Jumat, 27 November 2020

Uang Guru

Uang Guru

Foto: ilustrasi (ist)

Jogjakarta, Swamedium.com — Imam Syafi’ie tak seperti Si Doel anak sekolahan, yang menimba ilmu di bangku kuliah tuk jadi tukang insinyur. Tapi akhirnya nganggur, jadi sopir, dan akhirnya karyawan.

Imam Syafi’ie berguru secara langsung kepada Imam Malik. Setelah menyerap semua ilmunya, Dia berpindah ke Ulama lain. Begitu seterusnya.

Demikianlah sistem pendidikan Islam pada masa keemasannya. Anak belajar langsung kepada Ulama yang berkompeten di bidangnya.

Jika mau belajar tafsir, maka datang ke Ulama ahli Tafsir. Jika mau belajar Ushul Fiqih datang ke Ulama Ushul Fiqih. Bahkan jika mau belajar ilmu duniawi, datang ke Ulama yang memang terkenal ahli dalam bidang tersebut.

Berbeda dengan sistem pendidikan era kapitalis sekarang. Orientasi murid adalah mencari sekolah yang bergengsi. Meski tak tau siapa Guru yang bakal mengajar nanti.

Sekolah jaman kapitalis tak ubahnya seperti pabrik pendidikan yang di dalamnya berisi cetakan-cetakan kurikulum dan mata pelajaran.

Saat lulus, murid berstatus telah belajar beragam mata pelajaran, tapi entahlah, soal kompetensi pengajarnya.

Saya tanya pada anda, mohon jawab dengan jujur.

Pernahkah anda menempuh suatu mata kuliah dengan dosen yang tak cukup kompeten dengan mata kuliah yang diajarkannya?

Jujur saya sering.

Hasil akhirnya? Produk semacam si doel anak sekolahan yang goal pendidikannya adalah menjadi buruh pekerja, bukan alim ulama.

Tapi, sehancur-hancurnya sistem pendidikan kapitalis, dia masih menghadirkan manusia nyata sebagai guru.

Sedangkan di jaman kotak kardus gembok besi, pendidikan diserahkan ke tangan milenialis, dengan anggaran negara yang tak cukup dihitung pakai kalkulator toko kelontong.

Jangankan memberikan Guru yang berkompeten ke murid, memberikan sosok manusia nyatapun tidak. Padahal dana yang digelontorkan mestinya cukup untuk menghidupi ribuan honorer yang malang.

Di masa Islam, murid benar-benar mendatangi ruang-ruang Guru yang ahli dalam bidangnya.

Hari ini kita menyaksikan komedi ruang pura-pura, dan guru pura-pura. Tapi anggarannya super besar dan nyata.

Selamat datang di era Uang Guru.

*Penulis: Doni Riw

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.