Jumat, 27 November 2020

Pengalaman Seorang Dokter Sembuh dari Covid-19 Tanpa Isolasi

Pengalaman Seorang Dokter Sembuh dari Covid-19 Tanpa Isolasi

Jakarta, Swamedium.com — Dokter In (nama disamarkan) menulis di akun twiternya @incitu tentang pengalamannya saat terinfeksi virus covid-19 dalam bertugas. Dia menceritakan bagaimana keluar sebagai pemenang dari perang melawan virus yang telah merenggut puluhan jiwa tenaga medis.

Berikut pengalamannya.

“Saya cerita kasus saya dulu dg covid 19, baru lanjut ke kiat2nya survive, gak pake masuk segala wisma atau RS.

Saya dokter bedah di RS rujukan covid. Posisi second line justru berpotensi terinfeksi lebih besar, krn awal2 merebaknya covid kita cuma pakai APD masker bedah biasa. Nakes yg frontline sudah pakai APD coverall (saat itu coverall langka, mrk pakai jas hujan). Pasien yg datang ke poli pun tidak terskrining.

Sudah beredar himbauan utk tidak operasi kasus elektif, saya tetap op; krn kasihan pasiennya.

27 Maret pilek, hidung mampet. Di rumah gak punya termometer. Gak tau demam atau nggak.
Direktur RS A (saya kerja di 3 RS) minta saya rapid test.

Rapid tgl 30 Maret: negatif.

Masih kerja terus. Lari pagi rutin. Tiap kali ke RS ukur suhu tidak demam, pakai APD makin lengkap. Tambah face shield ato goggle dan cap.

Tgl 4 April pilek lagi, badan babak belur. Sudah punya termometer; tidak demam. Krn ingus kuning, saya pikir bakterial. Minum levofloxacin.

Saya minta ke Direktur RS B utk diperiksa covid, ditolak. Ktnya saya sehat dan kuat (ya emang bener sih) dan saat itu tes sangat terbatas. Jd diutamakan diperiksa yg bener2 bergejala atau ada kontak ERAT dg penderita covid.

Kmd kejadian deh pasien yg saya terima metong misterius di ruangan rawat RS. Kali ini saya minta periksa swab.

Tgl 9 april saya swab dan rapid di RS B dan swab ke 2 di RS A.

Kedua hasil; rapid: NEGATIF. (sementara swab masih menunggu.red)
Saya kerja terus, operasi terus, lari pagi terus.

Tapi ritualnya jelas:
1. Di RS pakai APD lengkap;
2. Selesai kerja langsung mandi, pulang. Tidak cawe2 ngumpul2 di pantry
3. Alat2 APD tidak disentuh org lain;
4. Tidur di kamar terluar, tidak ke kamar2 lainnya;
5. Minum vitamin, makan yg bener, istirahat;
6. Saat hidung mampet, hirup uap panas spy ingus mencair dan mudah dikeluarkan; 7. Tidak batuk dan buang ingus sembarangan;
8. Rutin cuci tangan;
9. Lari pagi hindari kerumunan dan pakai masker;
10. Minum banyak air putih.

Tanggal 23April (tepat 2mggu kemudian) keluar hasil swab: POSITIF.

Saya ketawa ngakak pas ditelpon dikabari ini. Saya ini masuk OTG. Orang Tanpa Gejala yg berpotensi sangat besar menularkan orang lain. Bagusnya adlh saya tertib berAPD, physical distancing, avoid crowds, cuci tangan.

Perawat2, pasien2 yg selama 2mggu itu operasi, kerja dg saya, Puji Tuhan hingga hari ini tidak ada yg sakit.

Saya minta obat, spt warga wisma Atlet kan dikasih obat; ditolak. Kata dokter Sp.Paru, saya sangat fit, gak perlu obat.

Besoknya saya diminta swab lagi (Protokolnya: 2 minggu dr swab positif dilakukan swab ulang dan 3 hari kemudian swab lagi)

Sejak saya diketahui positif sampai keluar hasil swab 2 kali saya tidak ke RS. Tgl 24 April swab, keluar hasil tgl 28. Negatif. Tgl 27 April swab lagi, Negatif juga.

SEMBUH. Langsung kerja poli lagi, operasi lagi.

Jadi kalau ditanya gimana rasanya kena covid19: ya kaya pilek biasa. Lah selama masa positif 2 minggu itu saya tetap kerja, lari, visit ruangan naik tangga 4lantai (saya menghindari naik lift).
Dg masker seketat itupun saya bisa kerja (operasi terlama 5jam).

Saya bisa santuy krn saya menguasai kaidah2 “new normal” dan tertib melakukannya. Memakai masker dg benar itu utk mencegah kita tertular dan menulari orang lain.

Mknya walaupun saya 2mggu dlm kondisi OTG tetap kerja, tidak ada rekan kerja, pasien atau anggota keluarga saya yg tertular. Jadi tidak perlu terlalu paranoid. Kerjakan bagian yg bisa kita kerjakan, jalani hidup, banyak berdoa.

Berdoa itu penting utk mengurangi stress dan berserah pd Tuhan.

Like it or not, SEMUA AKAN COVID PADA WAKTUNYA. skrg tinggal tumbang atau survive.
Tambahan: selain swab dan rapid, saya juga periksa darah DPL 2 kali (pd covid dpt terjadi limfositopenia) dan rontgen thorax. Semua bagus hasilnya.

Kerja di epicentrum, terinfeksi covid19 but all is well. Praise God.” (*/dr)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.