Minggu, 09 Agustus 2020

The New Normal

The New Normal

Foto: Ilustrasi. (ist)

Bogor, Swamedium.com — Frasa New Normal membuat saya teringat novel 1984. Yup, sejajar dengan Newspeak. Novel ini berkisah tentang sepak terjang pemerintahan “Saudara Tua” yang memata-matai rakyatnya sendiri untuk memaksa rakyatnya berpikiran mendua (double think) atau terus menerus menerima versi lain dari kebenaran.

Versi lain dari kebenaran dalam demokrasi kita sekarang kurang lebih dengan dimobilisasinya ‘fakta alternatif’ baik oleh pejabat negara, buzzerrp, layaknya komedi ‘prank’ atau penjelasan post truth. Lebih parah lagi buzzerrp ini memata-matai rakyat untuk ditangkap, tentu lewat peraturan aneh semacam UU ITE, buzzerrp mengcopy fasisme negara, bahkan menjadi aparatus negara, bukan main New Normal dalam demokrasi kita enam tahun belakangan.

Pandemi adalah bencana, dan bencana selalu membuka selubung yang kita tidak mengerti sebelumnya. Data kemiskinan, data APBN, data APBD, data infrastruktur kesehatan, data ketahanan pangan, data kerentanan tersingkap. Kita bisa saja menuntut data tersebut ketika pemerintah berkampanye Indonesia Kuat, walaupun kenyataannya pada akhirnya keluarlah frasa New Normal yang diamini banyak pihak.

Salah satu hal gamblang dalam mengagas idenya New Normal adalah fakta baru bahwa masyarakat Indonesia telah mengubah kebiasaanya dari sisi konsumsi, mulai fokus pada kebutuhan bukan pada kesenangan. Terlihat benar bukan struktur Orwellian dipaksakan, padahal masyarakat Indonesia sudah banyak yang menggunakan tabungannya, karena tidak lagi memiliki penghasilan untuk memenuhi asupan pangan bergizi. Mungkin IRT di kompleks rumah saya paham bagaimana emas bisa digadaikan untuk pemenuhan kebutuhan ini. Sama sekali bukan New Normal, ini masa pagebluk dan paceklik panjang.

Dalam New Normal kita dituntut beradaptasi, disuruh melupakan hak warga untuk mendapatkan jaminan keamanan dan kesehatan yang layak. Jaminan penghidupan yang layak. Jaminan keamanan kerja. Jaminan pangan. Jaminan pendidikan. Khusus yang terakhir sudah tiga bulan anak SD dan SMP, mungkin SMA negeri di antero Indonesia tidak mendapatkan pengajaran, karena New Normal membutuhkan infrastruktur dan sarana revolusi teknologi 4.0 yang digadang-gadang merata di Indonesia. Belajar lewat TVRI sudah saya lakukan tahun 1980-an.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.