Senin, 23 November 2020

Dua Bupati Saling Serang di Media Sosial Terkait Kisruh BLT

Dua Bupati Saling Serang di Media Sosial Terkait Kisruh BLT

Jakarta, Swamedium.com — Perang mulut di media sosial terjadi antara Bupati Lumajang Jawa Timur Thoriqul Haq dengan Bupati Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, Sehan Salim Landjar. 

Keduanya bersitegang mengenai penanganan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk warga terdampak Corona Covid-19. Bupati Thoriq meminta Bupati Bolaang Mongondow Timur tidak menyalahkan menteri dalam hal BLT. 

Sebelumnya, akhir April lalu beredar video Landjar memprotes kebijakan pemerintah pusat terkait pemberian BLT. Dalam video tersebut, Landjar terlihat berada di gudang stok persediaan beras. Dia tampak kesal karena ternyata hingga saat ini BLT yang dijanjikan kementerian tak kunjung jelas kapan akan disalurkan. 

Selain itu ternyata ada birokrasi panjang yakni masyarakat miskin diharuskan membuka terlebih dahulu rekening bank untuk bisa di transfer dana bantuan tersebut. 

“Ini apa-apaan. Di saat warga lain sudah menerima bantuan dari pemerintah daerah, para keluarga miskin penerima BLT malah tidak bisa terima bantuan. Sampai sekarang juga tidak jelas kapan akan disalurkan bantuan. Ini masyarakat miskin dibuat benar-benar miskin hanya karena persoalan satu buah kertas dari kementerian,” tutur Landjar. 

Sepekan kemudian, video Bupati Lumajang Thoriqul Haq atau Cak Thoriq yang sedang marah menyentil Bupati Bongaan beredar di WhatsApp (WA) dengan durasi 4 menit 37 detik. 

“Bupati Bolaang Timur ingat itu. Kerja keras kita semua kerja. Soal ruwet memang ruwet. Kalau sekarang banyak masalah memang banyak masalah, diselesaikan,” kata Bupati Thoriq dalam video tersebut. “Jangan menyalahkan menteri dan jangan membodohkan menteri. Jangan-jangan anda yang salah urus,” imbuhnya.

Seolah tak mau kalah, muncul video dengan judul ‘Bupati Boltim Tantang Bupati Lumajang Cak Tohriq’. Video berdurasi 3 menit 57 detik itu beredar di media sosial YouTube. 

“Itu kan di atas 12 persen miskinnya. Di Lumajang kan banyak peminta-minta, kalau kita kan tidak ada satu pun. Beda dong. Saya bicara regulasi. Yang kedua, dari Menteri Sosial itu rekrutnya gampang. Dalam surat edaran (SE) Menteri Sosial kita diberi kuota 4446. Kita rekrut gampang yang sulit itu untuk menerimakan dipersyaratkan harus membuka rekening,” katanya.

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.