Jumat, 27 November 2020

Gagal Haji Di Tengah Pandemi

Gagal Haji Di Tengah Pandemi

Jakarta, Swamedium.com — Covid-19 menerjang siapa dan apa saja. Tak terkecuali sektor agama. Msh ingat, Ramadan lalu terasa ‘ambyar’. Tanpa kemeriahan. Di depan mata, 2,5 juta calon haji sdg menanti. Termasuk 230 ribu calhaj asal Indonesia. Akan kah haji thn ini ambyar gegara pandemi?

Saudi pasti putar otak. Segala usaha dikerahkan. Ini hajat orang banyak. Selain jadi sumber devisa. Tapi, apakah siap dengan segala risiko? Secara diplomatis Saudi berkata harus siap selenggarakan haji di berbagai situasi. Tapi keselamatan jiwa prioritas utama. Maka, kata Menhaj Saudi, akhir Maret lalu, “tunggu dulu. Sampai situasi jelas. Jangan buat kontrak2”. Apakah ini lampu kuning, menuju merah?

Kalau sampai thn ini haji ‘ambyar’ itu bukan yg pertama. Setidaknya sdh 40 kali dalam sejarah, sejak mula diwajibkan thn 9 H hingga 1441 H, haji gagal terlaksana. Penyebabnya macam2. Mulai dari krisis ekonomi, politik, instabilitas keamanan hingga pandemi. Yg paling sering disebabkan wabah. Akankah Covid-19 jadi penyebab gagal haji yg ke-41? Wallahua’lam.

Pertama terjadi, dan ini paling sadis, ketika Qaramithah (carmathian), elemen campuran Syiah Ismiliyyah, berkuasa. Persis sehari jelang wukuf thn 317 H, pedang pasukannya menghunus 30 ribu jamaah haji di depan ka’bah. Darah berceceran. Di lantai dan dinding ka’bah. 3000 mayat dicampakkan di sumur zamzam. Hajar Aswad mereka curi dan boyong ke markas mrk di Hajr (Bahrain saat ini). Apa pasalnya? Jamaah haji dianggap penyembah batu. Tradisi Jahiliah. Maka, halal darahnya. Hati2 gaes, model kek gini banyak skrg. Ga maen2, sejak itu, selama 10 thn ga ada satu pun org wukuf di Arafah. Haji ambyar.

Ketika pecah Perang Salib, dan Al-Quds dikuasai mrk thn 492 H, semua jalan menuju Mekkah ga aman. Akibatnya, 5 thn ga ada hajian. Hal sama terjadi thn 1798. Saat Napoleon Bonaparte menginjakkan kaki di Mesir. Yang disebabkan wabah banyak banget. Antara lain thn 1858, 1871 dan 1930. Ada yg berlangsungnya tahunan. Maklum, dulu blm kenal vaksin.

Jadi, kalo lihat data sejarah, boleh dong haji dihentikan. Apalagi syarat haji kan istitho’ah; cukup biaya dan bekal, sehat fisik, dan aman perjalanan. Keselamatan jiwa hrs didahulukan. Shalat Jumat dan jamaah yg jumlahnya puluhan, ratusan atau ribuan saja bisa dihentikan, apalagi kerumunan 2,5 jt org. Di satu waktu dan tempat yg sama. Terlalu riskan. Kalau pun dipaksakan, costnya akan tinggi sekali. Siapa yg mo nanggung? Udah hari gini blm diputuskan. Kapan persiapannya?

Tidak sulit bagi Saudi untuk memutuskan. Negara2 Islam amat sangat memaklumi. Ulama pun sdh siap dengan segudang dalil. Walau sulit bagi pemerintah Indonesia untuk umumkan ini, tapi dgn bantuan ulama, masyarakat akan mengerti. Ulama memang selalu siap siaga jadi ‘pemadam kebakaran’. Setelah api padam dilupakan, itu biasa, hehehe. Semoga Tuhan kasih yang terbaik. (*)

*Penulis: Muchlis Hanafi (warganet)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.