Selasa, 24 November 2020

Pernyataan Luhut Mengganggu Ruang Batin Keber-agama-an Umat Islam

Pernyataan Luhut Mengganggu Ruang Batin Keber-agama-an Umat Islam

Jakarta, Swamedium.com — “Momen Ramadan ini jangan menjelekkan orang. Nanti puasamu batal,” [Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves), dalam wawancara bersama Radio RRI, Sabtu, 2 Mei 2020.]

Sepintas, penulis sangat terkejut dengan kutipan Pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan, pejabat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi. Dalam jejaring sosial media, Luhut mengeluarkan pernyataan yang penuh tendensi kepada umat Islam.

Penulis mencoba menelusuri dari sumber yang kredibel, ternyata berita berkenaan muncul di laman berita tempo. Tempo menulis berita dengan judul “Luhut : Ramadhan jangan menjelekkan orang, nanti puasamu batal”.

Kutipan judul berita tempo (2/5/2020), bersumber dari wawancara Luhut Binsar Pandjaitan dengan RRI. Lengkapnya, Luhut menyatakan : “Momen Ramadan ini jangan menjelekkan orang. Nanti puasamu batal,”.

Pernyataan ini jelas merupakan tuduhan serius terhadap Umat Islam, disebabkan beberapa alasan :

Pertama, Ramadhan dan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah aktivitas khas yang dijalankan oleh umat Islam. Tidak ada umat beragama lain yang memiliki syariat berpuasa di bulan Ramadhan, kecuali hanya umat Islam.

Karena itu, ungkapan Luhut yang menyatakan “Ramadan ini jangan menjelekkan orang. Nanti puasamu batal” jelas dimaksudkan atau ditujukan kepada umat Islam, sebab umat yang lain tidak menjalankan ibadah puasa.

Kedua, frasa “jangan menjelekkan Orang” merupakan kalimat ungkapan yang bermakna tuduhan. Seolah-olah, telah terjadi aktivitas menjelekan orang yang kemudian Luhut menisbatkan aktivitas itu kepada umat Islam, Karena hanya umat Islam yang melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Ungkapan itu hanya ditujukan kepada umat Islam, semakin jelas ketika Luhut mengujar kata “nanti puasamu batal”.

Karena itu, ungkapan ini seolah lengkapnya hendak mengatakan “hei kalian umat Islam, jangan menjelekan orang, nanti ibadah puasa kalian batal”.

Selain berisi tuduhan, pernyataan Luhut ini lebih fatal karena menuduh umat Islam.

Ketiga, fakta yang terjadi bukanlah tuduhan melainkan Kritik publik pada sejumlah kebijakan penanganan Covid-19 yang memang dirasa tidak sejalan dengan amanat konstitusi.

Dikotomi masalah Pandemi dan ekonomi justru muncul, karena Luhut sendiri bersikeras membela sejumlah TKA China dengan alasan ekonomi masuk wilayah NKRI, ditengah rakyat sedang berjuang melawan Covid-19 dan berusaha mentaati Kebijakan Pemerintah seperti PSBB, Physical Distancing, Larangan Mudik, dll.

Wajarlah jika muncul Kritik terhadap pemerintah di masa Pandemi ini, karena terlihat jelas keberpihakan pemerintah kepada TKA China. Semestinya, Luhut yang merupakan menteri Indonesia membela kepentingan nasional Indonesia, bukan malah bertindak seperti juru bicara pemerintah China.

Soal kritik dianggap membangun atau tidak, itu hanya masalah perspektif. Yang urgen, justru bagaimana sikap pemerintah menanggapi kritik dan masukan.

Luhut sendiri menurut penulis belum wujud sebagai pribadi yang bijak, sosok yang Negarawan. Hanya soal berbeda pandangan dengan Said Didu saja, Luhut main lapor polisi.

Lagipula, Luhut tak pantas dan terlalu lancang menanggapi kritik dengan melakukan “serangan” terhadap ruang batin umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Disituasi Pandemi, disaat semua masjid ditutup karena Corona -padahal penerbangan internasional dan TKA China terus berdatangan- pernyataan Luhut ini jelas melukai hati umat Islam dan memantik amarah umat Islam.

Lagipula, dengan pengetahuan sedalam apapun Luhut tak punya kapasitas untuk menyatakan batal atau tidak batal puasa umat Islam. Luhut, telah memasuki ruang ekslusif beragama dimana didalam Islam berlaku kaidah “Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku”.

Saran penulis, jika terjadi perbedaan pandangan dengan rakyat, atau terjadi konflik dengan rival Politik, sekiranya jika tak ingin umat Islam marah, hindari diksi dan ungkapan yang mendeskreditkan Umat Islam.

Luhut boleh saja merasa sakti, merasa bisa mengendalikan presiden, merasa paling berjasa atas NKRI ini. Tetapi jika berani mengusik ruang batin umat Islam, mengusik rasa keber-agama-an umat Islam, ceritanya pasti akan lain. (*)

*Penulis: Ahmad Khozinudin, SH (Ketua LBH Pelita Umat)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.