Kamis, 24 September 2020

The New Normal Terserah

The New Normal Terserah

Foto: Dhimam Abror Djuraid. (Sketsa ulang foto oleh Atho’ Khoironi/PWMU.CO)

Surabaya, Swamedium.com — Tepat pada saat umat Islam merayakan Idul Fitri (24/5), harian The New York Times edisi Ahad menampilkan di halaman depan nama-nama 100 ribu korban meninggal akibat Covid 19. 

“An Uncalculable Loss”, sebuah kehilangan yang tak terhitungkan, begitu tulis The New York Times.

Para korban itu bukan sekadar deretan nama-nama atau angka statistik tanpa makna. Daftar itu menunjukkan bahwa kita semua berada pada masa kelam peradaban manusia yang ternyata rapuh dan rentan.

Pada saat yang bersamaan, Jawa Pos di Surabaya terbit dalam edisi khusus lebaran menurunkan seri ke-16 features mengenai almarhum Didi Kempot. Serial itu bersambung sampai ke edisi ke-20, dan masih terlihat akan bersambung lagi.

Kalau benar kata McLuhan (1964) bahwa media adalah cermin masyarakat, the mirror of society, maka inilah kondisi real yang sedang terjadi di sekitar kita. Perdebatan antara yang pro dan kontra terlihat jelas. Ada yang tegas mengatakan belum saatnya pengendoran lockdown. Di sisi lain desakan sangat besar untuk segera move on menapaki the new normal.

Media Dituding Bagian Konspirasi

Banyak yang menuding media memberitakan pandemi Covid 19 secara berlebihan sehingga menyebabkan histeria, ketakutan, masyarakat luas. Media terlampau membesar-besarkan bahaya virus itu. Bahkan, media juga menjadi bagian dari sebuah konspirasi besar.

Akibat dari pemberitaan yang berlebihan itu masyarakat menjadi takut berlebihan, sampai tidak berani keluar rumah dan lebih memilih mengunci diri di rumah. Ketakutan berlebihan itu memberi justifikasi kepada kekuasaan untuk menerapkan kebijakan lockdown dan memberangus kebebasan dan kemerdekaan masyarakat. Begitu tudingannya.

Ujungnya akan terjadi perselingkuhan antara pemodal dan penguasa untuk mengeksploitasi histeria massa ini untuk menangguk keuntungan finansial besar dari berbagai proyek pengadaan peralatan kesehatan, obat-obatan, pengadaan vaksin, dan berbagai proyek berbiaya besar atas nama perang melawan pandemi.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.