Minggu, 29 November 2020

27-28 Mei Matahari di Atas Kakbah, Saatnya Cek Arah Kiblat

27-28 Mei Matahari di Atas Kakbah, Saatnya Cek Arah Kiblat

Jakarta, Swamedium.com — Dalam dua hari ini, Rabu (27/5/2020) dan Kamis (28/5/2020), matahari akan kembali melintas tepat di atas Kakbah, Mekkah, Arab Saudi. Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Agus Salim mengatakan, fenomena tersebut menjadi waktu yang tepat bagi umat Islam mengecek arah kiblat.

“Peristiwa alam ini akan terjadi pada pukul 16.18 WIB atau 17.18 Wita. Saat itu, bayang-bayang benda yang berdiri tegak lurus, di mana saja, akan mengarah lurus ke Kabah,” kata Agus dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Selasa (26/5/2020).

Dia mengatakan fenomena alam itu berdasarkan data astronomi. Peristiwa semacam itu dikenal sebagai Istiwa A’dham atau Rashdul Qiblah yaitu waktu matahari di atas Kakbah dengan bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk arah kiblat.

Momentum itu, lanjut Agus, dapat digunakan bagi umat Islam untuk memverifikasi kembali arah kiblatnya. Caranya dengan menyesuaikan arah kiblat dengan arah bayang-bayang benda pada saat Rashdul Qiblah. Dia mengatakan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses verifikasi arah kiblat.

– Pertama, pastikan benda yang menjadi patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus bisa menggunakan lot/bandul.

– Kedua, permukaan dasar harus betul-betul datar dan rata.

– Ketiga, jam pengukuran harus disesuaikan dengan standar BMKG, RRI atau Telkom.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, matahari berada tepat di atas Kakbah pada 27 dan 28 Mei 2020 merupakan kejadian biasa karena peredaran bumi yang mengelilingi matahari.

“Itu sebetulnya memang kejadian biasa saja karena memang peredaran Bumi mengelilingi Matahari sehingga pada tanggal-tanggal tertentu Matahari akan berada di atas Ka’bah,” kata Kepala Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Hendra Suwarta. 

Ia mengatakan peristiwa Matahari berada tepat di atas Kakbah biasa terjadi dua kali dalam satu tahun, yaitu yang pertama pada 27-28 Mei dan yang kedua pada 15-16 Juli. “Kejadiannya itu kalau yang terdekat adalah besok dan lusa. Jadi setahun (terjadinya) dua kali,” katanya.

Kemudian, dalam setiap peristiwa tersebut, arah kiblat kemungkinan bisa berubah, bisa juga tidak. Oleh karena itu untuk memastikan arah kiblat saat salat, setiap orang bisa melakukan percobaan memang batang kayu atau tiang untuk menentukannya.

“Jadi kalau tiang kita tancapkan, kemudian ada bayangan berkat sinar Matahari. Nah, dari titik bayangan yang di tanah itu sampai ke tiang, itulah arah kiblat kita. Itu yang tepat,” katanya lebih lanjut.

Jika arah kiblat yang ditentukan dari arah bayangan tiang tersebut berbeda dengan arah kiblat di masjid, maka masyarakat, katanya, cukup dengan memiringkan arah sajadah sesuai dengan arah yang ditentukan dari bayangan tersebut.

“Jadi kalau memang ada penyimpangan agak melenceng sedikit, masjidnya, bukan berarti masjidnya harus dirobohkan. Tidak. Hanya sajadah saja dimiringkan dengan kondisi bayangan yang kita lihat besok itu,” katanya.

Namun demikian, jika Matahari pada pukul 16.18 WIB besok tidak terlihat sehingga tidak bisa memunculkan bayangan, maka masyarakat bisa menentukan arah kiblatnya dengan menggunakan aplikasi arah kiblat.

“Kalau di aplikasi menggunakan perhitungan manusia. Hitung-hitungannya itu diketahui dari koordinat di Kabahnya dan koordinat di tempat kita, masjid kita. Nah, arah koordinat itu bisa dihitung antara koordinat itu bisa dihitung dengan rumusan,” kata Hendra.

“Itu aplikasi dari rumusan yang dihitung manusia. Walaupun koreksinya memang tidak terlalu besar, tetapi sudah bisa benar. Hanya saja kalau mau lebih mantap bisa dengan menggunakan alam karena Allah SWT yang tentukan,” katanya.

Sementara itu, Hendra mengatakan peristiwa Matahari di atas Ka’bah tersebut hanya untuk waktu Indonesia bagian barat dan tengah. Sedangkan untuk wilayah Indonesia bagian timur, masyarakat di sana tidak akan bisa melihat peristiwa itu.

“Karena di timur, di Papua sudah malam. Jadi enggak akan mungkin. Tapi di Papua sana juga bisa melihatnya di hari yang lain. Jadi bukan sama dengan barat dan tengah, tapi di sana itu nanti (akan bisa melihat kejadian itu) pada tanggal 16 Januari atau tanggal 28 November,” kata Hendra.

Sumber: Umma

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.