pemicu peristiwa ini dan bahayanya. Pekerjaan di masa depan dijanjikan akan bertujuan untuk membatasi penelitian pada frekuensi longsoran bawah laut yang memicu tsunami, dan peran iklim dan permukaan laut sebagai pemicu longsor bawah laut.

Brackenridge dan rekan penelitinya mengusulkan pemodelan gelombang tsunami diperlukan untuk menguji skenario kegagalan kemiringan dan mengidentifikasi wilayah pesisir dengan risiko tertinggi.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.