Rabu, 03 Juni 2020

Terserah Coronalah

Terserah Coronalah

Foto: Miko Kamal, SH, LL.M, PhD, Legal governance specialist, dosen Univ. Bung Hatta Padang, dan Anggota Dewan Nasional Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI). (ist)

Padang, Swamedium.com — Sudah lama saya puasa jalan kaki. Lebih lama daripada puasa Ramadan. Sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap pertama mulai diberlakukan. Sudah hampir sebulan.

Pada Sabtu 16/5/2020, puasa jalan kaki itu saya lepaskan. Saya mulai lagi jalan kaki. Sore. Bukan pagi seperti biasanya. Rutenya hampir sama. Tapi yang pendek saja. Dari jembatan Siti Nurbaya, ke jalan baru Teluk Bayur – Nipah, terus memutar kekiri ke Bukik Gado-gado. Hanya sekitar 3,5 km saja. Biasanya lebih dari 6 km.

Kegiatan jalan kaki pertama di bulan puasa itu berjalan lancar. Saya menghabiskan waktu lebih kurang 45 menit untuk 3,5 km. Di hari biasa, untuk 6 km memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit. Tidak buruklah.

Yang buruk itu justeru pemandangan di hampir sepanjang perjalanan saya sore itu. Melihatnya, saya serasa tidak sedang berada di negara yang presidennya telah menetapkan negara sedang mengalami bencana nasional pada tanggal 13 April yang lalu.

Pasalnya, masyarakat sepanjang muara sampai ke bukit beraktivitas seperti biasa. Anak-anak asyik bermain kejar-kejaran dan bermain layang-layang di pinggir sungai. Sebagiannya lagi menikmati sore yang cerah dengan bermain air dari atas sampan yang sedang tertambat. Tak satupun diantara mereka yang menutup hidung dan mulut.

Tidak hanya anak-anak. Ibu-ibu, bapak-bapak dan om-om mereka juga begitu. Bercengkrama sesama mereka. Seperti tidak terjadi apa-apa saja. Damai saja dunia bagi mereka. Tidak bermasker. Apalagi menjaga jarak satu sama lainnya. Protokol kesehatan di masa corona yang setiap malam disorak-sorakkan juru bicara korona Achmad Yurianto di layar televisi seperti tidak pernah mampir ke telinga dan mata mereka.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.