Jumat, 27 November 2020

Sampah dan Limbah Covid-19 Hantui Anak dan Perempuan Pemulung

Sampah dan Limbah Covid-19 Hantui Anak dan Perempuan Pemulung

Foto: Keluarga pemulung membesarkan anak. (BS/KPNas)

Jakarta, Swamedium.com — Perkembangan kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Indonesia hingga 7 Mei 2020; terinfeksi 12.776; sembuh 2.381 orang dan 930 mati. Sebanyak 243.455 orang dalam pemantauan dan 28508 pasien dalam pengawasan. Informasi tersebut mengindikasikan tingkat kesembuhan meningkat terutama di DKI Jakarta, sejak dilakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Bencana Covid-19 melanda dunia. Lebih 200 negara terkena serangan Covid-19. Membuat ekonomi perdagangan dan interaksi manusia stagnan karena lockdown, atau pembatasan tertentu. Lebih satu juta orang meninggal dunia dan lainnya dalam perawatan medis. Negara super power Amerika Serikat, Rusia tak mampu membendung pandemic Covid-19. Bahkan ada negara yang kuwalan mengurusi jasad korban Covid-19, seperti Italia, Ekuador.

Covid-19 menyerang siapa saja, lelaki perempuan, tua muda bahkan anak-anak, kaya miskin, presiden maupun rakyat jelata. Bagaimana dengan mereka yang hidup di sekitar TPST/TPST? Lebih dari 6.000 pemulung dan pekerja sektor persampahan hidup di sekitar TPST Bantargebang, 400 pemulung di sekitar TPA Sumurbatu Kota Bekasi, 250 pemulung di sekitar TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi. Sekitar tempat ini sebagai tujuan akhir, termasuk limbah medis dan sampah dari penanganan Covid-19.

Anak dan perempuan pemulung perlu suatu perlindungan, agar kebijakan yang dibuat Pemerintah Pusat dan daerah mengakomodasi kebutuhannya, terutama di kantong-kantong kemiskinan sekitar TPST/TPA dan komunitas-komunitas urban poor. Kebijakan tentang percepatan penanganan Covid-19, dengan dasar hukum Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Salah satu pertimbangannya, bahwa penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang bersifat luar biasa dengan ditandai jumlah kasus dan/atau jumlah kematian telah meningkat dan meluas lintas wilayah dan lintas negara dan berdampak pada aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, serta kesejahteraaa masyarakat di Indonesia. Maka dikeluarkan Keputusan Presiden RI No. 11/2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019 (COVID- 19). Peraturan Pemerintah RI No. 21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan.

Presiden Jokowi memberikan dana tambahan APBN 2020 sebesar Rp 405,1 triliun untuk membantu rakyat dalam situasi pandemic Covid-19, dengan rincian untuk bidang kesehatan Rp 75 triliun, bidang perlindungan sosial Rp 110 triliun, Rp 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR (Kredit Usaha Rakyat), dan Rp 150 trilun untuk pemulihan ekonomi nasional.

Sekarang ini pemulung dan warga di sekitar TPST/TPA terancam oleh wabah Covid-19 dan pencemaran lingkungan akibat sampah. Beberapa kasus yang berobat ke klinik kesehatan akibat menderita ISPA, diare, tipus, gigi, sesak nafas, gatal-gatal kulit, Demam Berdarah Dengue (DBD), TBC atau radang paru-paru, dll. Pada pertengahan 2016 pernah terjadi kasus DBD, lebih 20 warga (anak-anak dan dewasa) Kelurahan Sumurbatu meninggal dunia. Ketika memasuki musim pancaroba, pergantian musim kemarau ke musim penghujan banyak warga terserang berbagai penyakit, biasanya yang terbanyak diare atau mencret-mencret.

Penyakit sejenis ini harus cepat mendapat pertolongan, jika tidak pesakit semakin parat dan dapat meninggal dunia. Khususnya anak-anak sebagian besar kerna penyakit flek, gejala TBC, sejenis radang paru-paru. Penyakit tersebut pastinya sangat membahayakan dan mengancam generasi penerus. Kesehatan merupakan kebutuhan esensial dan bagian dari hak asasi manusia (HAM).

Warga di sekitar TPA/TPST sangat riskan dengan serangan penyakit di wilayah Kecamatan Bantargebang. Pada 2017 jumlah penduduknya mencapai 86.800 jiwa, dengan rincian kelurahan Bantargebang sebanyak 31.202 jiwa; Sumurbatu sebanyak 17.472 jiwa; Cikiwul sebanyak 18.846 jiwa; dan Ciketingudik sebanyak 19.280 jiwa.

Bagong Suyoto (2015), Potret Kehidupan Pemulung-Dalam Bayangan Kekuasaan dan Kemiskinan mengungkapkan, bahwa anak-anak dan perempuan paling rentan terhadap pencemaran dan ancaman penyakit. Anak-anak kondisi tubuhnya relatif belum kuat. Juga perempuan, alat-alat reproduksinya rawan terhadap pencemaran, apalagi perempuan sedang hamil. Sehingga mereka ini perlu lingkungan yang baik dan sehat serta asupan makanan empat sehat lima sempurna. Sayangnya, kondisi ekonominya lemah.

Dampak pencemaran lingkungan itu berupa udara, tanah dan air, selanjutnya mempengaruhi kesehatan. Gas yang ditemukan dari TPA sebagian besar terdiri dari ammonia (NH3), karbon dioksida (CO2), karbon monokisida (CO), hidrogen (H2), asam sulfida (H2S), metana (CH4), nitrogen (N2), dan oksida (O2). Dari gas-gas tersebut, kandungan terbanyak adalah ammonia (45 – 60%) dan karbon dioksida (40 – 60%). Metana dan karbon dioksida merupakan produk dari pembusukan anaerobik dari sampah organik. Jika kandungan metana di udara mencapai 5-15%, maka landfill dapat meledak, karena pada kondisi tersebut, jumlah oksigen dalam landfill sangat terbatas.

Sebagian pemulung membawa istri dan anak ke TPA/TPST. Bahkan sanak saudaranya diajak bermukim bersama. Ada juga pemulung lajang, kemudian menikah di sini sesama pendatang atau penduduk lokal. Terjadi proses akulturasi, misal lelaki dari Indramayu kawin dengan wanita asli Sumurbatu, lelaki pendatang asal Lampung menikah dengan perempuan Serang Banten, atau lelaki Madura menikah dengan perempuan asli Ciketingudik, dll.

Foto: Keluarga pemulung membesarkan anak. (BS/KPNas)

Mereka hidup bersama dalam keluarga komunitas pemulung. Hidup dengan anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan dengan nilai kasih sayang. Anak adalah buah hati, kebanggaan dan simbol status keluarga. Anak adalah sambungan nyawa dan penerus orang tua. Orang tua berharap, kelak anak-anak dapat mewujudkan impiannya, tidak ada bedanya dengan keluarga pemulung.

Demi anak, orang tua mempertaruhkan apa yang dimiliki. Jika anak lapar orang tua merasakan lebih lapar. Jika sakit orang tua merasakan lebih dari yang dirasakan anak. Orang tua rela mengorbankan semua, sekalipun nyawanya sendiri. Mereka kesulitan pangan di masa Covid-19.

Ketika masih didalam kandungan, sang ayah merawat dengan semampunya seperti menyediakan makanan bergizi dan zat-zat yang diperlukan istri. Mendekati hari-hari kelahiran anak harus menyiapkan dana untuk paraji (dukun bayi), bidan atau dokter. Setelah anak lahir kesibukan bertambah, harus menyediakan popok, kelambu kecil, bedak, peralatan mandi, bubur bayi, dll.

Sebagian besar perempuan keluarga pemulung melahirkan dengan bantuan paraji atau bidan. Bila mengunakan jasa paraji cukup mengeluarkan uang Rp 150.000 sampai Rp 200.000. Dengan jasa bidan Rp 250.00 sampai Rp 400.000. Tentu akan lebih mahal bila melahirkan di rumah bersalin atau rumah sakit, di atas Rp 1 juta. Oleh karena komunitas pemulung cenderung memakai jasa paraji.

Bagaimana keluarga pemulung membesarkan anak-anaknya? Anak-anak balita pada keluarga pemulung tidak memperoleh perlakukan istimewa. Anak bayi diberi air susu ibu (ASI), buah pisang atau bubur. Setelah menginjak umur beberapa bulan sudah mulai dilatih, dengan diberi makan nasi dan sayur asem, seperti yang dimakan orang tuanya. Juga diberi makan mie instant atau bakso. Kadang-kadang diberi telor dan daging ayam. Entah dari mana asal daging ayam itu? Sejumlah pemulung memperoleh daging ayam dari pembuangan sampah.

Menu makan sangat sederhana yang bisa diberikan anak balita. Artinya makanan yang diberikan pada anak kurang memenuhi standar gizi, protein, dan zat lain yang diperlukan bagi pertumbuhan tubuh dan otak. Sebagian anak-anak pemulung tumbuh dalam gizi buruk. Belum lagi jiwanya terancam oleh lingkungan yang jorok dan tercemar.

Bayi pada umur beberapa bulan dirawat dengan kasih sayang dengan ruang terbatas, makanan terbatas, tempat bermain terbatas. Pada pagi atau siang hari bayi ditaruh pada ayunan agar tidur. Setelah tidur ibunya mencuci, memasak atau mensortir sampah. Jika terbangun digendong sambil mengerjakan tugas sebagai perempuan. Ada juga yang diajak menggibrik plastik kresek di depan gubuk.

Perempuan pemulung dalam membesarkan anak-anak pada lazimnya didasarkan pada kondisi lapangan, pengetahuan dan pengalaman masa lalu. Umumnya pendidikan dan skill sangat rendah, tidak atau hanya lulus sekolah dasar. Kawin dalam usia muda, umur belasan tahun. Secara medis kurang menguntungkan. Bahkan banyak yang dipaksa orang tuanya agar segera menikah setelah lulus SD. Hal ini untuk mengurangi beban atau tanggung jawab orang tua.

Perempuan menjadi pemulung mengikuti suami. Tidak banyak pilihan baginya. Ia dilahirkan keluarga pemulung, bergumul dengan komunitas pemulung dan kawin pun dengan pemulung. Jiwa dan spirit sebagai pemulung amat melekat sebagai warisan. Sepertinya jalan hidupnya menjadi pemulung. Lingkungan pergaulan dan sistem sosial yang berkembang seringkali menjerat orang tetap hidup didalamnya. Inilah yang dipahami sebagai pilihan sempit.

Cara berpikir demikian diwariskan pada anak-anak, sebagai generasi baru, pemulung baru. Juga kemiskinannya. Ada juga yang dapat keluar dari sistem sosial tersebut dari beberapa anak yang dilahirkan dari suatu keluarga pemulung. Karena anak-anaknya disekolahkan hingga SMK/SMU. Lalu mendapat pekerjaaan di perusahaan. Predikat anak itu sudah berubah. Tetapi masih disebut dalam keluarga besar pemulung.

Ada juga anak-anak pemulung yang drop out lantaran tak mampu membayar biaya-biaya tertentu di luar SPP. Tetapi ada yang berhenti sekolah karena disebut ”anak Gembel” dan ditertawai oleh teman-teman sekolahnya. Karena malu dan grogi putus sekolah, lalu ikut orang tuanya mengorek sampah di TPST/TPA. Drop-out dialami pada level SMK/SMU ketika registrasi (terutama swasta) mengeluarkan biaya jutaan rupiah. Mereka tak sanggup, buntutnya putus sekolah.

Anak Masa Bermain

Anak-anak Indonesia ada yang dibesarkan di lingkungan penuh sampah merupakan suatu fakta sejarah tersendiri. Mereka adalah aset bangsa dan negara Indonesia, seperti anak-anak lainnya.

Bagaimana menyelamatakan dan mengarahkan masa depan mereka agar tidak terjebak dalam lingkaran kehidupan orang tuannya? Apakah mereka akan mewarisi label orang tuannya sebagai pemulung, pengais sampah? Ada yang menjuluki si Gembel. Apakah anak-anak pemulung juga disebut Gembel?

Anak-anak usia 5 sampai 12 tahun seharusnya bermain dalam suasana yang riang gembira. Bermain yang memenuhi standar jasmani dan rohani, tentunya ada ruang memadai dan lingkungan yang sehat. Bagaimana kondisi ruang bermain anak-anak pemulung? Satu persoalan tersendiri bagi keluarga pemulung. Anak-anak tidak dapat menikmati ruang main yang nyaman seperti dirasakan anak-anak pada umumnya.

Foto: Anak-anak pemulung bermain di tumpukan sampah di TPA. (BS/KPNas).

Anak-anak pemulung dalam rumah dan lingkungan penuh dengan sampah. Sulit memisahkan dengan pekerjaan orang tuanya. Orang tua mereka mengais sampah di TPST/TPA, kemudian dibawa pulang dan ditumpuk di sekitar gubuk. Lalu istrinya mensortir sampah atau menyobek plastik. Sepanjang hari anak-anak kecil mengikuti ibunya, kecuali lelah dan tidur.

Dunia anak-anak pemulung adalah sampah. Seperti dunia orang tuannya, ya sampah. Tulang dan dagingnya tumbuh besar brekah penghasilan dari sampah. Sampah tak lagi asing bagi anak-anak ini. Memori anak-anak ini melekat dengan dunia sampah.

Kesedihan dan kegembiraan mereka berada dalam sampah. Kata anak-anak kota sampah menjijikan, sebaliknya, anak-anak pemulung melihat sampah mengasyikan. Bagi mereka terbiasa dengan bau busuk sampah, bau busuk leachet, bau busuk gas methan, dan seterusnya.

Anak-anak apa pun situasinya, tidak peduli, apakah ada pertengkaran, harga kebutuhan pokok naik, orang tuanya berantam karena kurang uang belanja, dll. Mereka menuruti isi hatinya untuk bermainan dengan kawan-kawan sebayanya. Masa anak-anak adalah masa bermainan.

Tetapi banyak orang tua pemulung dan kaum miskin yang tidak mempedulikan, malah memenjarakan anak-anak dalam dunia kerja. Banyak anak yang dipaksa bekerja siang malam mengais sampah guna menopang ekonomi keluarga. Masa anak-anak itu telah direnggut orang tua dalam mempertahankan kelangsungan hidup keluarga, yang seharusnya bukan tanggung jawabnya.

Mereka Jatuh Sakit

Kondisi lingkungan dan gubuk yang kumuh, jorok, bacin, sanitasi buruk dan tercemar mengancam kesehatan anak-anak pemulung. Berbagai penyakit menyerang seperti diare, gagal-gagal, alergi kulit, tukak lambung, anemia, infeksi salusan pernafasan atas (ISPA), radang paru-paru/TBC hingga tumor ganas.

Merupakan masalah tersendiri bagi anak-anak dan keluarga pemulung. Tetapi pada umumnya orang tua tidak mampu mengobati penyakit anaknya. Contoh anak yang terserang penyakit burut (alat kelamin membesar/bengkak), tumor atau asma. Bahkan ada diantara mereka yang harus segera dibawa ke rumah sakit terpaksa mengendap di atas kasur kumal berhar-hari hingga berbulan-bulan. Bahkan sampai obatnya dijemput oleh sang penjabut nyawa.

Kemiskinan keluarga pemulung menyebabkan anak-anak yang sakit parah tak segera dibawa ke dokter atau rumah sakit. Pustu dan Puskemas sudah tidak sanggup lagi. Bahkan Rumah Sakit Daerah pun tak sanggup dan merujuk ke RS di Jakarta. Mereka hanya dibelikan obat dari warung. Obat itu hanya menghilangkan rasa sakit sesaat saja.

Foto: Anak-anak pemulung bermain di tumpukan sampah di TPA. (BS/KPNas).

Siapa yang akan menolong mereka sementara biaya perawatan medis dan pengobatan semakin mahal? Keluarga pemulung tidak mendapat asuransi kesehatan meskipun miskin. Pun jauh dari pelayanan kesehatan murah dan gratis.

Padahal pada umumnya kondisi kesehatan orang tua dan anak-anak pemulung sangat parah. Karena mereka hidup di sarang berbagai penyakit. Mereka bekerja di hamparan sampah, hidup di gubuk reot kumuh dengan sanitasi buruk yang dikeliling sampah dan leachet, menggunakan air pH rendah dan tercemar virus e-coli (tinja) serta logam berat.

Sama artinya mereka mempertaruhkan nyawa dengan keadaan yang buruk. Dan yang berlaku hanyalah pasrah, tiada cara yang lebih baik untuk menjaga kesehatan. Kemiskinan dan ketidakberdayaan manusia menyebabkan pilihan hidup semakin sempit.

Jika tidak bisa keluar dari pilihan sempit, juga tidak bisa pasrah begitu saja, maka jalan terpahitnya putus asa atau fustrasi mengakhiri dirinya dengan kematian tragis. (*)

*Penulis: Bagong Suyoto (Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), Dewan Pembina KAWALI Indonesia Lestari)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.