Minggu, 29 November 2020

Terserah Coronalah

Terserah Coronalah

Foto: Miko Kamal, SH, LL.M, PhD, Legal governance specialist, dosen Univ. Bung Hatta Padang, dan Anggota Dewan Nasional Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI). (ist)

Padang, Swamedium.com — Sudah lama saya puasa jalan kaki. Lebih lama daripada puasa Ramadan. Sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama mulai diberlakukan. Sudah hampir sebulan.

Pada Sabtu 16/5/2020, puasa jalan kaki itu saya lepaskan. Saya mulai lagi jalan kaki. Sore. Bukan pagi seperti biasanya. Rutenya hampir sama. Tapi yang pendek saja. Dari jembatan Siti Nurbaya, ke jalan baru Teluk Bayur – Nipah, terus memutar kekiri ke Bukik Gado-gado. Hanya sekitar 3,5 km saja. Biasanya lebih dari 6 km.

Kegiatan jalan kaki pertama di bulan puasa itu berjalan lancar. Saya menghabiskan waktu lebih kurang 45 menit untuk 3,5 km. Di hari biasa, untuk 6 km memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit. Tidak buruklah.

Yang buruk itu justeru pemandangan di hampir sepanjang perjalanan saya sore itu. Melihatnya, saya serasa tidak sedang berada di negara yang presidennya telah menetapkan negara sedang mengalami bencana nasional pada tanggal 13 April yang lalu.

Pasalnya, masyarakat sepanjang muara sampai ke bukit beraktivitas seperti biasa. Anak-anak asyik bermain kejar-kejaran dan bermain layang-layang di pinggir sungai. Sebagiannya lagi menikmati sore yang cerah dengan bermain air dari atas sampan yang sedang tertambat. Tak satupun diantara mereka yang menutup hidung dan mulut.

Tidak hanya anak-anak. Ibu-ibu, bapak-bapak dan om-om mereka juga begitu. Bercengkrama sesama mereka. Seperti tidak terjadi apa-apa saja. Damai saja dunia bagi mereka. Tidak bermasker. Apalagi menjaga jarak satu sama lainnya. Protokol kesehatan di masa corona yang setiap malam disorak-sorakkan juru bicara korona Achmad Yurianto di layar televisi seperti tidak pernah mampir ke telinga dan mata mereka.

Warga jembatan Siti Nurbaya dan sekitarnya serupa tidak tahu dengan angka-angka fantastik masyarakat yang terinfeksi ‘Virus Wuhan’ yang dari hari ke hari jumlahnya semakin meningkat. Sudah melampaui angka 17.000 secara nasional, lebih dari 400 di Sumbar, dan di atas 250 di Padang (Data 18/5/2020). Angka-angka yang bagi sebagian orang sangat mengkhawatirkan.

Padahal, jembatan Siti Nurbaya dan sekitarnya adalah kawasan urban yang lokasinya berdekatan dengan pusat kota. Menurut Google, jaraknya hanya sekitar 3 km dari Pasar Raya yang merupakan episentrum penyebaran korona.

Baru-baru ini, Presiden Jokowi serupa dapat wangsit. Wangsit untuk melonggarkan PSBB. Masyarakat diimbaunya untuk berdamai dengan corona. Imbauan itu disalurkan melalui kanal youtube. Tertransmisikan dengan baik dan lancar ke kamar-kamar tidur masyarakat se Indonesia melalui –sebagian besar, gadget buatan China.

Presiden nampaknya memang tidak main-main dengan wagsit itu. Beberapa kebijakan direlaksasi. Kebijakan tentang transportasi umum direvisi. Menteri Perhubungan yang sebelumnya telah mengumumkan akan menutup operasional transportasi umum sampai Juni 2020 berubah pikiran. Terhitung sejak 7 Mei, kapal terbang sudah bisa mengudara lagi. Membawa penumpang dengan syarat-syarat tertentu. Salah satunya adalah mereka yang melakukan perjalanan dinas.

Maka, bertebaranlah di media (baik media massa maupun media sosial) foto-foto orang yang sedang ‘berdinas’ yang menumpuk di terminal 2 bandara Soekarno-Hatta. Tanpa mengindahkan aturan menjaga jarak.

Praktik pelonggaran tidak hanya di dunia transportasi udara. Di Padang, calon penerima bantuan dari sosial kementerian sosial diundang untuk datang ke kantor Pos Padang di Jalan Bagindo Azis Chan. Beredar pulalah foto-foto calon penerima bantuan yang sedang berdesak-desakan yang sedang berjuang mendapatkan uang tunai dari pemerintah pusat.

Tidak itu saja. Masjid-masjid juga sudah dibolehkan menyelenggarakan Jumatan. Tidak hanya Jumatan. Sebagian besar masjid sudah mengadakan salat 5 waktu secara berjamaah. Itu banyak berlangsung sejak Majelis Ulama Indonesia sudah kehabisan harapan kepada Pemerintah. Hal itu tergambar di dalam surat MUI Sumbar nomor B.017/ MUI-SB/V/2020 Padang tanggal 12 Mei 2020 yang menghebohkan itu.

Sejak PSBB saya memang agak penurut kepada Pemerintah. Kota Padang tidak pernah saya tinggalkan. Keluar rumah ada, tapi tidak jauh-jauh. Bukik Gado-gado itulah yang terjauh. Akibatnya, saya kurang update dengan sekitarnya.

Sebab itu, tulisan ini mesti saya akhiri dengan tiga jangan-jangan. Yang pertama, jangan-jangan keadaan yang terjadi di sekitaran jembatan Siti Nurbaya juga terjadi di tempat lain.

Kedua, jangan-jangan yang dilakukan oleh masyarakat jembatan Siti Nurbaya dan sekitarnya adalah interpretasi mereka atas imbauan untuk berdamai dengan corona.

Ketiga, jangan-jangan kurenah masyarakat itu merupakan wujud protes atas tidak sejalannya perkataan dengan perbuatan Pemerintah. Dari mulut Presiden keluar ungkapan bahwa PSBB tidak pernah dilonggarkan, tapi faktanya tidak begitu. Lalu, akhirnya masyarakat memilih jalannya sendiri: terserah coronalah. (*)

Padang, 19/5/2020

*Penulis: Miko Kamal

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.