Rabu, 03 Juni 2020

Jahiliyyah: Layaknya Pedang yang Terhunus

Jahiliyyah: Layaknya Pedang yang Terhunus

Bandung, Swamedium.com –- Ahmad Rofiqi menjadi pembicara kuliah SPI Angkatan 6 pekan ke-8 pada Kamis (30/4) lalu. Pengajar di Muhammadiyah Islamic College Singapura itu membawakan materi tentang Masyarakat Jahiliyyah. Dalam kuliah tersebut, ia banyak mengutip kitab Tafsir at-Taḥrīr wa-t-Tanwīr karangan Ibnu ʿĀsyūr. 

“Jahiliyyah itu seperti pedang yang terhunus, berbahaya dan tidak terkontrol; kebalikan dari ḥilm, kelembutan atau kondisi terkontrol, yang diibaratkan pedang yang tersimpan dalam sarungnya,” terang Ahmad.

Ahmad menjelaskan bahwa tindakan jahiliyyah seseorang terjadi karena perilakunya tidak dikendalikan oleh akal, tetapi dikuasai emosi sehingga melahirkan keganasan yang liar. Pandangan ini dianggap menarik oleh para peserta kuliah.

“Saya tertarik dengan makna jahil sebagai ketiadaan kontrol emosional, karena berkonsekuensi pada dimensi penerimaan ilmu itu sendiri yang jarang kita sentuh,” ungkap Imaduddin, salah seorang peserta.

Ahmad juga mendefinisikan arti jahiliyyah dalam kaitannya dengan ketiadaan ilmu. “Ketiadaan ilmu di sini tidak selalu berarti kebodohan, bisa jadi informasi atau pengetahuan yang dimilikinya keliru, parsial, atau malah bertentangan dengan fakta dan kebenaran yang sesungguhnya,” tutur Ahmad.

“Ketiadaan ilmu itulah yang membawa seorang jahil mempunyai kondisi yang tidak terkontrol, yaitu keadaan psikologi yang menolak peribadatan dan ketaatan pada Allah, yang berujung pada sistem yang menolak hukum atau otoritas Allah,” imbuhnya.

Namun, Ahmad mengingatkan agar tidak selalu mengaitkan budaya dan sikap jahiliyyah dengan kekufuran, apalagi terburu-buru memvonisnya sebagai kekafiran.

“Karena itu, harus berhati-hati dalam membaca buku tentang jahiliyyah, definisi dan prakondisinya harus ditentukan secara cermat,” pesannya. Pesan tersebut turut diamini oleh Imaduddin. “PR besarnya justru ada pada perwujudan prakondisi-prakondisi untuk meminimalkan ke-jahil-an seperti itu,” pungkasnya. (M Miftahul Firdaus/jurnalis warga)

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.