Selasa, 24 November 2020

Tangisan Hening Guru-Guru Mengaji

Tangisan Hening Guru-Guru Mengaji

Foto: ilustrasi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Hidupnya adalah dakwah, nafasnya adalah menebar ilmu, langkahnya mengajak kepada kebaikan. Di pundaknya ada ajaran Al Qur’an dan Hadist Rasulullah untuk dibagikan kepada umat. Semua dijalani sebagai panggilan jiwanya.

Ketika mushola dan masjid membeku tanpa ada sujud berjama’ah, mimbar2 diam tak terdengar seruannya di hari Jum’at, taklim dan tabligh tak lagi digelar di rumah Allah, terasa darah segar meleleh dalam ghirahnya, tanpa terasa jiwanya mulai terluka. Ilmunya menjadi air susu ibu, yang tidak disusukan untuk bayinya, payudaranya sakit ngilu membengkak.

Para ulama, pendakwah, asatidz, guru2 mengaji itu kehilangan ladang amalnya, semenjak panggung dakwahnya ditutup sementara waktu, namun tak ketahuan kapan ujungnya itu. Hamba2 pewaris nabi itu tak lagi memiliki media pengabdian, jalan Allah yang sudah dipilihnya, sementara tak bisa dilaluinya.

Disisi realita, tafsir ekonominya berbunyi cashflow mulai terganggu, sisi pemasukan nol, pengeluaran tak bisa dihentikan, mulai cost cutting sana sini. Semua mengetahui, banyak ustadz yang total hidupnya berjihad, hanya untuk mengajarkan Din Allah kepada umat, sementara kebutuhan hidupnya tergantung dari aktifitas mengajarnya di taklim ibu2 perumahan, di pengajian ibu2 di perkampungan, di TPA anak2, yang secara sukarela memberikan uang lelah seikhlasnya.

Mata memanas, perih menyayat dada ini, ketika mayoritas guru2 mulia, para pengajar agama Islam non formal ini memilih diam dalam menghadapi situasi yang berat ini. Ajaran dan adab yang dimiliki para guru ini tidak memungkinkan mereka ber-teriak2 memprotes kebijakan ulil amri, keputusan pemerintah, yang harus mereka taati.

Sabar adalah kekuatan mereka, do’a adalah tempat bersandarnya, bersyukur adalah menu hariannya. Tanpa pemasukan, tidak memiliki uang, bukan akhir dari segalanya, mereka tetap bersyukur dibalik pusingnya, saat kelaparan datang dirasakan sebagai cobaan ringan. Puasa sunah yang biasa mereka lakukan, membuat syaraf2 perutnya sudah familier dengan rasa perih.

Mereka saling bahu membahu dalam kelemahan, bergotong royong saling menguatkan, tolong menolong dalam kekurangan masing2. Saling pinjam meminjamkan beras, ada hutang piutang dengan nilai transaksi sebesar 14.000 ribu rupiah, sekedar untuk membeli lauk berupa tempe atau kerupuk. Semua indikator memelas ini berseliweran mewarnai dunia para guru ngaji, di kota2 maupun di pelosok2 negeri.

Mereka diam2 pergi ke pegadaian, atau menawarkan barang2 yang masih layak jual, jadi jangan bertanya kemana jam tangannya, kok tidak terlihat lagi laptop di dalam tasnya. Semua untuk membeli makanan penyambung hidupnya. Tak pernah mereka meminta. Tak ada kata payah dan berat disetiap jawaban yang diberikan, ketika kita tanya apa kabarnya tadz? Akan selalu kata Alhamdulillah yang kita dengar.

Ketika dengan ringannya kita bisa membantu para driver on line, ketika Sobat Ambyarnya Didi Kempot dalam hitungan jam bisa mengumpulkan donasi dalam angka milyar, kini saatnya kita bergerak untuk para ustadz yang lebih memilih diam dalam penderitaannya ini.

Mari, bapak ibu, tengoklah imam masjid di sekeliling kita, guru2 mengaji di kanan kiri kita, marbot masjid di perumahan kita. Saatnya kita posisikan para ustadz dkk dalam daftar target bantuan kita. Mereka adalah penderita yang memilih diam. Mereka adalah korban yang tak mau menjerit. Kita yang harus peka dengan manusia2 pilihan itu. Maksimalkan potensi majelis taklim ibu2, gunakan cash yayasan yang ada, rasakan energi ilahi yang mengiring langkah kebaikan kita saat membantu mereka.

#AyoPeduliGuruNgaji

Sumber: istimewa

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.