Jumat, 27 November 2020

‘Anjing dan Pribumi’ Dilarang Masuk!

‘Anjing dan Pribumi’ Dilarang Masuk!

Foto: ilustrasi (ist)

Surabaya, Swamedium.com — Hari ke enam Ramadhan yang juga merupakan hari kedua pelaksana PSBB di Surabaya ternyata membuat saya ” mokel ” dari tujuan puasa yang salah satunya adalah menahan diri. Begitu juga dengan pemberlakuan PSBB, agar kita tinggal dirumah untuk memutus mata rantai pandemi Covid – 19, ternyata hanya raga saya yang tertahan, namun pikiran saya tak mampu bertahan untuk tinggal dirumah, seiring dengan lalu lalangnya informasi pemberian nasi anjing, bukan nasi kucing kepada masyarakat di kawasan Priok Jakarta.

“Dikasih sama tiga orang. Namanya nasi, saya ambillah. Ini ada tulisan namanya nasi anjing,” katanya. Di bungkusan nasi terdapat logo kepala anjing dengan keterangan tulisan: “nasi anjing, nasi orang kecil, bersahabat dengan nasi kucing.” Tercetak pula tagar #Jakartatahanbanting “, begitulah kata warga.

Membaca berita itu, pikiran dan hati saya tergoda untuk mokel tidak menulis dan bicara, sehingga saya ” terpaksa ” menuliskannya berkaitan anjing.

Konon ketika jaman penjajahan, para penjajah Eropa, Belanda dan Jepang menganggap pribumi, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang disetarakan dengan derajat anjing. Mengapa ? Menilik pada karakter binatang ini adalah binatang yang suka menjulurkan lidahnya dan meneteskan air liurnya. Binatang ini juga binatang yang setia. Binatang ini sejatinya menunjukkan karakter yang mulia, setia pada tuannya.

Namun sayangnya kesetiaan binatang ini seringkali membabi buta tak peduli dengan karakter tuannya. Sehingga seringkali binatang ini dimanfaatkan oleh sang tuan untuk melindungi dirinya.

Kembali pada zaman penjajahan, Penjajah Eropa, Belanda dan Jepang bisa menjajah dalam waktu yang cukup lama, sekitar 350 tahun. Mengapa bisa terjadi? Dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Hidayatullah disebutkan bahwa Penjajahan dibumi Nusantara itu terjadi dikarenakan adanya kolaborasi, Lima abad lalu pula para penjajah selalu berkolaborasi dengan tokoh-tokoh masyarakat di masing-masing daerah, mereka dengan sukacita mau membantu kepentingan penjajah karena mereka juga punya kepentingannya sendiri.

Kombinasi yang perfect untuk daerah jajahan adalah kekayaan alam, ignorance-nya penduduk setempat akan kekayaannya dan para pemimpin atau tokoh masyarakat yang memiliki kepentingan sendiri. Tiga hal ini tidak berubah sejak Portuges mendaratkan kapalnya ke wilayah Nusantara ini 5 abad lalu hingga sekarang.

Terjadi jarak antara pemimpin dan rakyatnya, sehingga bisa melakukan apapun atas nama ” kesetiaan ” meski itu menempatkan rakyat dalam posisi yang hina. Dalam analisa Clifford Geertz ditahun 70 an, Priyayi , Santri dan Abangan, Geertz menggambarkan kasta yang terjadi pada masyarakat kita. Rakyat berada pada kasta yang rendah, sehingga layak diperlakukan layaknya seperti binatang. Watak penjajah selalu berkolaborasi dengan kelas masyarakat yang dianggap bisa melindungi kerakusan penjajahan nya.

Nasi anjing yang menjadi viral dengan tulisan nasi orang kecil bersahabat dengan nasi kucing, menggambarkan bagaimana watak menempatkan rakyat kecil atau pribumi pada derajat yang rendah. Ini tipologi watak penjajah, watak kelas menengah yang menjaga jarak dengan rakyat. Watak penjajah itu bisa bersemayam pada kelas menengah arogan yang diuntungkan oleh kelas lain sehingga kehilangan rasa emphaty terhadap masyarakat kecil yang sering disematkan pada kaum pribumi.

Setidaknya saat ini kita bisa memahami sebuah kelas masyarakat yang ada ditengah tengah kita yang masih memandang kelompok masyarakat lain tidak sama dengan kelompoknya, membabi buta dalam pembelaan kepada kelompok nya, bebas memperlakukan kelompok lain sesuai dengan seleranya, mereka hujat dengan sebutan sebutan yang menghina untuk melindungi tuannya. Nah sejatinya bangsa ini sudah terbelah, ada kelompok yang merasa berkuasa dan bebas melakukan apapun dan ada kelompok yang dianggap tak berdaya dan bebas diperlakukan apapun. Kita menjadi bangsa yang tidak sehat.

Seolah hari ini kita berada di zaman penjajahan ketika bangsa penjajah Eropa, Belanda dan Jepang membuat pernyataan bahwa anjing dan pribumi dilarang masuk.

Akankah ada proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke dua atau akankah ada lagi Sumpah Pemuda yang ke dua atau akan ada lagi peristiwa Yamato, perobekan bendera lambang penjajahan? Sejarah yang akan membuktikan !

Hanya anjing yang memperlakukan saudara sebangsanya seperti anjing.

Hanya anjing yang menganggap orang lain seperti anjing.

Hanya anjing yang membabi buta membenarkan perilaku seperti anjing.

Hanya anjing yang lidahnya menjulur membenarkan perilaku salah majikan yang memperlakukan orang lain seperti anjing. (*)

Surabaya, 29 April 2020

*Penulis: Isa Ansori (Pegiat Pendidikan)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.