Minggu, 22 November 2020

Musibah Salam Musyrik Lebih dari Musibah Covid-19

Musibah Salam Musyrik Lebih dari Musibah Covid-19

Foto Nuim Hidayat, Ketua Dewan Dakwah Depok tengah mengajarkan teknis menulis berita dan reportasi kepada remaja masjid di Masjid Nurul Huda Jl Sudirman No817 Bandung, Sabtu (23/9). (Ariesmen/swamedium)

Depok, Swamedium.com — Ketika Gus Dur tahun 80-an mengusulkan Assalamualaikum diganti dengan selamat pagi, siang atau malam, gegerlah ulama NU. Banyak dari kalangan mereka yang mengecam dan mengkritisi Gus Dur.

Di pemerintahan Jokowi saat ini Assalamualaikum diganti ‘salam musyrik’. Presiden dan para menteri menggunakan salam ini. Entah, ada perintah presiden secara resmi atau tidak, sepengetahuan penulis semua menteri kini menggunakan salam ini.

Terakhir, ‘menteri dari Muhammadiyah Muhajir Effendy’ terlihat menggunakan salam musyrik, sehingga menimbulkan reaksi keras dari aktivis-aktivis Muhammadiyah.

Salam musyrik atau salam bid’ah dalam istilah MUI Jawa Timur, adalah salam yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah saw. Bahkan tidak dicontohkan presiden-presiden sebelumnya. Presiden Soekarno, Soeharto, Habibie dan lain-lain tidak menggunakan salam ini.

Salam musyrik atau salam lintas agama ini dilarang oleh MUI Jatim dalam keputusannya November 2019 lalu. Tapi himbauan keras dari MUI Jatim ini nampaknya dianggap angin lalu oleh pemerintah.

Dalam keputusannya itu, MUI Jatim diantaranya menyatakan : “Jika dicermati, salam adalah ungkapan do’a yang merujuk pada keyakinan dari agama tertentu. Sebagai contoh, salam umat Islam, “Assalaamu’alaikum” yang artinya “semoga Allah mencurahkan keselamatan kepada kalian”. Ungkapan ini adalah doa yang ditujukan kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Salam umat Budha, “Namo buddaya artinya terpujilah Sang Budha, satu ungkapan yang tidak terpisahkan dengan keyakinan umat Budha tentang Sidarta Gautama. Ungkapan pembuka dari agama Hindu, “Om swasti astu” Om, adalah panggilan umat Hindu khususnya di Bali kepada Tuhan yang mereka yakini yaitu “Sang Yang Widhi”. Seruan ini untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan yang tidak lain dalam keyakinan Hindu adalah Sang Yang Widhi tersebut. Lalu kata swasti, dari kata su yang artinya baik, dan asti artinya bahagia. Sedangkan Astu artinya semoga. Dengan demikian ungkapan Om swasti astu kurang lebih artinya, “semoga Sang Yang Widhi mencurahkan
kebaikan dan kebahagiaan”.

Ketua MUI Jatim, KH Abdussomad Buchori mengharapkan agar pemeluk agama salam sesuai dengan agamanya, tidak dicampur aduk. Salam menurut Islam, adalah doa dan doa itu adalah ibadah. Jadi pejabat Islam, salam menurut Islam, pejabat Hindu salam menurut Hindu dan seterusnya, tidak perlu pencampuradukan.

Kerusakan Aqidah dan Kerusakan Identitas Bangsa

Seorang muslim dalam kehidupannya tentu ingin mencontoh Rasulullah saw. Karena Rasulullah adalah teladan. Rasulullah adalah sebaik-baik pemimpin. Rasul Muhammad saw adalah sebaik-baik manusia.

Nabi saw. bersabda, “Salam itu termasuk salah satu dari nama-nama Allah ta’ala yang Allah letakkan di bumi, maka sebarkanlah salam. Sungguh seorang laki-laki muslim jika melewati suatu kaum lalu ia mengucapkan salam kepada mereka, kemudian mereka menjawab salamnya, maka baginya atas mereka keutamaan derajat sebab mengingatkannya kepada mereka dengan salam. Jika mereka tidak menjawab salamnya, maka orang yang lebih baik dari pada mereka dan lebih bagus telah menjawab salamnya.” (HR Imam Al-Bazzar dan Imam Al-Baihaqi)

Nabi saw. bersabda, “Salam itu sebelum perkataan.” (HR Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Salam ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia! Sebarkanlah salam, sambunglah silaturrahmi, berilah makanan, dan salatlah ketika orang-orang tidur, kalian pasti masuk surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Jadi salam, Assalamualaikum, sebagai pembuka perkataan, menempati hal yang penting dalam Islam. Seperti kalimat basmallah, bismillahirrahmanirrahim sebelum melakukan perbuatan baik.
Bila assalamualaikum telah dirusak, jangan heran akan timbul kerusakan-kerusakan yang lain. Kerusakan politik, ekonomi, budaya dan lain-lain.

000

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbesar penduduk Islamnya di dunia. Banyak intelektual dan ulama dari negara lain, yang berharap dari Indonesia lah kebangkitan Islam akan muncul. Tentu hal ini, diketahui dan tidak disukai oleh kaum Islamofobia (musuh-musuh Islam) di dalam negeri maupun luar negeri.
Maka jangan heran, agenda-agenda untuk merusak aqidah Islam, merusak prinsip-prinsip Islam yang mulia akan selalu dihadirkan di negeri ini. Diantaranya dengan melakukan perusakan ucapan salam.

Bila seseorang telah merusak salam Islam, maka di dalam dirinya tidak ada semangat untuk menjayakan Islam. Tidak ada di dalam dirinya keinginan untuk menjayakan risalah Ilahi, risalah mulia yang dibawa Rasulullah saw. Di dalam dirinya hanya ada semangat untuk menjayakan dirinya sendiri. Ia mungkin ingin berbuat baik kepada orang lain, tapi perbuatan baik itu hanya didasari nafsu pada dirinya. Ia telah melupakan prinsip-prinsip hidup dalam Islam. Ia telah melupakan aqidah Islam.

Maka jangan heran orang seperti ini kemudian pro kepada pluralisme, liberalisme, sekulerisme dan lain-lain, isme-isme yang merusak Islam. Isme-isme yang diharamkan Majelis Ulama Indonesia.

000

Bangsa Indonesia memang hingga kini terus mengalami pergolakan. Bangsa yang baru merdeka 74 tahun yang lalu itu, terus bertarung menuju bangsa yang Islami atau bangsa yang sekuler. Bangsa yang memiliki identitas sendiri atau bangsa yang meniru Barat. Bangsa yang memihak kepada mayoritas rakyatnya atau memihak minoritas.

Kini, kaum elitnya kebanyakan ingin membawa bangsa ini meniru Barat. Sehingga tidak heran pendidikan, budaya, ekonomi dan lain-lain diarahkan ke sana. Sementara di kalangan masyarakat, yang terjadi adalah sebaliknya.

Saat ini, diakui atau tidak, sedang terjadi kebangkitan Islam. Masyarakat merasa bahwa Islam lah yang bisa menjadi solusi bagi kehidupan bangsa. Maka, ketika kaum elit ingin menghadap-hadapkan Pancasila vs Islam, mereka gagal. Masyarakat yang diwakili kaum intelektual Islam justru menggali sejarah bahwa Pancasila adalah Islami. Pancasila lahir dan dirumuskan tokoh-tokoh Islam.
Ketika kaum elit, ingin memisahkan sejarah bangsa dengan Islam, dengan membuat kurikulum sejarah yang menihilkan atau meminimalkan peranan Islam di tanah air, mereka pun gagal. Kini masyarakat banyak yang sadar bahwa Islam memiliki peranan besar dalam pembentukan bangsa Indonesia. Pahlawan-pahlawan yang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajah Portugis dan Belanda adalah pahlawan-pahlawan Islam.

Tapi kaum Islamofobia terus bekerja. Mereka ingin terus meminggirkan peranan Islam atau kaum Muslim dari tanah air. Baik dari politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain.
Mereka dengan didukung dana yang besar, jaringan nasional dan internasional yang solid dan jaringan media massa yang kuat ingin terus membuat kaum Muslim Indonesia menjadi ‘budak’, menjadi pesuruh bukan menjadi pemerintah.

Maka, bulan Ramadhan 2020 ini mestinya kaum Muslim sadar. Bahwa semangat perang Badar harus terus digelorakan dalam hidup ini, dalam diri mayoritas bangsa ini. Bangsa Indonesia akan terus bertarung antara ideologi Islam dengan ideologi musyrik. Karena itu, sejak zaman penjajahan, para ulama menasihatkan hidup adalah aqidah dan jihad.

000

Kenapa bisa dikatakan bahwa salam musyrik lebih berbahaya dari covid 19? Orang yang positif covid 19 bisa sembuh. Sedangkan orang yang menggunakan salam musyrik, bila tidak taubat, bisa terkena dosa besar atau jatuh kepada perbuatan musyrik.
Mereka yang menggunakan salam itu, biasanya tidak sadar atau tidak tahu bahwa nilai Islam itu lebih besar dari emas sepenuh bumi. Mereka tidak memahami mulianya Islam, dan hinanya kemusyrikan. Padahal Allah SWT menyatakan,” Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS Ali Imran 91)

Pemimpin-pemimpin yang beragama Islam, tapi tidak mempunyai kesadaran nilai Islam yang tinggi ini, maka dia akan bergandengan tangan dengan kaum musyrik untuk merusak Islam. Dan bila Islam dirusak, maka kaum Muslim ikut rusak. Kaum Muslim tidak mempunyai identitas lagi. Kaum Muslim tidak punya lagi semangat menjayakan Islam, risalah para Nabi. Kaum Muslim akhirnya tidak menjadi pemimpin, tapi menjadi pak turut. Dan inilah yang kini menimpa bangsa ini.

Tjokroaminoto dalam bukunya Islam dan Sosialisme mengutip Sayidina Abu Bakar yang menyatakan,”Hendaklah kamu menuntut kehidupan menurut perintah agama dan segala perbuatanmu hendaklah bermaksud akan mendapat nikmat di pengampunan Tuhan dan zaman akhir yang akan datang. Dan pandanglah dirimu sendiri sebagai orang yang hendak mati dan selama-lamanya peringatilah adakan kesudahannya segala barang yang ada. Ingatlah kita semua ini akan mati dalam waktu yang tidak lama lagi dan akan berdiri dan dipanggil buat memberi pertanggungjawaban atas segala perbuatan kita.”

Patut pula direnungkan nasihat Sayidina Ali bin Abi Thalib kepada gubernur Mesir, Malik bin Harits al Asytar, “Ketahuilah wahai Malik bahwa aku telah mengangkatmu menjadi seorang gubernur dari sebuah negeri yang dalam sejarahnya berpengalaman dengan pemerintahan-pemerintahan yang benar maupun tidak benar.
Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana engkau menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam.

Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana engkau bicara tentang mereka.
Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan (dapat) ‘menggelapkan’ semua bukti dari tindakan baikmu. Karenanya, harta karun terbesar akan engkau peroleh jika engkau dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu.

Jagalah keinginan agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang. Mereka adalah makhluk-makhluk yang lemah, bahkan sering melakukan kesalahan. Bagaimanapun berikanlah ampun dan maafmu sebagaimana engkau menginginkan ampunan dan maaf dari-Nya. Sesungguhnya engkau berada di atas mereka dan urusan mereka ada di pundakmu. Sedangkan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Allah telah menyerahkan urusan mereka kepadamu dan menguji dirimu dengan urusan mereka. Jangan katakan:”Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu.” (*)

*Penulis: Nuim Hidayat (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Depok dan anggota MUI Depok)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.