Sabtu, 28 November 2020

Umat Islam Indonesia Masih Reaksioner Belum ‘Progresif Radikal’

Umat Islam Indonesia Masih Reaksioner Belum ‘Progresif Radikal’

Foto: Widhyanto Muttaqien di depan kedai kopi miliknya. (Facebook)

Jakarta, Swamedium.com — Kelompok Islam di Indonesia reaksioner. Ketinggalan kereta dalam mainkan isu. Enggak sederhana. Butuh cadangan pengetahuan. Pembelahan umat Islam disebabkan reaksionernya, itu tidak progresif. Masuk pada simbol bukan gerakan subtansi.

Pemimpin kita tetap lebih banyak Islam pada pemerintahan sekarang. Bagaimana Barat bisa memainkan kartu pemimpin Islam untuk meredam ‘gerakan umat Islam bergerak’.

Yang hilang dalam Islam bagaimana melihat ribawi ekonomi ini menghancurkan sendi ekonomi, kedaulatan ekonomi dengan kajian mendalam. Bagaimana mereka menghajar relasi sosial di pedesaan, sekali lagi dengan kajian mendalam.

Mereka progresif. Islam petani lebih progresif dari Islam kota, karena mempertahankan air dan tanah. Air dan tanah satu satunya penghidupan mereka, makanya mereka butuh gerakan Islam yang terencana, Jokowi cuma bisa masuk lewat kata kata distribusi lahan, itu sebenarnya gak terjadi. Kita gak pernah lihat kasus distribusi lahan dari kacamata Islam, ketimpangan justru terjadi disana.

Pancasila dan Islam sama sebangun, nanti orang bilang Skandinavia lebih Islami marah lagi. Padahal umat Islam disana sedikit.

Kalau mau progresif, umat Islam jangan sekadar tolak hiburan kaleng kaleng, tolak kriminalisasi ulama, tolak penistaan, tolak ini itu yang ujungnya hanya ikut genderang musuh Islam. Reaksioner.

Harusnya, misal, tolak pembangunan apartemen lagi, tolak pembangunan jalan dan tol, infrastruktur tak berguna, tolak penguasaan lahan sawit, tolak perdagangan bebas.
Tolak segala sesuatu atas nama studi berdasarkan Islam. Semua di kaji, dampaknya itu justru lebih besar ke umat. Baru itu PROGRESIF BIN RADIKAL kalau cuma reaksioner gak pernah jadi radikal.

Volunteer untuk mengkaji ada, cuma orang selalu diarahkan shaleh secara individu, padahal kesalehan individu di setiap diri fluktuatif, penyebabnya bukan karena tidak lagi mengaji. Penyebabnya tekanan mental, ekonomi, dan politik. Solusinya reaksioner atau kompromi dengan salah satu faksi kekuasaan yang kebetulan dipersepsi pro Islam. (*)

*Penulis: Widhyanto Muttaqien (Aktivis Islam, Penikmat Kopi)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.